batubara
energitoday.com

tebuireng.online-Indonesia berhasil menjadi produsen batubara yang sedang dilirik pasar dunia. Disebutkan sejak sekitar tahun 2000, produksi batubara Indonesia meningkat. Total produksi mencapai 450 ton pada tahun 2012. Sementara tahun 2011, Indonesia mengalahkan Australia sebagai produsen batubara terbesar di dunia.

Sebagian besar batubara Indonesia diekspor dengan pasar terbesar adalah China. Karena tujuannya adalah ekspor, seringkali digaungkan bahwa batubara akan membantu Indonesia meraih lebih banyak keuntungan yang akan berimbas pada kesejahteraan ekonomi.

Namun berdasarkan laporan studi dari Greenpeace Indonesia, telah terungkap bahwa eksploitasi batubara tak punya dampak besar, atau malah dalam jangka panjang merugikan ekonomi.

Penurunan indeks harga batubara internasional, termasuk FOB Kalimantan, menurun sejak tahun 2011. Hal ini tentu saja mempengaruhi pendapatan Indonesia. Alhasil pada tahun 2012, neraca berjalan Indonesia menjadi defisit, hingga Ekspor batubara tak cukup memenuhi kebutuhan pembayaran untuk impor.

Produksi batubara yang melonjak pun meningkatkan nilai tukar, membuat biaya ekspor lebih tinggi sehingga harga kurang bersaing. Dan sisi lainnya, investasi besar pada batubara dimana asalnya berpeluang untuk berkembang, malahan membuat sektor industri manufaktur Indonesia tidak tumbuh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Batubara pun ke depannya tidak akan menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi Indonesia. Hal ini terkait dengan China yang akan mengurangi konsumsi batubara.

Tahun 2013, polusi China disorot dunia. Di Beijing, polusi partikulat kecil berukuran diameter 2,5 mikrometer mencapai 886 mikrogram per meter kubik, 30 kali lebih tinggi dari standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Hal itu mendorong adanya kebijakan untuk mengurangi polusi udara dan pemakaian batubara. China sebaliknya mulai fokus mengembangkan energi terbarukan. Tahun 2013, China menginvestasikan 61 miliar dollar AS untuk pengembangan energi terbarukan itu.

Greenpeace pun menyarankan Indonesia untuk melirik investasi di sektor energy terbarukan. Selain melukai ekonomi Indonesia, batu bara pun memicu pembabatan hutan serta konflik masyarakat adat di berbagai wilayah. Nampak jelas bahwa tambang batubara ini menghancurkan keseimbangan alam, dengan pengrusakan besar-besaran terhadap gunung dan hutan di Indonesia.

Selain itu pula, batubara merupakan penghasil emisi tertinggi. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan untuk menekan emisi sebesar 26% persen akan sulit untuk dicapai. (UL)

Sumber : kompas

SebelumnyaKurangnya pemanfaatan Optimalisasi Air di Indonesia
BerikutnyaMelihat “Sekolah Menulis” di Pesantren Tebuireng