Tebuireng.online- Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) mengadakan seminar nasional dialog mahasiswa yang dihadiri oleh KH. Irfan Yusuf Hasyim, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus.,M.Sc dan Hj. Mu’linah Shohib dengan mengangkat tema “Revitalisasi dan Kaderisasi Ormawa Fakultas Agama Islam Menuju Kepemimpinan yang Demokratis”. Bertempat di gedung A lantai 3 Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) pada Kamis (01/06/2022) pukul 08.00 WIB, acara ini dihadiri segenap mahasiswa Unhasy.

“Kita membuat dialog mahasiswa dengan tujuan untuk meningkatkan minat serta wawasan mahasiswa tentang sosial politik di dalam kampus. Sehingga, kita dapat menonjolkan generasi yang aktif dalam organisasi mahasiswa FAI. Alasan mengambil tema revitalisasi itu sendiri harapannya adalah agar dapat mengubah Ormawa Fakultas Agama Islam yang lebih baik ke depannya,” ujar Ahmad Zakir Haidar selaku ketua BEM FAI.

“Kita menyadari bahwa di Indonesia ini semakin tinggi kesadaran tentang betapa pentingnya santri dan santriwati dalam menentukan arah kehidupan bangsa kita. Hari ini tepat pada tanggal 1 Juni 1945 yang diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang menjadi misi khusus kita adalah menghindari agama yang sekuler, bukan berarti rakyatnya tidak boleh beragama tetapi kita juga tidak ingin terkategorikan sebagai agama tertentu saja,” begitu kata Wakil Gubernur Jatim, Bapak Emil Dardak.

Menurutnya, Indonesia mengaktifkan sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa bukan hanya sekedar monggo kerso, bukan beribadah sak kersanipun panjenengan sedoyo (silahkan beribadah sesukamu).  Ada satu relasi antara negara dan agama yang tidak bisa dipisahkan dan ini sebenarnya berlaku bagi semua pemeluk agama. Jadi, bagaimana menggerakkan ekosistem untuk kondusif dalam memeluk agama untuk bisa mendalami.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Salah satu contohnya, lanjutnya, adalah pendidikan agama yang dicantumkan pada kurikulum pendidikan formal. Apabila pendidikan agama ini dihilangkan, maka akan berdampak besar terhadap konsep dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Saya merasa bersyukur karena pemuka agama dan juga santri dan santriwanti ini memeluk agama yang berarti memiliki jiwa-jiwa Pancasila Bhinneka Tunggal Ika dan mampu memadati keberagaman, karena Indonesia adalah negara yang boleh dibilang satu-satunya negara yang dominan kalau dilihat.


Pewarta: Anisa F.

SebelumnyaPatuhi Ketentuan Ini, Ribuan Santri Tebuireng Kembali ke Pondok Pesantren
BerikutnyaBangun Silaturahmi, Pesantren Tebuireng Aktifkan IKAPETE Daerah