Oleh : Nur Ifana*

Bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan ini selalu diselimuti dengan berbagai macam amal keshalihan. Al-Qur’an terus didengungkan dan dilantunkan oleh ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak, bahkan kakek-kakek lanjut usia ikut mengumandangkan ayat-ayat Allah itu dengan logat mereka yang khas. Masjid, mushollah, dan rumah-rumah dipenuhi dengan keberkahan al-Qur’an dengan mengadakan tadarus bersama.

Suara lantunan ayat al-Qur’an yang menggema di setiap mushola dan masjid selalu mewarnai malam- malam Ramadhan. Bagaimana tidak? Di bulan ini, setiap insan dari berbagai kalangan yang dipenuhi dengan keimanan selalu  berlomba–lomba untuk membaca, memahami dan menghatamkan kitab sucinya. Mereka selalu mentargetkan diri untuk khatam sebanyak – banyaknya dalam bulan ini, minimal mewarnai hidup dengan kitab suci. Anehnya Mengapa hanya di bulan Ramadhan saja tadarusan al qur’an booming di semua kalangan? Akankah mereka memanfaatkan momentum yang penuh keberkahan?

Ada beberapa alasan tertentu yang bisa dianalisa mengapa tadarusan al qur’an booming di bulan Ramadhan. Seperti yang kita tahu bahwa setiap amal kebaikan di bulan ramadhan akan dilipatgandakan. Hal ini sesuai dengan hadis rasul yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menyatakan bahwa setiap amal kebaikan perbuatan anak adam akan di lipatgandakan menjadi 10 kali sampai 700 kali. Sedangkan kitapun juga tahu bahwa setiap huruf al-Qur’an yang terlantun dari kedua bibir mengandung satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kali. bagaimana jika hal ini dikalkulasikan dalam hitungan matematika. bukankah semuanya akan penuh dengan pahala kebaikan?

Selain untuk memanfaatkan momentum yang penuh keberkahan, mereka juga menyambut hari ulang tahun al-Qur’an dengan memperbanyak dalam membacanya. karena kita tahu bahwa dalam bulan suci ini Mu’zizat Rasulullah Muhammad Saw. itu diturunkan. Allah SWT berfirman dalam kalam-Nya :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرأن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Hal ini menunjukan secara jelas bahwa bulan ramadhan yang merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an ini menjadi ajang berlomba – lombanya kaum mukminin untuk bisa menghatamkanya berkali – kali. Harapannya untuk mendapatkan al-Huda, kemampuan mengunduh petunjuk dan al-Furqan, kemampuan dalam membedakan hak dan batil. Kedua kemampuan itu adalah perangkat lunak yang disediakan Allah bagi hambanya yang ingin bersahabat dengan al-Qur’an, minimal hanya sering membacanya, terlebih menghafalnya, bahkan memahami isinya dan mengamalkannya.

Apalagi dalam dunia pesantren, yang sejatinya al-Qur’an merupakan teman sejati dan teman yang wajib menempel di hati para santri. Suasana tadarusan al-Qur’an pastilah berbeda di kala ramadhan tiba. Pagi, siang dan malam hampir setiap detik dan menit setiap santri tak pernah lepas dari kitab suci. Di setiap sudut ruangan pastilah hanya lantunan kalam suci yang menyelimuti atmosfer penjara suci. Berharap al-Quran selalu menjadi teman dalam langkah hidup kita dan menjadi penolong kita dikala hari ahir tiba. Semoga kita termasuk insan  qur’ani.  

*Penulis adalah Mahasiswi Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng

SebelumnyaMendadak “Islami”
BerikutnyaMenengok Tradisi Ramadhan di Maroko