sumber gambar: twitter.com

Tentang Bagdad

Bagdad (بغداد) adalah ibu kota Irak dan provinsi Bagdad. Bagdad merupakan kota terbesar kedua di Asia Barat Daya setelah Teheran, dengan populasinya pada 2003 diperkirakan mencapai 5.772.000. Terletak pada Sungai Tigris pada 33°20 utara dan 44°26 timur, kota ini dulunya pernah menjadi pusat peradaban Islam.

Asal mula namanya tidak diketahui pasti: ada yang percaya ia berasal dari bahasa Persia untuk “pemberian Tuhan” (“bag” (Tuhan) dan “dad” (pemberian)), sementara yang lainnya yakin bahwa ia berasal dari sebuah kalimat dalam bahasa Aramaik yang berarti “kandang domba.” Sebuah dinding yang melingkar dibangun di sekeliling kota ini sehingga Bagdad dikenal sebagai “Kota Bulat”.

Awal Perkembangan

Dalam jangka waktu satu generasi sejak didirikan, Bagdad telah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan. Beberapa sumber memperkirakan ia hanya memiliki lebih dari sejuta penduduk, meski yang lainnya menyatakan bahwa angka sebenarnya bisa jadi hanya sebagian dari jumlah tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebagian besar penduduknya berasal dari seluruh Iran terutama dari Khorasan. Banyak dari kisah-kisah dalam Seribu Satu Malam berlokasi di Bagdad pada periode ini—yang disebut “Madinat as-Salam” (“Kota Kedamaian”) oleh Shahrazad—dan mengisahkan pemimpinnya yang paling dihormati, Kalifah kelima, Harun al-Rashid. Kisah Seribu Satu Malam, termasuk cerita Sindbad yang termasyhur, melambangkan kehebatan budaya Bagdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui.

Pada abad ke-8 dan 9, Bagdad dianggap sebagai kota terkaya di dunia. Para pedagang Tiongkok, India, dan Afrika Timur bertemu di sini, bertukaran benda-benda kebudayaannya dan melambungkan Bagdad menjadi renaisans intelektual. Rumah sakit dan observatorium dibangun; para penyair dan seniman dibina; dan karya besar Yunani diterjemahkan ke bahasa Arab.

Bagdad adalah salah satu dari kota terbesar dan paling kosmopolitan di dunia dan menjadi rumah bagi umat Muslim, Kristiani, Yahudi, dan penganut paganisme dari seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah.

Kota Bagdad didirikan di tepi barat Tigris di suatu waktu antara tahun 762 dan 767 oleh kekholifahan Abbasiyah yang dipimpin oleh Kalifah al-Mansyur. Kota ini kemungkinan dibangun di bekas sebuah perkampungan Persia. Kota ini menggantikan Ctesiphon, ibu kota Kekaisaran Persia dan Damaskus sebagai ibu kota sebuah kekaisaran Muslim yang mencakup wilayah dari Afrika Utara hingga Persia.

Dalam membangun kota ini, Khalifah mempekerjakan ahli bangunan terdiri dari arsitektur-arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli lukis, ahli pahat, dan lain-lain. Mereka didatangkan dari Syiria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100.000 orang.

Dikitari 3 tembok benteng, kota ini terbagi jadi 4 bagian sama, dengan 4 jalan utama dari istana kholifah ke arah masjid agung dan terus menyebar ke seluruh Iraq. Meliputi kira-kira 2 mil pada tepi timur antara gerbang alun-alun al-Mu’azzam di utara dan alun-alun ash-Shorqui di selatan. Pada zaman modern pun kota kuno Bagdad masih bisa dikenali dalam istana Abbasiyah dari akhir abad ke-12 atau 13, dalam basaar-basaar penuh tembaga dan emas, serta di masjid dan pemandian umum, yang dibangun 4 abad kekuasaan kerajaan Ottoman (1535-1918).

Bentuk melingkar Bagdad tentu saja merupakan bukti bahwa ia mencontoh daripada kota-kota Persia seperti Firouzabad di Persia. Malah kini diketahui bahwa kedua desainer yang disewa al-Mansyur untuk merencanakan kota tersebut adalah Nowbakht, mantan Zoroastrian Persia, dan Mashallah, seorang bekas Yahudi dari Khorasan, Iran.

Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Setelah masa al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebih termasyur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Ma’mun (813-833).

Masa Kejayaan

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat kegiatan intelektual, musik, puisi, kesastraan dan filsafat mulai berkembang. Sinar ilmu pengetahuan tambah bercahaya yang demikian karena negara-negara bagian dari kerajaan Islam raya berlomba-lomba dalam memberi kedudukan terhormat kepada para ulama dan para pujangga.

Adapun zaman keemasan khusus dalam bidang ilmu pengetahuan adalah periode yang sedang kita bicarakan, demikian Jarji Zaldan melukiskan masa daulat Abbasiyah IV, karena dalam masa tersebut berbagai ilmu pengetahuan telah matang, pertumbuhannya telah sempurna dan berbagai kitab yang bermutu telah cukup banyak dikarang terutama ilmu bahasa, sejarah, geografi, adab, dan filsafat.

