sumber ilustrasi: kompasiana.com

Oleh: Silmi Adawiya*

Jalan raya yang dilalui dalam kehidupan ini tidak selamanya datar. Adakalanya mendaki dan menurun, kadang-kadang bertaburan dengan duri. Adakalanya manusia mendapatkan kenikmatan dan adakalanya ditimpa musibah atau kesengsaraan. Ada saat tertawa dan ada saat menangis, adakalanya menang dan adakalanya kalah. Di saat kalah inilah kadang banyak manusia yang tergoda dan menuruti  hawa nafsunya.

Satu kekuatan jiwa untuk bisa melewati dakian, turunan, dan taburan duri kehidupan adalah sabar. Dimana sabar sering disebut dengan sebuah tangga yang harus dilalui oleh setiap orang yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sabar juga merupakan sebuah titian seseorang yang menginginkan dekat dengan Allah. Iman seseorang pun sangat kuat kaitannya dengan kesabaran. Jika imannya kuat, maka kekuatan sabarnya pun semakin besar dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Jika boleh bertanya, siapakah orang yang paling sabar dalam hidup ini? Tentu jawabannya tidak  akan sama, alias berbeda-beda tergantung siapa yang menjawabnya. Namun dalam kitab Al-Mujalasah wa Jawahirul Ilm disebutkan sebagai berikut:

فمن كان أصبر الناس؟ من كان راية رادا لهواء

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Siapakah orang yang paling sabar? Orang yang akal sehatnya mampu mengalahkan hawa nafsunya.”

Kitab karangan Abu Bakr Ad Dinawari di atas mengungkapkan bahwa sosok yang terbilang paling sabar adalah ia yang berakal sehat, dan dengan kesehatan akalnya ia mampu mengalahkan hawa nafsunya.

Mungkin banyak dari kita  yang berilusi bahwa sesuatu yang bernama hawa nafsu itu dari akal sehat, lantaran bisa puas dengannya. Demikian pula seseorang yang berilusi bahwa was-was (bisikan-bisikan buruk) yang dibuat setan dalam dirinya dan mereka puas berasal  dari akal sehat.

Padahal pada hakikatnya sosok yang seperti  itu telah dihiasi oleh setan sehingga memandang indah keburukan mereka dan merekapun menuruti hawa nafsu tanpa bukti (hujjah syar’iyyah) dari Allah.

Oleh karena itu disebutkan bahwa orang yang paling sabar adalah orang yang bisa mengalahkan hawa nafsu dengan akal sehatnya. Sebab akal sehatnya bisa tidak tergoyahkan oleh bujukan dan hiasan setan, ia menyadari bahwa yang demikian datangnya bukan dari Allah. Melainkan hanya hal yang diindahkan oleh setan. Sebagaimana peringatan-Nya dalam QS Muhammad ayat 14:

أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?”

*Alumnus Unhasy dan Pesantren Walisongo Jombang.

SebelumnyaBosan di Zona Nyaman, Teladani KH. Hasyim Asy’ari
BerikutnyaKeutamaan dan Amaliyah Dzulhijjah