Disadari atau tidak, dunia kita saat ini telah berubah. Kehadiran dan perkembangan teknologi (internet) membawa kita pada dunia baru. Dunia tanpa batas dan tak terikat waktu. Semua orang bisa saling mengenal, berinteraksi, bahkan memuji dan mencaci dalam satu waktu; tanpa bertemu, melainkan melalui layar-layar teknologi yang mereka gunakan.

“Kita semua menyadari bahwa internet (teknologi) bersama dengan perangkat keras dan perangkat lunak digitalnya yang terus berubah itu telah mengubah dunia, mengubah kita. Tapi kebanyakan dari kita tidak begitu yakin perubahannya, apakah itu lebih baik atau lebih buruk?”

Pernyataan sekaligus pertanyaan itu membuat Mauludi (2018) meletakkan pembahasan “Nalar Kritis yang Berharga” berada pada bagian pertama. Mengapa? Hal ini merupakan sebuah pengingat bagi pembaca yang sedang menikmati perubahan dunia yang begitu cepat, agar tetap bisa berpikir secara kritis terhadap sikap dan keputusan menghadapi dunia digital ini.

Kutipan di atas, mengingatkan saya pada teori determinisme teknologi yang dikemukakan oleh pakar media dari Kanada, McLuhan (1994) “kita membentuk alat-alat, dan setelah itu alat-alat yang membentuk kita.” Pernyataan tersebut berkesinambungan dengan pembahasan dalam buku ini, yaitu tentang apa yang dikhawatirkan penulis terhadap masyarakat digital.

Berbicara tentang masyarakat digital, penulis secara tegas mengungkapkan bahwa “generasi milenial menjadi unsur bangsa yang akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Jumlah mereka setengah dari seluruh penduduk Indonesia yang menjadi penentu perubahan. Generasi milenial terkait erat dengan internet, sehingga nasib bangsa Indonesia berada ‘di ujung jari’ mereka.” (hal. 67)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Siapa generasi milenial itu? Jawabannya adalah kita. Nasib bangsa dan negara di dunia baru ini ada di tangan kita. Apakah kita sudah memanfaatkan teknologi dengan tepat sebagai bentuk perubahan bangsa yang baik? Apakah kita pengguna yang cerdas, atau kita adalah bagian dari kebanyakan orang yang hanya heboh mengumbar hal-hal meresahkan?

Kita ketahui bersama, sejauh ini banyak sekali kekacauan dan perpecahan akibat hoaks dan hal lain yang sangat merugikan bangsa dan negara. Hal tersebut tak sedikit bersumber dari teknologi komunikasi dan informasi yang kita gunakan, salah satunya adalah media sosial.

Dalam buku ini, penulis berulangkali menyebut peran dan posisi generasi milenial sebagai garis penentu nasib bangsa di dunia baru. Menurutnya, kita sedang berada di “fase yang menentukan”. Menentukan, apakah bangsa dan negara akan mengalami kemajuan yang lebih baik dengan adanya teknologi digital atau malah sebaliknya?

Adapun bagian penting tentang dunia baru dan masyarakat digital yang dibahas dalam buku ini adalah; bagaimana masyarakat tetap menggunakan nalar kritis di dunia digital, tentang dunia kita yang sudah terkoneksi internet, masyarakat saatnya memahami UU ITE, masyarakat terselamatkan dari “pelaku atau korban” hate speech dan cyber bulliying, mengenalkan masyarakat terhadap internet sehat dan produktif, serta pentingnya membangun literasi digital agar bangsa-negara lebih baik dan maju.

Hal yang menarik dan menjadi kelebihan buku ini adalah tidak sekadar memberikan konsep dan teori saja. Lebih dari itu, buku ini telah mengkaji dan mempertanyakan secara kritis beragam persoalan yang muncul dalam masyarakat digital dan mengajak pembaca untuk selalu bertanya dan bersikap kritis terhadap penggunaan media.

Sejauh membaca buku ini, saya belum menemukan kekurangan, baik dari konsep, teori, dan contoh riil yang dibahas atau cara penulis menyajikan tulisannya. Sehingga saya berani merekomendasikan buku ini menjadi salah satu panduan lengkap bagi “masyarakat digital”.

Saya merekomendasikan buku ini kepada Anda, dan kepada siapa pun yang merasa perlu memahami bagaimana menjadi masyarakat digital yang baik. Buku “Socrates Cafe” sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang merasa memiliki peran penting dalam menentukan kehidupan bangsa dan negara di era digital. Apakah Anda termasuk orang itu? Pikirkan dan ambillah tindakan..!

Judul buku: SOCRATES CAFE (Bijak, Kritis, dan Inspiratif Seputar Dunia & Masyarakat Digital)
Penulis: Sahrul Mauludi
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal halaman: 298 halaman
Pengulat buku: Rara Zarary (siswa “Sekolah Membaca” Majalah Tebuireng)

SebelumnyaAgar Tidak Salah Kaprah, Baca Pemahaman Kesetaraan Gender
BerikutnyaIni Niat dan Keutamaan Puasa Bulan Rajab