Mengkaji Hadis dengan Cara Modern

280
Dr. Ahmad Luthfi Fathullah menjelaskan bagaimana latar belakang ia menciptakan aplikasi terkait hadis dengan satu klik seraya menunjukkan aplikasinya di powerpoint dalam acara Stadium General Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Senin (06/08/18). (Foto: Yogi)

Tebuireng.online- Tantangan ulama di masa depan adalah menghadapi dunia yang serba digital. Begitulah yang dijelaskan oleh Dr. Ahmad Lutfi Fathullah, M.A., Direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta dalam ‘studium generale’ di Aula Lantai 3 Gedung KH. Yususf Hasyim Pesantren Tebuireng, Senin (06/08/18).

Hal itu beliau ungkapkan dengan penggunaan karya aplikasinya yang dapat menampung segala hal yang berkaitan dengan hadis. “Tinggal klik doang aja,” itulah istilah dalam menunjukkan betapa mudahnya mengakses hadis sekarang khususnya dalam aplikasi ciptaannya tersebut.

‘Studium Generale’ (SG) yang dipanitiai oleh Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng ini diadakan dengan mengangkat tema “Optimalisasi Perpustakaan Digital dalam Kajian Kitab Turats Hadis”.

Banyak sekali yang bisa didapat dari pembahasan yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Luthfi, termasuk cara beliau menyikapi pengkajian hadits dengan cara modern. Aplikasi barunya tersebut merupakan terobosan yang cemerlang untuk kader ulama hadis generasi sekarang.

“Kita bisa saja mentakhrij hadis lewat kitab-kitabnya langsung, tapi pasti akan sangat sulit,” tukas beliau seraya menunjukan cara kerja aplikasinya melalui layar LCD proyektor.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Berkenaan dengan belajar langsung kepada guru (talaqqi), Dr. Lutfi menjelaskan bahwa yang berkewajiban bertalaqqi adalah orang-orang tertentu seperti orang yang belajar di pesantren. “Kalo semua orang harus talaqqi, maka yang ada cuman pesantren doang,” ungkap beliau dengan logat betawinya yang khas.

“Yang harus talaqqi ya kita-kita ini orang pesantren, kalo mereka ngapain harus talaqqi?” lanjut direktur pusat kajian hadis Jakarta ini dengan menjawab pertanyaan penanya. Kemudian beliau membacakan surat at-Taubah ayat 122 dan menjelaskan bahwa yang berkewajiban bertalaqqi langsung dengan guru yaitu sebagian golongan, yakni orang pesantren.

“Kalau yang membuat baik, hasilnya juga baik. Kalau yang membuat tidak baik maka hasilnya juga tidak baik. Kita memiliki tanggung jawab untuk membuat kebaikan,” itulah sebagai salah satu pesan dari Dr. Lutfi yang diungkapkan oleh Nailia Maghfiroh, moderator dalam SG ini.

🤔  Peluncuran YP3I : Pesantren Sebagai Garda Terdepan Pembangunan Bangsa

Pewarta: Ananda Prayogi

Editor/Publisher: RZ