Pada awal sejarahnya, ilmu-ilmu berkembang dalam bidang qira’ah, tafsir dan hadits dan kemudian menyusul ilmu fiqh. Ilmu-ilmu ini bertambah subur, sesuai dengan evolusi kemajuan masyarakat. Telah diketahui bahwa ilmu fiqh telah matang dan berkembang kaidah-kaidahnya pada masa daulat Abbasiyah II. Dari ijtihad dan semangat riset, maka para ahli pengetahuan, para alim ulama berhasil menemukan berbagai keahlian berupa penemuan keahlian bidang-bidang ilmu pengetahuan.

Khalifah al-Mansur, telah mengadakan penyelidikan terkait keistimewaan pada tempat yang telah dipilih untuk menjadi ibukota kerajaannya. Tentu, ia juga telah melibatkan diri di dalam membuat segala persiapan dan pelaksanaannya.

Banyak para ilmuan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan yang dituntutnya. Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradapan Islam keseluruh dunia. Prestise, supremasi ekonomi, dan aktivis intelektual merupakan tiga keistimewaan kota ini.

Kebesarannya tidak terbatas pada negeri Arab, tetapi meliputi seluruh negeri Islam. Baghdad ketika itu menjadi pusat peradapan dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah ‘mati’ dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah al-Makmum memiliki perpustakaan yang dipenuhui dengan beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu bernama Bait al-Hikmah.

Periode Kemunduran Baghdad

Semua kemegahan, keindahan, dan kehebatan kota Baghdad yang dibangun pertama kali oleh khalifah al-Manshur itu hanyalah tinggal kenangan. Semuanya seolah-olah hanyut dibawah oleh sungai Tigris, setelah kota ini dibumihanguskan oleh tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan tahun 1258 M.

Di luar daerah kekuasaan Mongol berkuasa daulah keturunan Turki. Mereka barkuasa dari perbatasan Siria di sebelah Timur sampai keperbatasan Mesir di sebelah Barat, terdiri daulah Mamluk di Mesir dan Daulah Ustmani di Asia Kecil. Sedangkan keturunan Arab berkuasa di Yaman dan Maghribi.

Pada masa itu Dunia Islam yang dikuasai oleh Jenghis Khan terpecah belah, saling serang menyerang satu sama lain, sehingga tidak ada sebuah kerajaan besar yang menjadi tumpuan harapan umat Islam dan sempat membangun. Hanya ada satu cabang di India yang memiliki kekuasaan yang stabil. Namun sayang harus bersaing dengan umat Hindu sehingga praktis juga tidak sempat membangun.

Sultan-sultan Mamluk di Mesir, walaupun daerahnya tidak mengalami penyerbuan Mongol, tetapi diserbu oleh Salibiyah, ditambah lagi sultan-sultan Mamluk bukan dari satu keturunan sehingga secara praktis daulah Mamluk pun tidak sempat membangun. Dengan demikian masa Mongol ini merupakan masa perpecahan yang sangat parah di dalam sejarah kebudayaan Islam. Semua bangunan kota, termasuk istana tersebut dihancurkan. Pasukan Mongol itu juga meruntuhkan perpustakaan yang merupakan bidang ilmu dan membakar buku-buku yang terdapat didalamnya.

Selain itu, penguasaan Mongol atas daulah Islam hampir memusnahkan unsur Arab dan bahasanya, juga agama Islam. Dengan tindakan pemusnahan, pembakaran, dan pembunuhan selama peperangan maka ratalah kota daerah yang dikuasai. Mereka bunuh penduduknya, mereka rampas hartanya, mereka runtuhkan gedung-gedungnya. Mereka bakar kutubul khanahnya, maka musnahlah perbendaharaan kebudayaannya. Namun suatu hal yang luar biasa bahwa Jenghis Khan yang merunthkan semua itu, diantara keturunannya ada yang bangun menjadi pemelihara dan pembangun kembali agama dan kebudayaan Islam.

Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan Timur Lenk, dan tahun 1508 M oleh tentara oleh tentara kerajaan Safawi. Dan sekarang Kota Baghdad, ibu kota Irak sekarang memang mengambil lokasi yang sama, tetapi ia sama sekali tidak mencerminkan kemajuan kota Baghdad lama.


Penyusun : Ananda Prayogi (Siswa MASS Tebuireng Jombang)

disarikan dari berbagai sumber:

Benson Bobrick, The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad

Tim Riset dan Studi Islam Mesir, al-Mausuah al-Muyassarah, terj. Ensiklopedi Sejara 2013. Islam Jakarta: Pustaka al-Kautsar

http://moslempurnama.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-berdirinya-kota-baghdad.html

http://lathifatuss.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-peradaban-islam-baghdad-kairo.html

SebelumnyaMemahami Nasab, Nama, dan Julukan Nabi Muhammad SAW
BerikutnyaHari Itu, Ibu