Kewajiban Berlaku Ikhlas kepada Nabi Muhammad SAW

658

Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Bagi setiap mukallaf wajib berlaku ikhlas kepada Nabi SAW Allah Ta’ala berfirman :

لَيْسَ عَلَى الضُّـعَـفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [1]

Ulama ahli tafsir berkata: ”Makna  إذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ maksudnya adalah jika mereka berlaku ikhlas dan pasrah kepada Allah secara rahasia atau terang-terangan.

Diriwayatkan dari Tamim Ad Dari ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ. قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِلَّهِ وَكِتَابِهِ وَرَسُولِهِ وَأَئِمَّةِ الْمُؤْمِنِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Sesungguhnya hakekat agama itu adalah nasehat, sesungguhnya agama itu adalah nasehat, sesungguhnya agama itu adalah nasehat”. Para sahabat bertanya : ”Kepada siapa, wahai Rasulullah ?”. Sabda beliau SAW :”Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin umat Islam, serta seluruh umat Islam”.[2]

Hadis yang sangat popular di atas cukup menjadi dalil bahwa sesungguhnya nasehat itu wajib kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin umat Islam, serta seluruh umat Islam. Dan nasehat itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Al Busti: “Nasehat adalah kalimat yang mengungkapkan sekumpulan keinginan baik kepada orang yang dinasehati”. Dan nasehat ini tidak mungkin diungkapkan hanya dengan satu kalimat. Adapun makna nasehat menurut bahasa adalah memurnikan (ikhlas). Seperti orang-orang Arab mengatakan :نَصَحْتُ اْلعَسَلَ   (saya memurnikan madu) maksudnya adalah   خَلَّصْتُهُ مِنْ شَمْعِهِ (saya membersihkannya dari lilinnya ).

Maka nasehat kepada Allah Ta’ala, maksudnya adalah meyakini dengan benar dengan meng-Esakan-Nya, memberikan sifat kepada-Nya dengan sifat-sifat yang pantas, membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang tidak boleh dan tidak layak bagi-Nya, dan senang melakukan hal-hal yang menyenangkan-Nya, serta menjauhi hal-hal yang membuat-Nya murka.

Nasehat kepada kitab-Nya, maksudnya adalah percaya pada kitab-Nya, mau mengamalkan isinya, dibaca dengan baik dan khusyu’, mengagungkannya, memahami maknanya, mendalami isinya, dan menjauhkan diri dari penafsiran-penafsiran yang melampaui batas dan menjauhkan diri dari usaha orang-orang kafir yang ingin menyelewengkan.

Nasehat kepada Rasul-Nya, maksudnya adalah mempercayai kenabiannya, berusaha dengan segala kemampuan untuk mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, menolongnya dan melindunginya ketika masih hidup atau setelah wafatnya, menghidupkan sunnahnya dengan mencarinya, menyebarkannya dan memeliharanya, dan berakhlak dengan akhlaknya yang mulia dan tatakramanya yang bagus.

Nasehat-nasehat kepada para pemimpin umat Islam, maksudnya adalah mentaati mereka dalam kebenaran, menolong mereka dalam kebenaran, memerintahkan mereka untuk melakukan kebenaran, mengingatkan mereka kepada kebenaran dengan cara yang paling baik, mengingatkan mereka terhadap apa saja yang mereka lengah, ikut menjaga kerahasiaan urusan umat Islam yang mereka tangani, tidak berusaha menyerang mereka, dan tidak memprovokasi orang-orang untuk menjatuhkan mereka.

Nasehat-nasehat kepada seluruh umat Islam, maksudnya adalah memberikan pengarahan mereka kepada kemaslahatan, menolong mereka dalam urusan agama dan dunia mereka dengan ucapan dan pebuatan, mengingatkan yang lupa, memberitahu yang bodoh, memberi bantuan kepada yang membutuhkan, menutupi aib mereka, menolak bahaya yang mengancam mereka, dan berusaha memberikan manfaat kepada mereka.


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] At Taubah ayat 91.

[2] Hadis riwayat Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Nasa’i.