Oleh: KH. Irfan Yusuf*

KH. Hasyim adalah sosok yang sangat cinta tanah air. Buktinya, saat kedatangan Belanda, beliau meminta putranya Yusuf Hasyim untuk diajari menembak, entah mungkin saat itu beliau sedang geram. Salah satu contoh tersebut menjadi bukti bahwa sangat pantas jika orang Islam dianggap memiliki andil besar terhadap kelangsungan bangsa kita.

Sekarang tugas kita adalah meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Miris memang ketika kita melihat kondisi bangsa kita. Kekayaan yang begitu melimpah tidak dipegang oleh penduduk Indonesia.

Untuk itu harusnya kita berpikir out of the box. Jika semuanya berjalan ke Selatan, kita harus mengambil arah yang lain. Jika kita mampu berpikir begitu, maka karya kita, pekerjaan kita, usaha kita akan maksimal.

Kemudian, pahami perspektif orang lain, keterbukaan terhadap perbedaan, berani ambil risiko. Sebuah pepatah mengatakan, “jagalah waktu mudamu, sebelum tuamu. Jagalah sehatmu, sebelum sakitmu. Jagalah luangmu, sebelum sibukmu. Jagalah kayamu, sebelum miskinmu.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kaya di sini dalam artian merasa cukup. Mengapa kita harus menjaga hal-hal itu? Karena saat ini muncul tuhan-tuhan baru. Handphone adalah contohnya. Rata-rata zaman sekarang orang tidak bisa lepas dari handphone

Untuk meraih kesuksesan dalam hidup, paling penting, kita menemukan passion kita. Kalau mengajar itu sebuah passion, maka kuatkan passion itu.

Dulu ada santri yang suka musik, sekarang jualan alat musik. Kita sering mendengar cerita bapaknya dokter, ibunya dokter anaknya tidak punya passion di bidang itu. Ia memilih bidang kedokteran karena sungkan dll, akhirnya tidak maksimal.

Kemudian pengendalian diri, sebab dengan hal ini, kita akan memiliki tenggang rasa yang tinggi. Lalu perjuangkan integritas, jujur dan tanggung jawab. Ketika sudah mampu memegang itu, kita akan mendapat kepercayaan.

Jangan takut pada kesulitan, karena setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Lalu, kuasai beberapa keahlian, minimal dua keahlian. Banyaklah membaca dan sharing.

Saya ingat KH. Salahudin Wahid, pada saat awal mengasuh Tebuireng mencanangkan “gemar membaca untuk santri”. Jika itu bisa jalan maka akan ada wawasan luas.

Saya pernah belajar di Inggris, lalu saya masuk sekolah SMA. Kebetulan  pelajaran sastra. Mereka diwajibkan membaca buku tentang Romeo and Juliet. Lalu 2 jam diskusi.

Tentu ada hal yang tidak bisa kita lupakan di atas apapun, yaitu menguatkan hubungan kita dengan Allah. Shalatlah malam (tahajud). Kemudian arahkan pikiran kita pada tujuan yang kita miliki.

Dulu saya punya piutang, kemudian shalat malam dan saya sugesti diri saya agar bisa nyaur. Akhirnya ya selesai, bisa mengembalikan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengambil hikmah dalam setiap kehidupan, dan semoga Allah selalu meridai kita. Aamiin…

Ditranskip oleh: Yuniar Indra

SebelumnyaRayakan 2 Hari Istimewa, Santri Diingatkan Soal Ini
BerikutnyaKemerdekaan dan Tahun Baru Hijriyah, Berharap Isyarat Surga