img_8778pak-tainOleh : KH. A. Musta’in Syafi’ie

إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ . نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ . وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ . اِتَّقُوْ اللهَ ,اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus muassis pesantren ini (Tebuireng) pada awal Oktober sudah memerintahkan beberapa santri khusus untuk berpuasa, dengan wiridan-wiridan tertentu. Dan subhanallah, ternyata pada tirakatan 40 hari yang disebut telasan, persis 10 November meletus pergerakan seperti itu. Sehingga banyak santri-santri yang sudah siap untuk menghadapi peristiwa 10 November. Komentar para santri senior, bahwa begitulah kearifan ketinggian wilayah kewalian Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Itu tidak mengherankan, justru penobatan dan pengakuan kiai Hasyim itu sebagai wali tidak dari kalangan sendiri. Tetapi, ternyata yang mengangkat kiai Hasyim sebagai wali yang di-publish secara internasional dalam tulisan itu bukan orang Islam. Seorang antropolog dari Australia yang bernama James Fox dari Australian National University, secara terbuka menobatkan dan mengakui kewalian Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan demikian, pemimpin zaman dahulu tidak sekedar heroik patriot tetapi juga al arif billah mempunyai pandangan futuristis kedepan. Pada saat Hadratussyaikh diterpa sekian perubahan-perubahan, mereka banyak kemlondo (bersikap seperti Belanda) dan lain-lain. Seorang ilmuan mengatakan bahwa kiai Hasyim adalah kiai yang agak keras menolak perubahan-perubahan, dilontarkan Holeh oward Federspiel. Dia tidak menganggap kiai Hasyim sebagai kiai yang kolot menolak perubahan, tetapi kiai yang paling serius memegang prinsip al-Muhafadah ala qodimi As-salih dan sangat hati-hati sekali ketika beliau mau mengambil yang terbaru al-Akhdu bil jadidi al-Ashlah.

Prinsip-prinsip seperti ini yang menjadi pegangan Hadratussyaikh dalam membela negara ini, hingga 22 Oktober dikatakan sebagai Resolusi Jihad dan lain-lain. Subhanallah, bukan sekedar untuk membela negeri ini agar merdeka. Lebih dari itu, ingin negeri yang mayoritas muslim ini bermartabat. Maka sampai ada istilah perang Sabil, Resolusi Jihad, dan mereka yang gugur dianggap syahid, tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak disolati. Itu menunjukkan mereka yang angkat senjata pada waktu itu bukan sekedar pahlawan nasional yang membela negara, tapi lebih pada membela agama.

Untuk itu, segala yang terjadi di masa lampau bukanlah sebuah romantisme historis, dogmatik antropomorfisme, dan sebuah kenangan. Tetapi untuk diambil pelajaran yang berharga. Biarlah mereka yang telah berbuat, tilka ummatun qod kholat laha ma kasabat, tetapi bagaimana generasi sekarang bisa memetik pelajaran terbaik dan apa yang diperbuat.

Jum’ah artinya kumpul, ibadah perminggu ini ibadah yang hebat. Ada khutbah untuk mengevaluasi kejadian aktual yang menjadi tranding topic dalam minggu-minggu kemarin. Itulah gunanya khutbah, sehingga bisa mengambil pitutur yang baik.

Dari perspektif murni teologis mengambil pelajaran dari aksi kemarin sebut saja 4 November kemarin, biarlah yang berlalu. Tapi penting, kita mengambil pelajaran terbaik tadzakkarun, yatafakkarun, ta’qilun disini. Yang pertama, spesial kita sebagai muslim yang kaffah yaitu muslim yang berlaku islami di setiap tempat. Di masjid, di bursa efek, di pasar, di gedung DPR, dan di gelanggang politik, dia selalu membawa islamnya. Itulah yang disebut muslim yang kaffah.

Bukanlah seorang muslim yang kaffah, keislamannya hanya dibawa di masjid tapi di gelanggang politik dilepas. Naudzubillah min dzalik. Untuk itu, dari sekian ayat Al-Quran yang diawali dengan ya ayyuha al ladzina amanu itu artinya Allah Swt. hanya mau berdialog, mengajak bicara pada orang yang beriman saja. Hanya orang beriman, yang mengerti dan memahami firman Allah.

Dalam Al-Quran tidak pernah ada Ya ayyuha al-Ladzina kafaru tidak ada. Kecuali satu kali, dan itu dalam konteks pencemoohan ketika di alam akhirat dan bukan dalam konteks dialog. Untuk itu ayat yang kemarin populer, hikmahnya yang pertama. Satu, ayat tersebut yang kita kenal al-Maidah 51 itu ada sekitar 14 ayat senada yang semuanya dikaitkan dengan keimanan.

