masnun_nOleh: M. Masnun

Di abad 21 ini, membuka internet sudah menjadi bagian dari hidupan seseorang, untuk bekerja, belajar ataupun mencari hiburan. Hampir setiap orang memiliki akun media sosial. Bahkan beberapa diantara mereka miliki lebih dari satu akun. Timeline yang ada di media berjalan begitu cepat. Konten-konten bebas dikunjungi siapapun.

Facebook merupakan situs tersering dikunjugi nomor 4 di Indonesia. Urutan pertama dan kedua ditempati oleh google.com dan google.co.id, selanjutnya diisi oleh youtube.com. Kebebasan dalam mengunggah konten memberikan peluang untuk memunculkan konten-konten yang ‘kurang pantas’ bahkan buruk.

Pemerintah sudah berusaha memblokir situs-situs yang mengandung pornografi, judi, SARA, pishing, dan proxy. Namun tak semua konten di internet bisa terkontrol atau terfilter dengan baik. Di internet pun tersedia cara untuk menghindari filter yang sudah dibuat oleh pemerintah.

Selain itu, sekarang mulai marak pula belajar agama di internet. Memang begitu mudah, tinggal ketik di google dan langsung muncul beberapa jawaban. Bila para ulama’ modern tidak mengimbangi dengan menulis artikel ataupun menjawab masalah yang ada, pastinya banyak orang yang tersesat. Karena sumber-sumber yang ada, banyak yang tak semestinya memberikan fatwa. Seringkali agama malah dijadikan jalan untuk berpolitik. Sering kali di beberapa situs tertentu, ada doktrinasi untuk menjadikan seseorang untuk radikal dan keras. Memberikan suatu bahasan atau masalah yang disisipi doktrin yang menyimpang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam hal ini, berdiam diri bukanlah sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah. Dunia maya terus berjalan bahkan berlari. Sudah saatnya seluruh anggota masyarakat ikut berpartisipasi dalam memperbaiki dunia. Berdakwah bukan hanya tugas para kiai ataupun orang yang bertitel sarjana.

Sudah banyak pesantren yang membuka konsultasi via internet, seperti Tebuireng, Lirboyo, dan Sidogiri. Tinggal meng-update dan menaikkan page rank yang ada. Tujuannya agar di saat orang-orang mencari suatu masalah tertentu, yang muncul adalah website yang punya nilai ke-shahih-an tinggi.

Bagi para penulis dan jurnalis hendaknya men-share ilmu atau pengetahuan mereka. Mengutip dari pengajian atau dawuh para kiai yang ada di pesantrennya, kemudian dibagikan di internet. KH. Salahuddin Wahid sudah sejak lama mempunyai akun twitter dan aktif di dalamnya. Begitu pula Gus Mus, di hari Jum’at beliau memberikan #Tweet Jum’at dan #Fatwa Ahad pada hari Ahad. Kiai Husein Muhammad juga sudah sering memberikan pengajian di facebooknya.

Orang yang punya kelebihan dalam hal visual, diharapkan bisa untuk membuat gambar-gambar ataupun meme motivasi. Kalaupun tidak mempunyai ide untuk diungkapkan, bisa mengambil kata-kata mutiara dari orang-orang terkemuka, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim, Gus Dur, Gus Mus ataupun yang lain.

Bahkan meme ataupun quote bergambar lebih banyak diminati pembaca daripada tulisan artikel. Sentilan-sentilan melalui gambar lebih mudah untuk dicerna dan disebarluaskan. Di Instagram NU Garis Lucu sudah punyafollowers sebanyak 67.9K dan terus bertambah. Bahkan jumlah followers-nya lebih banyak dari nuonline_id. Setiap gambar yang diunggah oleh NU Garis Lucu rata-rata disukai 2000 orang.

Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu an anil Munkar adalah tugas kita bersama. Sudah saatnya semua bergerak dalam menciptakan bangsa yang beriman, sejahtera, harmonis, dan nyaman. Orientasinya lebih ke arah kemanusiaan ataupun untuk mencari ridho Allah. Karena jika diorientasi pada pekerjaan, seringkali akan terasa berat bila tidak ada imbalannya. Ketika sering mengharap imbalan, nilai yang ada akan mudah terkontrol oleh unsur keuasaan ataupun politik. Namun tugas kita hanya berusaha untuk mengingatkan, yang memberikan hidayah semata-mata hanyalah Allah SWT. Semoga AllahSWT memberi petunjuk dan kekuatan bagi kita semua. Wallahu’alam.


#Mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, saat ini aktif di Tebuireng online

SebelumnyaMateri 2 [Posting Video]
BerikutnyaPenemu IK WASA Latih Kader Tebuireng Rakit Alat Penghemat Energi Listrik