Perempuan-perempuan Agung di Sisi Rasulullah Saw

Judul Buku       : 3 Wanita Paling Dikagumi Muhammad

Penulis             : Miftahul Asror Malik, Dian Ningrum Umma Zahrana

Penerbit           : Semesta Hikmah, Yogyakarta

Tahun Terbit     : 2019

Jumlah Hlm      : 222 hlm

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ISBN                : 978-623-70760-2-5

Peresensi          : Lutfi Nur Fadhilah*

Kehidupan Rasulullah tiada lain adalah samudra ilmu yang sudah semestinya kita arungi. Kehidupan yang beliau jalani tak lepas dari peran keluarga dan istri-istrinya. Rasulullah berasal dari keluarga yang mulia. Beliau diutus untuk menjadi panutan umat di seluruh alam. Beliau adalah nabi terakhir hingga akhir zaman. Meskipun beliau adalah seorang laki-laki, namun peran wanita yang ada di belakangnya tak kalah eksis dalam membersamai dakwahnya.

Miftahul Asror dan Dian Ningrum melalui bukunya “3 Wanita Paling Dikagumi Muhammad”, mencoba menyuguhkan pesona wanita-wanita yang teramat istimewa. Mereka adalah Khadijah, Aisyah, dan Fatimah. Dua di antaranya adalah istri-istri yang sangat dikasihinya, sedang Fatimah adalah putri tersayangnya.

Aisyah adalah putri dari khalifah pertama setelah Rasulullah, Abu Bakar as-Shiddiq. Aisyah adalah seorang wanita yang sangat senang terhadap ilmu pengetahuan. Ia juga hafal al-Qur’an. Bahkan dalam banyak kejadian, ia menjadi orang pertama yang mendengar ayat al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah sesaat setelah wahyu diturunkan. Aisyah memiliki pemahaman yang mendalam terhadap al-Qur’an. Kedekatan dan  kebersamaanya dengan Rasulullah menjadikannya dapat menentukan batasan kandungan suatu ayat bahkan menyimpulkan suatu hukum darinya.

Aisyah banyak meriwayatkan hadis-hadis penting yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah secara lebih terperinci. Aisyah adalah wanita yang sabar walau segunung fitnah menimpanya. Aisyah telah menerima cobaan dan fitnah yang keji, namun ia tetap bersabar. Seorang wanita yang difitnah tak setia pada suaminya. Andai ada yang terjatuh, maka bukan hatinya yang melemah, namun hanya air mata yang mengalir lembut dari sudut mata beningnya. Air mata yang merupakan perisai yang tersusun dari perbuatannya yang benar dan simbol dari kesetiaan, keberanian, dan kesabarannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Jibril memberiku apel dari surga, yang aku makan dan berubah menjadi sperma yang aku tempatkan dalam rahim Khadijah. Lalu Khadijah mengandung Fatimah. Oleh karena itu, aku mencium (bau) Surga dari Fatimah” (HR. Jabir bin ‘Abdullah) (hlm. 178)

Adapun Khadijah adalah wanita pertama yang mampu memikat hati Rasulullah hingga menjadi pasangan yang teramat setia. Sedang Aisyah adalah salah satu dari istri Nabi yang ia nikahi setelah wafatnya Khadijah. Istri yang teramat dicintainya. Hingga menyulut cemburu istri-istri yang lainnya. Aisyah adalah istri satu-satunya yang ia nikahi ketika masih gadis, sedang yang lainnya ia nikahi karena janda atau karena memiliki anak yang harus dicukupi kebutuhannya, atau bahkan yang ditinggal mati oleh suaminya yang gugur dalam peperangan.

🤔  Cinta yang Tabah, Perhiasan Keluarga Sakinah

Kisah cinta Khadijah kepada Rasulullah adalah kisah cinta yang tidak ternodai hasrat syahwat yang membunuh akal nurani. Kisah yang menggambarkan kesetiaan seorang wanita yang mendekap nama lelaki yang dicintainya dalam hatinya, menyebutnya dalam setiap hirup napasnya, mendekap dalam setiap alur mimpi malamnya, hingga keduanya duduk dalam pelaminan di dunia dan berlanjut hingga ke surga.

Khadijah adalah wanita yang dijamin rumah di surga. Alangkah elok pekertinya, hingga ia mampu mengantarkan sang suami menyebarkan risalah Allah yang banyak ditentang dan diancam pada masanya. Namun tak goyah sedikitpun prinsipnya. Ia terus mendampinginya hingga ajal menjemputnya.

Khadijah adalah wanita yang pantas dicemburui oleh semua wanita di dunia ini, karena kecantikan paras hatinya, kebaikan budinya, kemuliaan garis nasabnya, kedermawanannya yang seakan-akan tiada batas, kehormatannya dalam masyarakat dan kedudukannya di sisi Rasulullah. Bahkan Aisyah, istri Rasulullah yang lain pun cemburu padanya. (hlm. 68)

Bidadari layaknya bisa digambarkan ada dalam diri Fatimah. Fatimah adalah putri Rasulullah yang tiada duanya di muka bumi. Ia bagaikan bidadari berwujud manusia. Fatimah sejak usia lima tahun telah manjadi piatu, ia telah ditinggal wafat oleh Khadijah. Namun ia memiliki pembawaan yang tenang hingga ia mampu menggantikan peran sang Ibu untuk membantu dalam pekerjaan rumah tangga, dan menjadi pelipur lara ayahnya, Rasulullah Saw.

Fatimah teramat mirip dengan Rasulullah, baik secara fisik maupun pekerti. Dari Fatimah inilah, bersambung keturunan, cucu-cucu Rasulullah dilahirkan dan terus berkembang hingga sekarang. Keturunan yang suci dan mulia, karena rahim Fatimah diciptakan dengan suci sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Fatimah tidak pernah haid dan nifas. Rasulullah pun teramat mencintainya.

Walau kita bukan Khadijah, Aisyah, ataupun Fatimah, namun semoga kita bisa meneladani kesetiaan, kecerdasan, keberanian, kelembutan, kefasihan, serta ketulusan pengabdiannya pada orang-orang yang dicintai. Semua itu tak lain hanya karena mengharap ridha dari Sang Ilahi.


*Mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, Alumni Ponpes Attanwir Talun, Bojonegoro