Kalangan pemuda dan remaja Pesantren Tebuireng yang tergabung dalam Mabit (Majma’al Buhuts al-Ilmiyah Tebuireng) menghadap Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), pada Selasa (4/10/22).

Tebuireng.online- Kalangan pemuda dan remaja Pesantren Tebuireng yang tergabung dalam Mabit (Majma’al Buhuts al-Ilmiyah Tebuireng) menghadap Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), pada Selasa (4/10/22). Agenda ini dimaksudkan sebagai pemantik semangat dari Gus Kikin (Pengasuh) kepada para pemuda Tebuireng agar semangat dalam tradisi kajian turast. Acara yang berlangsung di ndalem kasepuhan Tebuireng ini juga dihadiri oleh KH. Achmad Roziqi (Dewan Masyayikh), Gus Mirza M. Fariz (Pengasuh Al-Masruriyah), Ust. Mahmud (Wakil Kepala Pondok), Ust. Bukhori (Bidang Pengembangan Diri).

Mabit merupakan lokomotif dari pada santri senior Tebuireng untuk menggerakkan beberapa gerbong yang ada di uni-unit semisal Fordisam (Forum Diskusi Santri Muallimin), FBM MAHA (Forum Bahsul Masail Ma’had Aly Hasyim Asy’ari), dan Fordisaf (Forum Diskusi Santri Salaf). Gus Kikin, merasa sangat penting untuk membentuk halaqah-halaqah seperti ini (Mabit). “Saya akan terus memantau forum ini. Bahkan kalau perlu tiap satu bulan saya akan mengecek catatan-catatan dan evaluasi di tiap agendanya,” begitu kata Gus Kikin.

Gus Kikin memiliki visi membumikan kultur turats di Pesantren Tebuireng yang mewarnai zaman Hadratussayikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Sebagai penasihat Mabit, KH. Achmad Roziqi mengumpamakan Mabit ini sebagai Majelis Ulama’ Indonesia (MUI)-nya Tebuireng. Pembina Mabit Gus Mirza M. Mirza mengatakan, “Hasil dari pada Mabit ini harus disebarluaskan melalui media. Harus ada gandengan dengan media yang ada di Tebuireng. Jangan sampai membangun media sendiri, itu berat. Cukup gandeng media lain saja,” katanya.

Di luar hal tersebut, ketua Mabit, Achmad Siddiqur Rozaq, mengusulkan adanya perubahan nama yang semula dari Mabit diubah menjadi Riyadlatu Thalabah. Ia beralasan bahwa nama Riyadlatu Tholabah ini lebih cocok menjadi nama forum kajian ini sebab itu adalah nama yang digunakan oleh forum kajian pada masa KH. M. Hasyim Asy’ari. Nama itu juga diadopsi oleh PP. Al-Falah, Ploso menjadi nama forum kajiannya.

Yang terpenting Pengasuh meminta Mabit punya daya kritis serta kepedulian yang tinggi dan seimbang. Artinya persoalan-persoalan yang dibahas dalam forum ini, tidak hanya berkutat pada masalah luar pesantren, tapi internal pesantren juga harus menjadi perhatian dalam kajian ini. Seperti, kurban, shalat, loundry, dan lain sebagainya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pewarta: Indra

SebelumnyaJangan Tertipu dengan Pelaku Maksiat yang Diberi Nikmat
BerikutnyaSemarak Siswa Aliyah Peringati Maulid Nabi Muhammad