Sumber: 8enam.com

Tebuireng.online- Tanggal 28 September lalu menjadi hari Indonesia kembali mengalami sebuah gejala alam. Gempa dengan skala yang cukup besar; 7,7 SR disusul dengan tsunami dengan perkiraan setinggi 3-4 meter yang menghujam daerah pesisir pantai, yang berada di Palu, Sulawesi Tengah.

Pondok Pesantren Tebuireng yang notabenenya terdiri dari santri yang berasal dari seluruh pelosok negeri juga memiliki santri yang berasal dari Palu.

Lail Nur Wahyudi, ketika kami temui mengungkapkan bahwa ia hanya merasa takut dan sedih, diikuti rasa trauma saat mengetahui tempat tinggalnya terkena dampak dari gempa yang ada di Palu. “Rumahku terkena dampak gempa yang pertama, tempat tinggalku masih berdiri tapi sudah retak-retak tak bisa dihuni lagi,” ungkapnya. Sejauh ini, ia hanya mendapat kabar bahwa keluarganya aman dan selamat ketika gempa itu terjadi.

Lain halnya dengan Khoirul Syafi’i yang mendapat kabar bahwa Palu mengalami gempa melalui teman pada keesokan harinya, “Pertama kali dengar, saya bingung, ingin tanya kabar, kemana?, sudah menghubungi dengan bantuan ustad tapi tidak bias,” jelasnya dengan wajah gelisah.

Ketika ada kesempatan untuk mendapat kabar, ia hanya mengetahui bahwa rumahnya sudah tidak bisa ia tinggali, dan keluarganya mengungsi di daerah yang aman. “Tadi telpon ke pihak rumah, sudah ngga bisa ditinggali, tetapi alhamdulillah anggota keluarga selamat semua,” pungkasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Walaupun para pengungsi diperbolehkan untuk meninggalkan tempat pengungsian dan mencari tempat yang sekiranya lebih aman, keluarga Syafi’i lebih memilih menetap di tempat pengungsian karena seluruh saudaranya berada di tempat yang sama.


Pewarta: Alaik Izzul Haq

Publisher: MSA