manusia bertopeng. (sumber ilustrasi: suara.com)

Oleh: Faizal Amin*

Tak jarang dari kita berani melakukan atau berkorban hanya ingin dianggap baik, hebat, dan ingin jadi pusat perhatian. Kita melakukan suatu hal terkadang hanya agar terlihat baik dan disukai hingga membuat senang, dalam artian perilakunya hanya untuk mencari popularitas dan sanjungan se mata, dalam bahasa agama disebut riya.

Tanpa disadari, terkadang seseorang tersebut hanya menjadi hiburan dan bahkan bahan yang ditertawakan. Mungkin iya, hari dimana mereka dilihat baik, sanjungan akan tercurahkan, tapi belum tentu esoknya, bisa jadi dia akan ditertawakan dan dihina, begitulah manusia satu detik bisa berubah pola pandangnya terhadap sesama. 

Itulah kenapa Imam Syafi’i, pernah berkata kepada muridnya Robi’ bin Sulaiman yang diabadikan dalam kitab Hilyatul Auliya:

يا ربيع، رضا الناس غاية لا تدرك، فعليك بما يصلحك فالزمه، فإنه لا سبيل إلى رضاهم

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Wahai Robi’, rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, maka hendaknya engkau mencari perkara yang baik bagimu, lazimilah (tetapilah) perkara tersebut, karena sungguh tidak ada cara untuk meraih rida manusia.”

Para ahli hikmah juga berkata:

رضا الناس غاية لا تُدرك * ورضا الله غاية لا تُترك

فاترك ما لا يُدرك * وأدرك ما لا يُترك

“Rida manusia merupakan tujuan yang tidak bisa diraih, sedangkan rida Allah merupakan tujuan yang tidak boleh ditinggalkan, maka tinggalkanlah apa yang tidak bisa diraih, dan raihlah apa yang tidak boleh ditinggalkan.”

Maka tidak sepantasnya, kita selalu mengajar sanjungan manusia karena hal tersebut hanya membuang-buang tenaga, kejarlah ridho yang maha kuasa, karena jika Allah Swt. meridaimu maka siapa yang berani membencimu.

Dalam sebuah kalam hikmah dikatakan:

إذا كان الله معك فمن عليك ؟

 وإذا كان عليك فمن معك؟

“Jika Allah bersamamu, maka siapa yang akan membencimu?

Jika Allah membencimu, maka siapa yang akan bersamamu?”

Maka fokuslah mencari rida Allah Swt. niscaya dengan sendirinya manusia akan mencintai kita, carilah rida Allah dengan cara menjalankan syariat-Nya, jangan sampai meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah Swt. hanya demi terlihat baik di hadapan manusia.

Rasulullah saw. bersabda;

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ ، بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاس

“Barangsiapa mencari keridaan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan rida kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia rida kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridaan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no.276. Syuaib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya Hasan”)

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaIntip Kegiatan Mahasiswa AMSP Unhasy di Lokasi
BerikutnyaPahlawanku Teladanku