Meraih (kembali) Khitah Indonesia dengan Toleransi

620
sumber gambar: Inspirasi Masyarakat Kepri – Batamtoday.com

Oleh: Luluk*

Pemuda klimis bernama Arjuna itu tertegun sesaat mendengar gemuruh dari tanahnya yang dipijak. Dia sangka Dajjal akhir zaman seperti kabar agung dalam lembar-lembar kitab suci itu telah sampai pada waktu munculnya. Namun sangkaan itu pudar seketika saat gemuruh itu berubah menjadi isak tangis tak terbendung, sampai-sampai mata air mengucur deras dari bawah kakinya. Tak mungkinlah Dajjal muncul dengan suara isak tangis penuh sedu-sedan begitu.

Dalam cerita yang diketahuinya, Dajjal tak punya rasa belas kasih dan kelembutan hati. Sangat berlawanan dengan sedu-sedan yang didengarnya yang serupa tangis melodrama Romeo-Juliet yang terpisah, begitu menyayat. Arjuna duga, itu adalah air mata yang berasal dari suara gemuruh dari tanah yang lagi dipijaknya. Memang Arjuna sangat terkejut dan pias sangat wajahnya, namun rasa penasaran yang mengusiknya membuat pita suaranya tak tahan untuk tak mengucapkan sebuah kata untuk bertanya.

“Siapa engkau gerangan?” tanyanya disela isak suara gemuruh di bawah kakinya. Mendengar suara Arjuna, si suara misterius itu pun terdiam sesaat, seperti mengambil napas untuk menjawab tanya sang Arjuna.

“Aku tanah airmu. Indonesia,” suara itu menjawab tanya Arjuna dengan sisa suara seraknya.

“Apalah itu yang telah membuatmu bersedih hati? Sampai-sampai gemuruh isakmu terdengar di sekujur tubuh bumi, wahai Indonesiaku?” Arjuna tak mengerti, karna dia rasa semuanya berjalan dengan baik. Hidupnya nyaman, makannya enak, tidur pun nyenyak.

Suara yang ternyata berasal dari tanah Indonesia itu menarik napas panjang.

“Aku banyak tak mengerti, mereka bilang aku adalah Zamrud khatulistiwa. Sampai-sampai ada yang bilang bahwa aku adalah “Surga dunia terakhir”. Mereka membuat banyak gagasan dan undang-undang yang katanya ideal, tapi tak satu pun dapat memberiku bukti dan penjelasan saat salah satu anak kandungku diperlakukan secara tidak adil dan begitu terdiskriminasi. Mereka yang secara lantang merumuskan kebhinnekaan, nyatanya menelan air ludahnya sendiri,” Indonesia memberi jeda sejenak untuk melanjutkan ucapannya. Sedang Arjuna masih bergeming di tempatnya, berdiri sejak tadi.

“Apa kau tau anak muda? bahwa anak kandungku berupa-rupa. Aku kaya bahasa, kaya budaya. Memiliki berbagai ras dan agama. Sebab itu, Bapakmu Soekarno yang bijaksana beserta seluruh karib dan pahlawannya merumuskan Undang-Undang Dasar berupa pancasila dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti, meski berupa-rupa tetaplah satu jua. Oleh karenanya, harus sedialah mereka untuk saling memikul walau tak suka, harus memberi tempat walau tak sependapat[1]. Relalah mereka menerima saudaranya yang berbeda sebagaimana yang telah ditutur dalam berbagai kitab suci mereka untuk saling menghargai, saling mengerti, bertenggang rasa dan juga bekerjasama.”

ILUSI DAN TOLERANSI

Tak tahu mau berbuat apa, Arjuna hanya mendengar tutur kisah Indonesia. Dia tak tahu apa-apa. Barangkali selama ini dia terlalu lama tidur dan tak menonton berita Liputan 6 pagi tentang berbagai bentrok yang terjadi di negaranya selama ini. Kehidupannya yang berlimpah karunia membuatnya lalai memberi perhatian pada negaranya. Duduk di bangku pelajar pun hanya sekadar formalitas belaka. Sementara Indonesia masih melanjutkan ceritanya, begini katanya:

“Namun begitu anak muda, Undang-undang tinggallah undang-undang, Idealisme tinggallah Idealisme. Semboyan tinggallah sekadar kata tanpa makna. Barangkali karena tak kuat menanggung dampak dari globalisasi atau pun dari modernisasi, sehingga sebagian dari anak-anakku terlucuti identitasnya, terkikis integritasnya, dan kehilangan kepercayaan dirinya,” Ia menghela nafas sambil lalu melanjutkan ceritanya.