Maka tidak ada bedanya melaksanakan seruan Allah yang la yattkhidi al-Mukminina al-Kafirina dan lain-lain, mengambil atau dukung-mendukung atau memilih pemimpin seterusnya. Itu sama pesannya dengan syariat puasa ya ayyuha al-Ladina amanu kutiba alaikum as-Shiyam. Apa yang bisa kita ambil? Begini saja, ayat serupa yang seperti itu menunjuk wali dan awliya’ seperti dalam al-Maidah 51 itu sebanyak 51 kali dalam bentuk mufrad dan jamak.

Mohon maaf, ayat larangan Allah mengangkat pemimpin non-muslim ini sudah lama sengaja didiamkan, dipeti kemaskan oleh para kiai yang sok pluralis dan toleran. Sengaja tidak pernah didalilkan dimana-mana. Padahal pesannya sama, panggilan ya ayyuha al-Ladzina amanu. Sengaja tidak pernah kita dengar.

Rupanya Tuhan tersinggung, ketika ayatNya untuk pesan kemasyarakatan dan politik ini didiamkan. Lalu Tuhan ingin mem-blow up ayat itu dengan caraNya sendiri. Dengan menunjuk hambaNya, diplesetkanlah lidahnya kemudian ayat itu menyembul keluar secara dahsyat dan punya energi yang begitu kuat. Mohon maaf, belum tentu gabungan ulama Nahdliyin plus cendikiawan Muhammadiyyah bisa memasarkan ayat ini mendunia dan meng-indonesia. Tapi Tuhan mempunyai cara sendiri sehingga kita harus iman bahwa satu ayat Al-Quran saja itu bisa menggerakkan energi sedemikian hebat. Artinya kenapa Tuhan melakukan itu, tidak ada di dunia ini yang kebetulan semuanya masuk dalam grand design of God.

Dua, Allah Swt ingin mengingatkan kita, kaum muslimin yang merasa bisa diajak bicara oleh Tuhan. Bahwa hendaklah kita ini mengambil pelajaran-pelajaran masa lalu. Sekitar delapan abad Turki dikuasai oleh orang muslim, keadaan nyaman, sangat toleran, damai, bagus, dan makmur. Tapi pada suatu saat non-muslim menguasai Turki. Lalu apa yang terjadi, habislah kerajaan dan pemerintahan Turki.

Ketika mereka menguasai Turki, orang muslim di Turki diberi tiga pilihan. Satu, masuk Kristen dan dibaptis. Dua, kalau tidak mau akan diusir dari Turki. Ketiga, dibunuh. Tidak ada sejarah yang mengingkari ini. Untuk itu kita ambil pelajaran yang baik, kita memandang orang tidak sekedar kemanusiaannya saja tapi ada batas, juga keislamannya. Karena itu ukhuwah-ukhuwah basyariyah, insaniyyah, wathoniyyah, dan lain-lain, tidaklah ukhuwah yang lepas. Tapi ukhuwah yang terawasi dan terpayungi oleh koridor islamiyyah.

Dan terakhir, kita wajib menjaga kesatuan NKRI negeri ini. Kita wajib menjunjung demokrasi di negeri ini, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai yang lain. Dimulai dari siapa, pertama dari pimpinannya. Semua tahu bapak Presiden tercinta kita mengundang tokoh NU dan Muhammadiyyah, sebelum aksi 4 November. Setelahnya (kejadian itu), beliau datang ke kantor mereka dan mengucapkan terima kasih menyanjung apresiasi.

Tapi sayang, tidak mengapresiasi kawan kita muslim (aksi 4 November). Seharusnya yang diundang jangan Muhammadiyyah dan NU saja, kawan-kawan yang menuntut keadilan juga muslim. Mohon maaf, dari satu pembacaan sangat berpotensi untuk memecah belah kelompok Islam sendiri. Begitu pula ketika memberi apresiasi kepada tokoh NU dan Muhammadiyyah sehingga berjalan damai, sangat bagus. Tapi menurut pandangan kami pribadi, damainya aksi 4 November itu bukan karena peran tokoh Muhammadiyyah dan NU yang turun di jalan. Tapi lebih pada kesantunan dan tingginya al akhlakul karimah dari para demonstran yang sangat sopan.

Maka seharusnya yang diberi apresiasi bukan tokoh Muhammadiyyah dan NU saja, tapi juga mereka yang telah menunjukkan kesantunan dan kebaikan. Mudah-mudahan tidak terlalu banyak, kita ini mengalami hal-hal yang rumit. Kita doakan mudah-mudahan bapak Presiden kita betul-betul dirahmati oleh Allah. Semakin hari semakin dewasa. Dengarkan, bapak yang baik adalah bapak yang bisa merangkul semua anaknya meskipun anak itu senakal apapun.

. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم. وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم. فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


Pentranskripsi: M. Sutan

Publisher: M. Ali ridho

SebelumnyaHanya Senang Puisi, Bunyana Mampu Menoreh Kejuaraan di Tingkat Nasional
BerikutnyaDisaksikan Menteri Susi, Santri Jombang Akan Pecahkan Rekor Makan Ikan Bersama