Muqoddasi Thuwa, Tempat Pengukuhan Kerasulan Nabi Musa as.

593
Sumber foto: id.wikipedia.org.

Lembah yang suci itu diyakini terletak di Bukit Zaitun di Palestina, bukan di Sinai di Mesir.

Nabi Musa as merupakan salah seorang Rasul Allah SWT yang memiliki sejumlah keistimewaan (mukjizat). Nabi Musa diberikan mukjizat berupa kitab Taurat, tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular, tangannya yang bercahaya, dan bisa berbicara langsung dengan Allah. Karena itulah, Nabi Musa mendapat gelar kalamullah. Selain itu, Nabi Musa juga merupakan salah satu dari lima nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW).

Menurut sejumlah riwayat, Nabi Musa hidup sekitar tahun 1527-1407 SM. Lihat keterangan lengkapnya dalam kitab “Athlas Tarikh al Anbiya wa ar Rasuul (Atlas Sejarah Nabi dan Rasul)” karya Sami bin Abdullah al Maghluts. Penjelasan serupa juga dikemukakan Harun Yahya dalam bukunya Jejak Bangsa-bangsa Terdahulu.

Lalu, kapankah Nabi Musa diutus oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul? Menurut keterangan Sami al Maghluts, Nabi Musa diutus oleh Allah SWT menjadi nabi dan rasul sekitar tahun 1450 SM. Adapun pengukuhan kenabian dn kerasulannya saat beliau berangkat dari Madyan menuju Mesir. Sedangkan lokasinya, dalam Al Quran disebutkan berada di suatu tempat yang diberkahi dan disucikan bernama Thuwa (Muqaddasi Thuwa).

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (١١) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (١٢) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (١٣) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (١٤

Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil, “Hai Musa, Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha; 20: 11-14)

Keterangan serupa juga terdapat dalam surah an Nazi’at 79 ayat 16:

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci yaitu lembah Thuwa. (QS. an Nazi’at: 16).

Tujuan pengukuhan kenabian dan kerasulan Nabi Musa as ini, agar beliau ssegera menyeru  Firaun untuk menyembah dan beriman kepada Allah, serta memohon ampun atas sikapnya yang sombong dan angkuh, karena mengaku dirinya sebagi Tuhan.

Awaalnya, setelah melaksanakan kewajiban selama lebih kurang 10 tahun, sebagai seorang menantu kepada mertuanya (Nabi Syuaib as) untuk membayar mahar atas pernikahan beliau dengan salah seorang putri Nabi Syuaib, Nabi Musa berniat membawa keluarganya ke Mesir (QS Al Qashas 28 : 23-28) dari daerah Madyan yang berada di sebelah barat teluk Aqabah di Yordania.

Namun, pada suatu malam, di tengah perjalanan dengan cuaca yang sangat dingin, Nabi Musa tersesat. Sedangkan beliau tidak memiliki secercah cahaya atau lampu sebagai penerang. Tiba-tiba, ia melihat suatu cahaya dari balik sebuah bukit. Maka beliau memerintahkan istri beliau untuk menunggu sementara di tempat mereka berteduh, dan Nabi Musa segera mencari tahu asal atau sumber cahaya itu. Nabi Musa mengira, cahaya itu adalah api.

 فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الأجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ

Ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” (QS. al Qashash 28 :29)

Ketika sampai di tempat sumber cahaya yang beliau sangka api tersebut, Nabi Musa melihat sinar yang menyala-nyala dari sebuah pohon hijau dan berduri. Menurut Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah Menurut Pandangan al Quran, pohon itu, muncul dari dasar bukit sebelah barat dari sebelah kanan tempatnya berdiri. Di tempat ini pula Rasul SAW berdiri, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Qashash 28 : 44.

  Puasa dan Ibadah Sosial

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ إِذْ قَضَيْنَا إِلَى مُوسَى الأمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepaada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. (QS. al Qashash: 44)”

Cahaya itu berasal dari Dzat Allah SWT. Allah menamakan tempat itu dengan nama Thuwa, yaitu suatu tempat yang diberkahi. Allah berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.” (QS Thaahaa 20 : 14). Lihat pula dalam surah al Qashash 28: 30.

Karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membuka sandal sebagai bentuk penghormtan, pengangungan, dan kesopanan terhadap tempat yang dimuliakan dan diberkahi itu. “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa” QS Thaahaa 20: 12.

Lembah Thuwa itu adalah tempat Musa mencari sumber cahaya. Di situlah Allah bercakap-cakap dengannya, setelah menyelesaikan tugasnya sewaktu di Madyan saat mengembalakan kambing milik Nabi Syuaib, untuk menuju Mesir.

Apakah makna Thur (bukit) yang dimaksud dalam ayat 29 surah Al Qashash 28, al A’raf 7:128, Maryam 19: 52? Apakah ia hanya bermakna sebagai bukit saja? Lalu bagaimana dengan surah at-Tin 95: 2, tentang sumpah Allah SWT atas Thursina (Bukit Sinai)? Lalu apakah makna lembah atau tempat yang suci dalam surah Al Qashash 28: 29 dn Thaahaa 20: 12?

Lalu, apakah tempat Nabi Musa bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhan-nya itu jika dibandingkan saat menerima 10 perintah Allah adalah sama? Ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Di antaranya, ada yang menyebutkan keduanya sama, dan ada pula yang menyatakan berbeda.

Berdasarkan keterangan berbagai riwayat dan pendapat sejumlah ahli tafsir, kedua tempat itu, yakni antara Thuwa (tempat pengukuhan kerasulan Nabi Musa) dan saat Musa menerima 10 perintah Allah (10 Commandments of Moses) untuk kaumnya Bani Israil, adalah tempat yang sama.

Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Sayyid Quthub (Fi Dhilal al-Quran), Sayyid Abu Bakar Jabir al Jazairi (Tafsir al-Aisir), serta Syauqi Abu Khalil (Athlas Al-Quran), dalam menafsirkan surah Al-Qashash [28] ayat 29 dan Thaha [20]: 12.

Namun, Menurut Sami al Maghluts, tempat kedua peristiwa itu berbeda lokasi. Pengukuhan kenabihan Nabi Musa, menurutnya terjadi di lembah suci Thuwa , yaitu bukit az Zaitun di Baitul Maqdis. Sebab, disinilah salah satu tempat yang diberkahi dan disucikan oleh Allah. Ia menegaskan, lembah suci yang dimaksud dalam ayat itu bukan di Sinai, Mesir, melainkan di Baitul Maqdis, Palestina, yaitu Bukit az Zaitun. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Muhammad bin Abdul Mun’im al-Himyari dalam al Raudh al Mi’thar fi Khabari al Aqthar, Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadis, dan ar Razi dalam tafsirnya.

Sami al Maghluts membuktikan itu dengan penafsiran atas makna surah at Tin [92] ayat 1-3, “Wattiini waz zaituun, wa thuuri siniin, wa haadzal baladil amin” (Demi buah tin dan buah zaitun, dan demi lembah yang suci, dan demi negeri yang diberkahi). Berdasarkan ayat ini, al Maghluts yakin bahwa sesungguhnya tempat itu adalah Baitul Maqdis, Palestina.

Karena, Sinai yang berada di Mesir merupaka daerah tandus dan tidak ada zaitun atau tin. Sedangkan di Palestina kedua buah itu melimpah. Selain itu, lembah yang suci juga terdapat di Palestina, bukan bukit Sinai. Kalau bukit Sinai, pasti banyak orang yang akan tinggal di tempat tersebut dan tidak akan mau pindah, karena berkah. Faktanya, malah di Bukit az Zaitun yang dipadati orang, sebab dianggap berkah dan suci. Justru di Sinai sepi dan bukan daerah padat penduduk. Selain karena tandus, juga tidak dianggap daerah yang disucikan. Di sana malah ada patung anak lembu yang dipahat. Wallahu a’lam bisshawab.


*Disarikan dari berbagai sumber