“Ditambah lagi deraan carut-marut politik yang bermakmum pada imam Hobbesian juga yang dengan setianya anak-anakku bermakmum pada si Bush sebagai bapak Fundamentalisme, sehingga di antara mereka ada yang merasa teralienasi, merasa tak berdaya, merasa terdiskriminasi, dan diserang rasa cemburu yang luar biasa. Setelah itu, kau bisa tebak sendiri adegan apa yang seharusnya terjadi. Dalam tataran kehidupan yang mereka anggap mengancam eksistensinya, akhirnya kaum yang merasa terpinggirkan mempertentangkan perbedaan identitas antara yang kuat dan yang lemah. Agar kelak mereka bisa buktikan siapa yang “menang” dan siapa yang telah “kalah”,”[2] imbuhnya.

Ia masih terus melanjutkan ceritanya, “Padahal tentu saja mereka dari rahim yang sedarah. Saat itulah kaum-kaum mereka mulai mencari simbol-simbol peneguh identitas mereka agar tampak paling rupawan di antara yang lainnya. Dalam konteks semacam itulah, agama adalah sasaran empuk serta korban yang dilucuti substansinya. Agama, etnis, ras, suku adalah unsur yang paling mudah dan aman untuk berlindung mengamankan diri serta mengembalikan semangat dan persatuan kelompok tertentu. Pada saat yang sama, mereka menggunakan dalih unsur-unsur di atas untuk memerangi kelompok yang tak sama, agama yang berbeda, ras yang tak serupa yang dianggap menjadi ancaman serius bagi mereka.”[3]

“Renungkanlah anak muda, bukankah di antara mereka telah terjadi kontestasi yang berdasar pada antagonisme pribadi?. Mereka menjadi begitu etnosentris. Pemuda sosiolog pengikut madzhab Spencer menyebutnya begitu, dialah William George Sumner. Dalam proses tersebut, sebuah kelompok selalu memiliki kecenderungan mengukur kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda menggunakan parameter pribadi dan kelompok sendiri. Sehingga memunculkan stereotip atau anggapan yang bersifat mengejek terhadap objek lain di luar kelompoknya, semisal stereotip orang berkulit putih terhadap orang Negro di Amerika yang pada akhirnya stereotip tersebut berhasil diperjuangkan dan di hapus oleh Gus Martin yang mana berperan sebagaimana Gus Dur di Indonesia sebagai bapak pluralisme. Tanpa disadari anak-anakku, di antara mereka telah terbangun nalar kekerasan yang timbul sebagai akibat dari kebiasaan yang terus menerus dilakukan dan berakhir menjadi tradisi saling merobohkan.”[4]

  Dalam Pengajian Rutin, Gus Fahmi: Saling Hormati dan Hargai Perbedaan

“Sebagai saksi sejarah, kau bisa lihat anak muda, insiden ekstrim, mengenaskan juga tragis dalam lembar hitam Indonesiamu di masa lalu maupun saat ini. Tengoklah saja insiden bom Hotel JW Marriot pada 2003 lalu yang terjadi di ruang publik. Atau peristiwa peledakan bom di Palopo, Sulawesi dengan korban 4 orang tewas pada 2004. Lalu, bom bunuh diri di bali oleh Amrozi pada tahun 2005, bom Cirebon, bom Solo, juga teror bom buku yang ditujukan pada tokoh Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla. Entah dari mana muasalnya, anak-anakku menjadi begitu naif. Mereka berani mati, hobi bunuh diri, dan tak punya hasrat hidup lagi. Mungkin karna saking lelahnya menghadapi kenyataan pahit di depannya. Meski entah seperti apa itu rasa pahitnya dan siapa yang menciptanya?. Bahkan setiap tahunnya peristiwa kekerasan itu tak kunjung mereda, bom bunuh diri pada tahun 2016 lalu sebagai contohnya”.

Suara serak Indonesia bertambah serak meski ritme napasnya sudah normal. Barangkali emosinya sedikit mereda berkat ceritanya yang panjang lebar terhadap salah satu anak muda yang setia mendengar keluhannya. Arjuna pun tak sedikit pun merasa bosan mendengar cerita romantika manusia Indonesia yang ternyata penuh haru biru dengan polemiknya.

“Intoleransi pun masih banyak bertebaran dimana-mana. Kau bisa melihatnya pada kasus penolakan kaum Syi’ah oleh Forum Umat Islam di Jawa Tengah, atau penolakan pembangunan masjid di Manado pada september 2016 lalu. Begitu pula dengan diskriminasi yang telah menyusup dalam bebagai aspek kehidupan”.

SEBUAH NASIHAT

“Ingatlah anak muda, hal-hal yang harusnya kau lakukan adalah menghindari Intoleransi atau pun diskriminasi dalam bentuk apa pun untuk menghindari konflik yang rentan mengakibatkan terjadinya kekerasan yang bisa menyakiti antar saudara kandungmu. Entah itu diskriminasi rasial, diskriminasi kultural, diskriminasi eksistensial, diskriminasi primordial, bahkan diskriminasi teologis dan natural.[5] Kesalahan sekelompok kecil anak-anakku bukan berarti menghalalkan bagi yang lain untuk membunuhnya dengan maksud menghabisi kemungkaran atau pun ancaman di sini. Atau malah jangan-jangan tanpa disadari merekalah yang diserang ambiguitas toleransi yang sebenarnya intoleran akibat fanatisme berlebihan. Entah bagi mereka yang masih memegang teguh ideologi konservatifitas maupun yang mengaku moderat dan progresif. Semuanya sama saja, sama-sama fanatiknya.

