Pengasuh Pesantren Tebuireng, Kh. Salahuddin Wahid menyampaikan sambutannya dalam acara Festival Pengawasan Pemilu di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (04/08/2018). (Foto: Kopi ireng)

Tebuireng.online— Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI) menggandeng Pesantren Tebuireng untuk menyelenggarakan acara Festival Pengawasan Lintas Iman (Sabtu, 4/8/18) di Pesantren Tebuireng. Acara ini dalam rangka mengampanyekan Pemilu damai untuk menyambut pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD, dan Calon Presiden beserta Calon Wakil Presiden 2019 nanti.

Pengasuh Pesantren Tebuireg, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) selaku tuan rumah menyampaikan terima kasih kepada Bawaslu RI yang telah memberi kepercayaan kepada Pesantren Tebuireng untuk menjadi tempat berlangsungnya kegiatan yang dihadiri oleh tokoh lintas iman ini.

Dalam sambutannya Gus Sholah menuturkan beberapa fenomena yang terjadi pada saat pemilu berlangsung. Salah satunya yang dicontohkan, yaitu pemilihan Gubernur DKI Jakarta. “Kita telah merasakan bagaimana atmosfer saat pilgub DKI Jakarta dulu, panas dan tajam. Tetapi sudah menurun saat Pilkada 2018 dan mulai panas lagi saat menjelang Pilpres ini” tutur Gus Sholah.

Mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini ini juga menyampaikan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, di mana perbedaan suku, agama, ras, dan lain-lain, merupakan suatu keniscayaan. Bagi tokoh 76 tahun itu, Indonesia termasuk dalam Negara yang maju dalam pemilu, sehingga rakyat mempunyai tugas bersama yang harus diemban, yakni semangat persatuan, kebersamaan, dan Bhineka Tunggal Ika.

Di akhir sambutannya, Gus Sholah menyampaikan pesan kepada para guru, khususnya di lingkungan Pesantren Tebuireng agar tidak mudah membagikan berita yang tersebar masif di media sosial, terutama WhatsApp.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Para ustadz dan ustadzah di Tebuireng, saya berharap agar bisa menahan diri untuk tidak membagikan berita di grup Whatsaap yang belum tentu kebenarannya (hoaks). Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak kita sadari bisa melanggar hukum,” pungkas adik Gus Dur.

Sosialisasi pemilu damai, jujur, anti hoax, dan SARA ini telah dilakukan oleh Bawaslu RI secara masif di 71 daerah di Indonesia. Bawaslu RI merangkul tokoh agama di tiap-tiap daerah agar mengampanyekan pemilu damai ini kepada jamaahnya. Bawaslu RI berharap agar rakyat Indonesia bersama-sama menekan money politic yang dapat menodai demokrasi itu sendiri.


Pewarta:            Aulia Rahmah

Editor/Publisher: Aros

SebelumnyaBawaslu Minta Tokoh Agama Ikut Awasi Pemilu
BerikutnyaPelepasan Merpati, Simbol Pemilu 2019 Damai