sumber ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom

Oleh: Qurrotul Adawiyah*

Senja itu telah berpamit dari langit jingga, dan mungkin saja tak akan kembali dengan suasana yang sama. Seperti kisah kita, yang terlepas tanpa ujung, tanpa sebuah kepastian dan kejelasan. Waktu itu, sejak sang fajar menyapa pagi tanpa irama yang biasa ia nikmati setiap hari, kehidupan baru telah dimulai…

Selamat memulai kisah baru dengan mentari pagimu yang kian menemani segala aktivitasmu, maaf aku bertolak lupa tak menghiraukan rasa kala itu, karena jujur aku tak ingin melebihi semua cerita itu hanya sebatas pertemanan saja. Lucu rasanya bila mengingat semua itu, karena ia terlalu cupu untuk aku ladani begitu pun dengan diriku yang sangat bodoh sekali jika terus menerus membiarkan semuanya berlama-lama dengan ketidakpastian.

Sepintas kisahku sebelum mengenalnya, aku bertolak darinya karena sebuah alasan. Salah satunya karena kelebihan yang sama, jelas aku tak menyukai itu semua. Anganku, kekuranganku terdapat pada kelebihannya begitupun sebaliknya. Cukup mempunyai visi yang sama meskipun latar belakang kami berbeda. Mengenalinya berawal dari ketidaksengajaan hingga kini tak terasa kami punya perjalanan berbeda namun satu tujuan itulah alasanku tak ingin ada jeda sedikit pun melupakan dan terus mendoakan kebaikan untuknya.

####

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kesunyian dengan berbagai pertanyaan dan sejuta harapan membuat kita berlarut-larut menikmati malam, melupakan sekitar bahkan diri yang terkekang dengan kerinduan. Seketika itu menghilang tak menyisakan ketersiksaan batin yang kini terobati dengan segudang cerita lucumu itu.

Sempat kamu bertanya sembari tersenyum, mungkin kamu berharap jawaban itu sama terhadap apa yang kamu rasakan namun aku sengaja memberi teka-teki jawaban biar kamu sendiri menganalisa jawaban dibalik perjalananmu.

Jujur aku tak ingin melihat dirimu tersenyum sebelum kau berjuang mencari makna teka-teki yang aku beri, memang bagimu teka-teki itu sangatlah sulit untuk dimengerti, karena itu salah satu kekuranganmu yang kau ceritakan kala itu. Alasan itulah aku ingin tahu sejauh mana keingintahuanmu terhadap suatu hal yang belum kamu ketahui dari pada kekuranganmu yang sulit mengkaji. Bisakah kamu ketahui secara cerdas, cepat dan tepat atau malah sebaliknya. Itulah tantangan awal yang harus kamu lewati jika ingin tahu jawaban yang sebenarnya.

Malah kau tersenyum dengan tantangan itu, padahal aku harap kau mengeluh dan angkat tangan, sekali-kali aku sangat ingin melihatmu mengeluh. Sejak mengenalmu dan bahkan sahabat terdekatmu tak pernah melihat dan mendengar keluhanmu itu. Dan kini hal itu tak jauh berbeda dengan apa yang kulakukan padamu. Tentunya aku sangat merasa gagal karena tak sesuai dengan anganku, tapi aku akan tetap berusaha untuk meciptakan keluhanmu.

Alangkah terkejutnya tiba-tiba saja kau jawab teka-teki itu dengan benar, jelas aku bingung padahal itu sulit untuk kamu lakukan, aku hanya terdiam dan mereka-reka dari mana jawaban kau dapat secepat itu apa mungkin kamu pernah baca buku yang pernah aku baca untuk memperoleh jawaban berupa teka-teki, tapi tidak mungkin karena buku itu sangat langka, aku saja membaca buku itu hasil pinjaman dari salah satu dosen.

Pemikaran yang liar dan hanya sebatas praduga yang masih belum tentu benar terus saja berkeliaran di pikiranku. Dengan sangat terpaksa aku menanyakan dari mana jawaban diperoleh. Aku membaca buku itu karena sebatas untuk dijadikan bahan referensi diskusi tidak lebih.

Hingga kini aku masih sangat sulit menciptakan sebuah pertanyaan dan memberi jawaban yang sulit dimengerti lebih-lebih untuk menjadikanmu mengeluh tetap saja tak bisa. Tak seperti diriku yang setiap saat mengeluh karena berbagai aktivitas yang masih belum dilaksanakan dengan tuntas mulai dari tanggung jawab kampus hingga asrama.

Bahkan sempat aku menangis sambil bercerita kepadamu, dari lelahnya aku menjalani semuanya, namun dengan sifat lembutmu terus menasehatiku dan menyemangatiku bahwa apa yang terjadi sekarang ini masih belum seberapa dibandingkan di masa mendatang yang lebih berat lagi.  

Itulah alasanku mengapa aku memilihmu, karena kekuranganku telah kau lengkapi. Dan aku yakin, kita akan menjadi sepasang yang saling menyempurnakan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaMenemukan Teman Berjuang
BerikutnyaMengenal Peran Santri bersama Gus Ivan