“Selain itu, tak cukuplah hanya bertasamuh (bertoleransi) bersama saudara-saudaramu yang lain. Kunci lainnya adalah Tabayun, klarifikasilah sebelum membuat penilaian agar tidak terjadi distorsi dalam pencapaian kebenaran yang mungkin saja itu hanya sekedar kabar burung pengadu domba antara kau dan saudaramu yang lain, anak muda. Penyakit lainnya yang perlu kau hindari adalah “Argumentum Ad Varecundiam” kesalahan mengenali kebanaran dari kabar yang kamu terima bisa jadi oleh sebab Syndrom Superiority Complex. Merasa paling benar, paling berkuasa dan paling di atas segala-galanya. Atau bisa jadi oleh karena emosi, asal telan kabar yang pada akhirnya hanya melahirkan one-sided-truth-claim, klaim kebenaran sepihak. Tanpa bisa dihindari, di antara kalian berakhir kepada saling menghujat, saling mencaci, berkata kotor, dan membenci satu sama lain. Padahal jauh dari sana, ada penonton yang sedang bertepuk tangan menyaksikan rencananya berhasil dan tertawa terbahak menyaksikan kebodohan para rakyat Indonesia yang mau-maunya bertikai sesama saudaranya. Kau tau, “anakku”? kalimat dan kata merupakan unsur penentu dalam membangun solidaritas, ajaklah yang tidak sependapat untuk berdialog secara baik-baik agar di antara kalian tumbuh kesalingpahaman.”

PESAN KEPADA MEREKA, TOLERANSI: SEBUAH PERSEMBAHAN

“Untuk mereka, sampaikanlah pesanku, Indonesiamu  sebelum terlambat. Kepada mereka politikus, ulama, intelektualis, cendekiawan, birokrat, aparat, pendidik, pembelajar, dan kepada semua anak-anakku. Kepada para politikus, sampaikan pada mereka bahwa di sini negara hukum, bukan negara penguasa. Kepada para ulama, intelektualis, serta cendikiawan, mereka adalah kunci untuk membuka gerbang agama agar dikenali substansinya. Jangan sampai mereka yang berjubah putih menuding saudaranya yang lain hanya karna mereka berjubah hitam. Kepada aparat yang bertugas melindungi keamanan rakyat. Jangan sampai mereka menodongkan pistol ke wajah orang-orang yang harusnya mereka lindungi. Dan jangan pula mereka abai terhadap berbagai diskriminasi yang terjadi terhadap segenap rakyat sipil yang mustinya mereka lindungi. Kepada para pendidik, di tangan merekalah masa depan pemuda Indonesia ditentukan. Kepada pembelajar, sungguh-sungguhlah membangun tanah airmu. Sebab babak baru telah dimulai sejak engkau menjejak di sini dengan segenap semangat juangmu untuk tanah airmu. Maka lihatlah “Kebhinnekaan” itu sebagai sebuah keberagaman, binalah dengan rasa toleransi. Agar negeri tetangga kita tahu, bahwa negeri ini penuh keindahan dan saling memiliki.”

Arjuna yang sejak tadi  terdiam khusyuk mendengar nasihat dari tanah airnya, akhirnya mengangguk mantap.

“Akan aku ingat pesan-pesanmu. Juga akan aku persembahkan segenap jiwa ragaku untuk kesatuan negeriku. Indonesia yang satu.”

Sedangkan dari kejauhan langit, Gus Dur yang mendengar percakapan Indonesia dan salah satu anaknya menyunggingkan senyum kalem, lalu berucap:

“Gitu aja kok repot!”


sumber rujukan:

[1] Siagian, Agama-agama di Indonesia, (Semarang: Satya Wacana, 1993), hal. 15

[2] A’la Abd, Jahiliyah Kontemporer dan Hegemoni Nalar Kekerasan. (Yogyakata: LkiS Yogyakarta, 2014), hal. 74

[3] A’la Abd, Jahiliyah Kontemporer dan Hegemoni Nalar Kekerasan. (Yogyakata: LkiS Yogyakarta, 2014), hal. 74

[4] Adaptasi dari teori Folkways, Maha Karya Sumner yang telah masuk di kepustakaan sosiologi klasik.

[5] Cak Nun, Martin Luther King dan Gus Dur, (Kompas, 25 Februari 2013)


*Penulis adalah Santri Walisongo Cukir Jombang sekaligus Mahasiswa PBA Unhasy.