Ada satu ungkapan, “Bila kau bukan anak seorang ulama dan bukan pula anak seorang raja, maka menulis lah.” Yups, menulis adalah suatu tindakan untuk dapat mengabadikan sejarah tentu juga untuk bisa dikenang (dibaca berulang-ulang). Bila engkau putra dari ulama, atau raja. Mungkin namamu akan sangat mudah untuk dikenang bagi generasi selanjutnya. Tetapi, bila kau terlahir sebagai putra biasa-biasa saja, mungkin akan mustahil namamu dapat dikenang beserta perjalanan hidupmu dikemudian hari. Maka menulis lah…

“Ketika seseorang telah meselesaikan tulisannya, sesungguhnya ia tidak mati. Tetapi ia baru saja memperpanjang usianya.” Atunk F. Karyadi, mencoba untuk merekam segala pengalaman hidupnya melalui tulisan. Pengalaman yang renyah tapi mengandung sarat hikmah, dirangkum olehnya melalui buku bertajuk “Pandemi Cinta”.

Sudah semestinya kita bertanya-tanya, kenapa Atunk F Karyadi memakai istilah, ‘Pandemi’ untuk judul karyanya. Yang mana, kita ketahui bersama, istilah tersebut sangat populer di kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung reda dan tidak dapat diprediksi kapan berkahir.

Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, istilah ‘Pandemi’ bermakna wabah yang berjangkit serempak di mana-mana. Mungkin dengan mengambil istilah wabah tersebut Atunk F Karyadi justru ingin memberikan sebuah wabah baru, di tengah wabah yang mengintai, mengacam, dan mematikan.  Yakni wabah cinta, kasih, dan sayang.

Bila anda diberikan kesempatan untuk membaca karya Atunk F Karyadi yang satu ini, sudah dipastikan anda akan dibawa pada cerita-cerita sederhana tetapi mengandung hikmah luar biasa. Buku ini, disusun berdasarkan pengalaman penulis menjalani kehidupan; bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya tak dikenal, rekreasi ke tempat-tempat asing, dan kisah sehari-hari yang mengundang gelak tawa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hebatnya, dari sekian fonomena tersebut, insting seorang Atunk Karyadi, dapat menangkap hikmah dan pelajaran yang tak terlihat. Sehingga menjadikan karya ini sebagai sebuah bacaan  refleksi ringan, yang dapat dicerna dengan sepotong roti, atau secangkir kopi hangat, tanpa merasa digurui pada setiap kata demi kata.

Ada pengalaman menarik yang dituliskan oleh Atunk ketika dia diberikan kesempatan menguji negara tetangga, “Dalam sebuah perjalanan darat Singapura-Malaysia-Thailand Selatan, aku memilih duduk di kursi bus paling depan. Tepatnya di samping Pakcik Sopir. Posisi itu aku pilih sebagai rasa penasaranku, Apa sih bedanya Indonesia dengan negara-negara tetangga ini? Aku terus mengamati dengan detail perjalanan. Kaca bus yang lebar membuat frame pandanganku makin luas. Namun berpuluh dan beratus kilo meter aku tak menjumpai banyak perbedaan yang berarti kecuali hanya rambu-rambu lalu lintas yang ditulis dalam aksara berbeda, warna unik, juga bangunan sekeliling, merek kendaraan, dan bentuk helm.”

“Merasa agak putus asa, akhirnya aku amati saja sopir melayu yang asyik memegang setir di sampingku—di bus selanjutnya sopir keturunan India. Setelah berapa lama, barulah aku temukan perbedaan yang cukup berarti antara Indonesia dengan negara Jiran ini. Aku amati, sopir tak pernah membunyikan klaksonnya sama sekali. Di Singapura maklum karena memang tak banyak kendaraan. Tapi di Malaysia pun yang terkadang macet—istilah polisi kita padat merayap—si sopir tetap woles tanpa menekan klakson. Gila ini ada apa?! Aku beranikan diri bertanya ke dia—tentunya saat lampu merah dan bus berhenti.”

“Di sini tak boleh menyalakan hon/horn,” tukasnya. Kalau tidak keadaan mendesak seperti takut menabrak kendaraan lain klakson tak dibunyikan. Sopir pun harus saling sabar menunggu kendaraan depannya melaju. Aku tak tahu dapat pelanggaran apa jika membunyikannya sembarangan. Entah jadi budaya atau regulasi pemerintah. Ini keren.” (Hlm. 10-11)

Ada satu keunikan dari buku ini yang menjadikan pembeda dari buku-buku lainnya. Buku ini diterbitkan hanya melalui e-book sehingga tidak ada dalam bentuk cetakan. Terobosan untuk mencetak buku ini melalui e-book menurut saya adalah sebuah hal yang sangat baik, mengingat semakin hari semakin merebahnya buku-buku bajakan baik berbentuk cetakan maupun yang di jadikan pdf. Yang mana tentunya hal merugikan bagi penulis, pencetak, dan pihak-pihak lainnya.

Mungkin saja, untuk menutupi perbajakan buku tersebut, Atunk F. Karyadi memberikan sebuah terobosan membuat buku berbentuk e-book untuk sekurang-kurangnya dapat mengurangi perbajakan atas sebuah karya.

Judul: Pandemi Cinta
Penulis: Atunk F. Karyadi
Halaman: XVII + 122
Publish: 19 Agustus 2020
Perensensi: Dimas Setyawan Saputra (Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari)

SebelumnyaBerbakti kepada Orang Tua adalah Keharusan
BerikutnyaNyanyian Perjuangan Mahasiswa