Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #13

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Riwayat kepakaran Pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dijelaskan dalam berbagai buku, seperti buku yang ditulis oleh Solihin Salam, Akarhanaf, As’ad Shihab, dan buku-buku lain.

Yang cukup lengkap dan tajam analisisnya yaitu buku “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, Kebangsaan (Zuhairi Misrawi, 2010)”, menjelaskan bahwa beliau merupakan pemilik sanad Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang sambung sanadnya langsung kepada Rasulullah SAW melalui penyusun kitab, yaitu Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari telah hafal ribuan hadits yang diperoleh dari guru-gurunya dengan sanad keilmuan yang jelas. Berbeda dengan sanad amalan-amalan spritual, misal wirid, hizb, sholawat, dll, geneologi atau sanad sebuah kitab tidak bisa diijazahkan kepada seseorang yang tidak menguasai dan memahami kitab tersebut melalui sistem pengajaran dari guru-guru pemegang sanad itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kepakarannya di bidang hadits juga diakui oleh guru beliau sendiri selama nyantri di Kademangan Bangkalan. Syaikhona Kholil. Bahkan Kiai Kholil, dalam satu riwayat yang masyhur tidak segan-segan berguru tentang ilmu hadits kepada Kiai Hasyim Asy’ari dengan sistem pasanan, pasaran, atau kilatan selama 3 bulanan.

Dalam bahasa Kiai Ubaidullah Shidaqoh Semarang, kealiman Kiai Hasyim Asy’ari mendekati tingkatan seorang mujtahid. Mujtahid dapat dikatakan ialah orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur’an dan Hadits. 

Seperti juga penuturan santri beliau, KH. Affandi Ngronggot Nganjuk, bahwa yang datang ke Tebuireng untuk mengaji kitab Bukhori-Muslim selama jelang sampai akhir Ramadan, mencapai ribuan, dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar Jawa, seperti Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan NTB.

Santri beliau yang lain, KH. Abdurahman Badjuri, menceritakan bahwa sampai-sampai, saat itu, orang mengaji bisa sampai halaman pondok, bahkan hampir ke gerbang pondok untuk mengaji, karena masjid dan emper rumah beliau tidak muat.

Tidak hanya saat Ramadan, KH. Abu Bakar, santri beliau yang lain, menyaksikan bahwa Kiai Hasyim juga memberikan pengajaran kepada para santri senior mengaji khusus kitab-kitab yang cukup berat dan tebal, termasuk juga kitab-kitab hadis.

Kiai Abu Bakar mengidentifikasi umur santri-santri senior itu, kira-kira bisa di atas 40 tahun dengan jumlah yang banyak. Mereka adalah guru kelas di Tebuireng, juga ada beberapa dari masyarakat dan pengajar di pondok sekitar Tebuireng.

Meskipun hafal ribuan hadits dan kealimannya mendekati level mujtahid, Kiai Hasyim Asy’ari masih memberikan ruang musyawarah dengan kiai-kiai di Jawa dan Madura seperti misalnya saat mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 dalam rangka melawan agresi militer Belanda II.

Bahkan saat sebelum kemerdekaan, beliau mengumpulkan ulama nusantara dengan jumlah 600-700 ulama dari penjuru Indonesia untuk bermusyawarah dan berdoa untuk kemerdekaan dan keselamatan bangsa. Ini juga disaksikan oleh KH. Abdurrahman Badjuri dan KH. Rusmani, dua di antara santri beliau.

Kiai Ruhan Sanusi bahkan menjelaskan bahwa Kiai Hasyim tidak mau langsung menjawab pertanyaan seputar agama dari masyarakat. Melainkan beliau mengundang santri-santri senior untuk berdiskusi di kediaman beliau, sampai diputuskan. Beliau hanya berdoa. Maka sangat aneh dan lucu jika orang-orang sekarang dengan mudahnya menuduh syirik, sesat, bid’ah, dan kafir terhadap sebuah amalan ibadah.

Padahal, mereka hanya membaca hadits terjemahan, bahkan mereka tidak segan-segan mengobral fatwa dengan hanya bermodal hafal beberapa hadits. Beliau saja ahli hadis, sanadnya bersambung ke Rasulullah lewat jalur mu’tamad (terpercaya) dan valid, malah tidak ingin menggurui, justru suka berdiskusi dan mengadakan majlis mujahadah keilmuan.

Memang tidak ada kitab atau keterangan dalam manuskrip manapun, yang menjelaskan silsilah sanad keilmuan hadis beliau yang langsung menyebut nama beliau, tetapi ada referensi khusus yang menerangkan sanad keilmuan hadis beliau melalui Syaikh Mahfudz Termas, yaitu dari Kitab Kifayatul Mustafid Lima ‘Ala min al Asanid karya Syaikh Mahfudh Termas, salah seorang guru hadist Kiai Hasyim Asy’ari.

Berikut silsilah sanadnya:

Sanad Shahih Bukhori

Jalur pertama:

1. KH Hasyim Asy’ari

2. Dari Syaikh Mahfud Termas.

3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki.

4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi

6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani

7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi

8. Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri

9. Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri

10. Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri

11. Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili

12. Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri

13. Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho

14. Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari

15. Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani

16. Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi

17. Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar

18. Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali

19. Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi

20. Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi

21. Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi

22. Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri

23. Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni: Al-Imam Al-Hafid Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari

Jalur kedua:

1. KH Hasyim Asy’ari

2. Dari Syaikh Mahfudz Termas

3. Dari Sayyid Husain Al-Habsyi

4. Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi

5. Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar

6. Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’i

7. Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi

8. Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi

9. Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali

10. Dari ayahnya

11. Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi

12. Dari Baba Yusuf Al-Hirawi

13. Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani

14. Dari Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani

15. Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary

16. Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Sanad Kitab Shahih Muslim

Berikut ini adalah sanad kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab:

1. KH Hasyim Asy’ari

2. Dari Syaikh Mahfud Termas.

3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki.

4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi

6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani

7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi

8. Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi

9. Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi

10. Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi

11. Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli

12. Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari

13. Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath

14. Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi

15. Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati

16. Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi

17. Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi

18. Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi

19. Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi

20. Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi

Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)

Demikan adalah sanad keilmuan hadis KH. Hasyim Asy’ari yang patut kita tahu, karena jumlah muhadist di Nusantara tidak sebanyak bidang keilmuan agama lain, seperti fikih, kalam, tasawuf, Al Quran, dan ilmu alat. Wallaua’lam.

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaPendidikan bagi Perempuan, Ketahui Alasan Ini
Berikutnya3 Kesalahan yang Sering Diremehkan Wanita