Ngabuburit di Sore Hari Ramadan

672
Sumber gambar: http://islamidia.com/ini-dia-6-aktivitas-ngabuburit-yang-sehat/

Oleh: Silmi Adawiya*

Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Burit yang bermakna sore yang menjelang malam. Menurut kamus bahasa Sunda, ngabuburit adalah aktivitas atau menghabiskan waktu sore menjelang malam sehingga waktu tidak terasa sudah sampai pada malam hari. Pada awalnya, istilah ngabuburit di Sunda digunakan untuk anak-anak yang masih belajar berpuasa agar tidak merasa lapar dan bosan menunggu puasa, sehingga diberikanlah aktivitas untuk mengalihkan lapar dan haus mereka.

Seiring berjalannya waktu, ngabuburit kian menjadi tren. Tidak mengenal tempat dan umur. Semua kalangan menyukai ngabuburit. Bahkan tidak lengkap rasanya kalau belum mengatur jadwal ngabuburit bersama keluarga atau teman di bulan Ramadan, dan yang pasti dilanjutkan dengan berdoa dan berbuka bersama.

Secara fiqhiyah sepanjang ngabuburit pengertiannya adalah sebagaimana disebutkan di atas, hukumnya boleh (jawaz, mubah). Tetapi status hukum boleh akan berubah sesuai dengan kondisinya. Ngabuburit dengan kajian Islam kontemporer berbeda hukum dengan ngabuburit dengan jalan ke mall dengan sang pacar.

Waktu luang adalah salah satu kenikmatan yang bisa jadi mencelakakan. Karenanya menunggu waktu buka puasa dengan ngabuburit tentunya perlu diperhatikan. Ngabuburit bisa menjadi suatu yang bermanfaat namun bisa juga membawakan kesia-siaan. Untuk itu, penggunaan waktu dalam ajaran Islam sangat penting untuk dikelola, diperhatikan, dan tidak disia-siakan termasuk dalam ngabuburit. Waktu ngabuburit perlu diperhatikan agar memiliki nilai yang berharga. Sebagaimana hadis Nabi:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.”

Di masyarakat hari ini sering kali orang-orang melaksanakan buka puasa bersama dan waktu menunggunya digunakan untuk hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul di sebuah kafe, bergibah atau gosip, dan pembicaraan yang bisa jadi sangat jauh dari bermakna dan memiliki hikmah. Atau bisa jadi jalan-jalan di mall, tempat-tempat permbelanjaan atau hanya sekadar tidur panjang yang tidak berhenti-henti saat di rumah.

🤔  Islam di Pegunungan Himalaya

Padahal dengan jelas Allah memaparkan bahwa manusia yang beriman dan beramal saleh tidak dalam kerugian. Dalam QS Al ‘Ashr disebutkan:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Alangkah lebih baiknya jika mengisi ngabuburit dengan kegiatan yang bermafaedah. Misalnya dengan membagi makanan untuk musafir di jalan atau hanya dengan diskusi ilmiah yang didesain dengan sebaik mungkin. Justru bisa menjadi sunah, jika ngabuburit diisi dengan tadarus bersama atau dengan kajian keagamaan lainnya.

Bulan Ramadan adalah bulan produktif. Banyak kesempatan langka untuk menuai pahala yang berlipat ganda, ampunan, dan rahmat Allah yang tiada duanya. Karena jika memang masih memiliki waktu senggang dan hendak ngabuburit bersama keluarga atau temannya, maka ngabuburitlah dengan hal-hal positif.


*Alumnus Unhasy Tebuireng dan Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Diwek Jombang, kini menempuh S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.