Oleh: KH. Ahmad Nur Qomari*

Hampir semua kiai dan Pesantren Al-Qur’an di Indonesia mempunyai peran dalam pembentukan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Juga berperan dalam perumusan dan penetapan Mushaf Standar Indonesia (MSI) termasuk Pesantren Tebuireng Jombang. Jejak kiai dan santri Tebuireng dalam khidmat di Lajnah, dimulai dari zaman awal kemerdekaan.

Diawali oleh KH. Wahid Hasyim ketika menjadi Menteri Agama pada tahun 1951. Putra Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari ini adalah orang pertama dalam kapasitasnya sebagai Menteri Agama menetapkan lembaga pentashih mushaf Al-Qur’an  di bawah Kementerian Agama dengan nama Lajnah Taftisy al-Mashahif asy-Syarifah yang beranggotakan 10 ulama Al-Qur’an Indonesia masa itu. Salah satu anggota Lajnah  adalah KH. Dahlan Kholil Rejoso, santri Tebuireng yang juga guru dari KH. Yusuf Masyhar pendiri Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng.

Jejak nama Kiai Wahid juga bisa kita lihat pada Mushaf Al-Qur’an penerbit Salim Nabhan Surabaya sebagai Menteri Agama yang memberikan tanda tashih mushaf Al-Qur’an pada tahun 1952. Para pentashih saat itu langsung diangkat oleh Menteri Agama.

Jejak selanjutnya dari Kiai Wahid Hasyim berlanjut kepada sepupu beliau Kiai Ilyas yang mengeluarkan Peraturan Menteri Agama No.1 Tahun 1957, yang mengatur tentang Pengawasan terhadap Penerbitan dan Pemasukan Al-Qur’an.  Kiai Ilyas adalah Menteri Agama tahun 1956-1959.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Era 1970-1980an muncul Kiai Sawabi Ihsan yang merupakan Kepala Lajnah pada tahun  1975-1978 dan tahun 1982-1988. Beliau adalah santri Tebuireng juga santri beberapa pesantren lainnya.

Tahun 1984 pada masa kepemimpinan Kiai Sawabi Ihsan ditetapkan Mushaf Standar Indonesia (MSI) baik yang usmani, bahriyah, dan mushaf Braille, yang merupakan  hasil sembilan kali Muker Ulama Al-Qur’an dari tahun 1974 hingga 1983. Tercatat Kiai Tebuireng yang terlibat dalam Muker Ulama adalah KH. Adlan Aly pada tahun 1976 Muker yang kedua. 

Ketika akan menetapkan MSI, Kiai Sawabi sowan kepada para sesepuh Al-Qur’an di nusantara seperti  Kiai Arwani Amin Kudus yang juga santri Tebuireng dan Krapyak Jogja.

Setelah penetapan MSI, Kiai Sawabi Ihsan juga mulai merintis mushaf qiraat dengan menyesuaikan dhobt khas Indonesia. Rintisan itu dapat kita baca di dokumen PTIQ kerja sama dengan Lajnah yang dimulai dari mushaf riwayat Qalun dengan dhommah terbalik untuk bacaan shilah.

Pada tahun 1984 ini juga ada satu santri Tebuireng yang menjadi anggota Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an hingga saat ini yaitu KH. Muhaimin Zen, murid dari Kiai Adlan Aly. Memasuki tahun 1990an kiprah santri Tebuireng dilanjutkan juga oleh Kiai Ali Mustafa Yaqub, santri dari Mbah Idris Kamali menantu KH. Hasyim Asyari.

Kiai Ali Mustafa Ya’qub adalah anggota Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an dari tahun 1995 hingga 2007. Beliau juga ikut terlibat dalam penyempurnaan terjemah Kemenag 2002 yang terkenal dengan terjemah kata aulia pada surah al Maidah 51 dengan teman setia.

Memasuki era tahun 2000an kiprah santri Tebuireng juga terus berlanjut. Seiring dengan berdirinya Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an sebagai satuan kerja tersendiri di Kementerian Agama pada tahun 2007 pada era Kiai Maftuh Basuni yang merupakan menantu Kiai Ilyas menjadi Menteri Agama. Mulai tahun 2007 dan 2008 ini pemerintah mengangkat para pentashih mushaf Al-Qur’an sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan persyaratan hafal Al-Qur’an  30 juz.

Tercatat santri Tebuireng yang masuk sebagai pentashih tahun  2007-2008  adalah Dr. Fahrur Rozir MA., Mustofa Acep M.S.I. Saifudin Elmi M.A.Hum., Dr. Zainal Arifin Madzkur, MA., dan Dr. Ali Fakhrudin. Mereka tidak hanya melakukan rutinitas sebagai pentashih, tetapi juga melakukan kajian keilmuan yang terkait dengan pentashihan.

Dr. Zaenal Arifin Madzkur melakukan penelitian rasm dalam desertasi doktoralnya. Beliau mengkaji konsistensi riwayat Ad-Dani pada MSI. Kajian ini menjadi salah satu rujukan dalam kajian penyempurnaan rasm MSI tahun 2016-2018.

Dr. Fahrur Razi juga melakukan penelitian tentang waqaf ibtida pada seluruh mushaf dunia dalam disertasinya yang berjumlah 2000 halaman. Desertasi ini setara dengan 3 desetasi kata Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA Rektor PTIQ dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Kajian beliau juga menjadi rujukan dalam kajian waqaf MSI tahun ini.

Mustopa, MSI selain pentashih juga peneliti dan (kami memanggilnya) sosiolog. Salah satu penelitiannya adalah  tentang  qiraat dalam mushaf kuno yang kemudian banyak dirujuk dalam penelitian mushaf kuno dan qiraat.

Saifudin M.Hum. Magister dalam Filologi. Ahli dalam kajian mushaf nusantara dan merupakan Kepala Seksi Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal TMII. Dr. Ali Fakhrudin, MA hanya setahun di Lajnah tetapi kiprahnya dapat dilihat dalam penelitiannya di Lektur Khazanah Keagamaan Balitbang Kementerian Agama.

Demikian sekilas jejak khidmah kiai dan santri Tebuireng dari masa awal pembentukan Lajnah hingga menjadi satuan kerja tersendiri di Kementerian Agama dengan para pentashih yang diangkat sebagai Pegawai Sipil. Semoga khidmah Al-Qur’an ini tercatat sebagai kebaikan yang terus berlanjut dari para kiai dan santri Tebuireng untuk Indonesia.

Kata kiai kami, santri Tebuireng punya tanggung jawab sejarah untuk membangun negeri sebagai kelanjutan perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Selamat menyongsong Hari Santri 22 Oktober 2020. Semoga Indonesia sehat, aman sentosa, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin ya robbal alamin. Untuk para ulama dan kiai pentashih Al Qur’an yang telah mendahului kita, lahumul Faatihah…

Pondok Gede, 10.10.2020.

*Penulis adalah Alumni Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng dan Pentashih Al Quran di Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran Kementerian Agama RI.

SebelumnyaIbu yang Relakan Putra Menjadi Syuhada’
BerikutnyaTersenyumlah pada Siapapun yang Bertamu