Sumber foto: http://indowarta.com/hiburan/66192/keistimewaan-malam-nuzulul-quran-hari-diturunkannya-kitab-paling-sempurna/

Oleh: Silmi Adawiya*

Al Quran adalah mukjizat terbesar yang diberikan Allah Taala kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 14 abad yang silam. Turunnya wahyu pertama merupakan peristiwa yang bersejarah dan fenomenal dalam penyebaran ajaran Islam oleh Muhammad SAW kepada seluruh alam. Peristiwa ini merupakan tonggak kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam penyebaran ajaran Islam. Ketika pada masa itu, kondisi masyarakat suku Qurais benar-benar dalam keadaan kejahiliyahan.

Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut Berbagai Madzab kita telah mengetahui bahwa Al Quran diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al Quran kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW. Adapun mutiara hikmah Nuzulul Quran adalah sebagai berikut:

  1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat

Dakwah Rasulullah pada era Makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu. Di era Madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al Quran turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.

  1. Sebagai tantangan dan mukjizat

Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin. Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong oleh Allah dengan jawaban langsung dari-Nya melalui wahyu yang turun.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, Al Quran juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al Quran. Walaupun Al Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al Quran yang tak tertandingi oleh siapapun.

  1. Mempermudah dalam menghafal dan memahami

Dengan turunnya Al Quran secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.

  1. Relevan dengan penetapan hukum dan aplikasinya

Sayyid Quthb mengatakan bahwa para sahabat adalah generasi yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Al Quran, karena dijuluki dengan Jailul Qur’ani Farid (generasi qur’ani yang unik). Di antara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al Quran, yaitu karena Al Quran turun secara bertahap.

Perubahan terhadap kebiasaan atau budaya yang mengakar di masyarakat Arab pun dilakukan melalui pentahapan hukum yang memungkinkan dilakukan karena turunnya Al Quran secara berangsur-angsur ini. Misalnya dalam penetapan hukum khamr. Al Quran tidak langsung mengharamkannya secara mutlak, tetapi melalui pentahapan. Pertama, Al Quran menyebut mudharatnya lebih besar dari manfaatnya (QS. 2 : 219). Kedua, Al Quran melarang orang yang mabuk karena khamr dari shalat (QS. 4 : 43). Yang ketiga baru dharamkan secara tegas (QS. 5 : 90-91)

  1. Memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah benar dari Allah

Ketika Al Quran turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al Quran benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji

Al Quran memanglah petunjuk dan pembeda antara haq dan batil bagi manusia. Maka amatlah harus bagi muslim menjadikanya sebagai pedoman hidup dalam melaksanakan segala hajat hidup. Semoga kita dijadikan Allah hamba-hambaNya yang selalu bersama Al Quran. Amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam bisshawab.


*Mahasiswi Pascasarjana UIN Syahid Jakarta dan alumnus Unhasy Tebuireng

SebelumnyaSebelum Pulang, Santri Baca Tahlil dan Pamitan
BerikutnyaKH. Kamuli Khudlori: Mengaji Itu Ibarat Bercermin