Oleh: KH. Mustain Syafi’ie

Pada hari ini, kita telah sampai pada tanggal 10 Zulhijjah. Pada hari ini terdapat peringatan dan perayaan yang penting bagi umat Islam, yaitu Idul Adha dan ibadah qurban. Tentunya sudah selayaknya bagi kita untuk bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita umur panjang sehingga bisa sampai lagi pada bulan Dzulhijjah ini dan mendirikan shalat Idul Adha serta mengikuti penyembelihan hewan qurban.

Terkait ibadah qurban, kita tentunya merujuk pada tragedi yang pernah terjadi di masa lampau, yakni kisah Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as. di dalam Al-Quran disebutkan, justru kata “qurban”, seperti dalam ayat idz qorrobaa qurbaanan, itu di-blow up sebagai pembahasan pada qurban yang disajikan oleh Qabil dan Habil, yakni tentang qurban manakala yang diterima oleh Allah.

Sementara itu, peristiwa yang menimpa Nabi Ismail as itu menggunakan bahasa dzabh. Nabi Ibrahim as. sendiri yang menggunakan bahasa tersebut (innii adzbahuka). Allah sendiri di dalam mengganti Nabi Ismail as menggunakan bahasa dzibh, ‘adziim.

Menurut pendekatan filologis, bentuk masdar yang menggunakan gaya bahasa tembahan (ziyadul alf dan wa nun) itu bermakna mubalaghoh. Lafad qurb yang berarti dekat, merupakan bentuk masdar yang menggunakan gaya ortodoks biasa, akan menjadi bermakna lebih hebat jika ditambahi dengan alif dan nun menjadi qurban, yang berarti sangat dekat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sama dengan bahasa qurban yang berarti bukan sekedar bacaan, tetapi bacaan sungguhan. Dengan begitu, qurban berarti dekat sungguhan. Contoh lain; ghufron, diampuni sungguhan; shulhaan, damai sungguhan; syaithon, brutal sungguhan, dan seterusnya.

Untuk itu, teks yang ada menunjukkan bagaimana degan itu terjadi. Padahal qurban – qurban di sekitar situ telah menjadi tradisi, utamanya di daerah-daerah sekitar suku Jurhum, yakni kabilah Nabi Ismail as. Oleh karenanya, qurban tidak lagi cukup dengan menyembelih kambing, melainkan qurban melainkan qurban manusia. Itulah yang dimaksud qurban sungguhan.

Saya ambil contoh beberapa tradisi manusia waktu itu. Di Mesir, ada tradisi penyembahan dewa yang hebat. Oleh karena itu, qurban dipilih sesuai yang disenangi oleh dewa itu sehingga dalam tradisi Mesir, qurban dipilihkan yang terindah. Sementara itu, yang terindah itu adalah gadis, sehingga sebelum ada hari raya pengerbonanan itu, ada seleksi seperti pemilihan miss universe khusus Mesir untuk memilih gadis tercantik. Gadis tercantik yang terpilih inilah yang akan di-qurban-kan. Hal itu dikarenakan oleh persepsi teologisnya bahwa Tuhan itu indah.

Contoh lain; di Irak. Karena Irak merupakan negeri para zuhud, maka dipersiapkan gabungan antara filosofis zuhud dengan ajaran suci atau ajaran yang sangat bersih seperti bayi. Dengan begitu, pandangan persembahan terhadap dewa sebagai Tuhan yang diyakini adalah manusia yang masih bersih, belum ternodai apa-apa. dalam hal ini, bayi yang di-qurban-kan karena inilah yang dianggap dapat mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tidak sama dengan di Skandinavia. Di sana, terdapat filosofis murni dan sufistik yang mengerucut sehingga pandangan terhadap kesucian di hadapan dewa yang diyakini adalah ketinggian proses spritual. Siapa yang tinkat spritualnya tertinggi itulah yang layak jadi qurban dan langsung masuk ke surga. Maka yang di-qurban-kan adalah orang-orang shalih.

Berbeda lagi dengan kaum Nabi Ismail as, yang kabilah Jurhum. Mereka tidak terikat dengan hal-hal tersebut. Yang penting manusia, itu bisa di-qurban-kan. Tradisi semacam ini sesungguhnya di mata Allah terlalu besar hitungannya dan menyalahi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga perlu dikoreksi. Allah tidak bisa diberi sesajen berupa nyawa manusia karena hal itu merupakan kebrutalan, sementara Allah sendiri itu Maha Pengasih dan Penyayang.

Akan tetapi, mengapa Allah tidak langsung mengwahyukan kepada Nabi Ibrahmi as. untuk menyembelih kambing saja sebagai bentuk qurban? Mengapa harus dengan ujian-ujian yang bersifat dramatis? Mengapa setelah adanya kepatuhan dari keduanya baru diganti dengan dzibhin ‘aziim? Jawabannya adalah untuk mengoreksi diri.

Tradisi-tradisi yang salah pada saat itu sangat sulit diubah. Tidak mudah mengubahnya dengan hanya menggunakan kata-kata, melainkan harus dengan ‘amaliyah yang sangat fenomenal. Tokoh tua yang diperankan oleh Nabi Ibrahim as dan tokoh muda yang diperankan oleh Nabi Ismail as sangat cocok.

Nabi Ismail as yang menurut sebagian tafsir berumur 13 tahun, diberi penghargaan yang tinggi oleh Allah terhadap sifatnya. Nabi Ismail as adalah anak yang bersifar ‘alim, pintar, cerdas, dan tingkat intelektualnya tinggi. Dalam surah ad-Dzariyat disebutkan fabassyaruuhu bighulaamin ‘aliim dan surah as-Shaffat disebutkan fabassyaruuhu bighulaamin hallim. Sesungguhnya konsep-konsep yang ada dalam kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as betul-betul sarat dengan pendidikan.

Tidak hanya Nabi Ismail as, Nabi Ibrahim as pun merupakan seorang yang sangat shalih. Dia senantiasa bersedekah. Dalam bersedekah, dia sangat ringan tangan. Ketika ada tamu yang datang, ke rumahnya, pasti Nabi Ibrahim as bersedekah pada tamu tersebut. Oleh karena itu, tidak salah jika dia diberi gelar sebagai kholilulloh yang berarti kekasih Allah.

Ketika Nabi Ibrahim as ditunjuk menjadi kekasih Allah dan dinobatkan sebagai nabi yang menyandang gelar al-Kholil, Nabi Ibrahim as ditanya oleh Allah, “Hai Ibrahim, tahukah kamu atas dasar pertimbangan apa Aku menunjuk dan menangangkatmu bergelar Kholilulloh (kekasih Allah)?” Nabi Ibrahim menjawab, “Tidak tahu, karena Allah sendiri yang mempertimbangkan.” Allah kemudian berfirman, “Karena kamu lebih suka memberi daripada meminta atau menerima.”

Melalui kisah qurban yang memerankan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as tersebut sungguh dapat kita petik banyak hikmah. Hikmah yang tertuang itu mulai dari tradisi qurban, akhlak, ketakwaan kepada Allah, perihal pendidikan hingga urusan kemuliaan para nabi.

Oleh karena itu, sungguh kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut yang kemudian kita ambil manfaatnya untuk kehidupan sekarang. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk berbuat kebaikan. Aamiin.


Pentranskip: Dimas

SebelumnyaBagaimana Hukum Kirim Stiker Doa di WhatsApp?
BerikutnyaProf. Huzaemah Tahido Yanggo, Perempuan Indonesia Pertama yang Raih Gelar Doktor dari Al-Azhar