tebuireng.online— “Perbedaan membuat kita semakin kuat” itulah tema besar acara silaturahmi kerja sama antara Komisi Net Working dan Misi GKI Klasis Bojonegoro dengan Jaringan Gusdurian Jawa Timur yang diadakan di Mahavihara Trowulan Mojokerto pada 17 Januari 2015. Dihadiri oleh oleh peserta jaringan GUSDUR-ian se Jawa Timur dari masing-masing klasis (rayon) dengan latar belakang agama yang berbeda serta tokoh-tokoh lintas agama.

“Agama sekarang layaknya fast food, orang jadi malas untuk berproses. Bahkan, tidak berpikir bahwa apa yang dilakukan di bumi bisa jadi bakal di akhirat, maunya instan biar dapat surga seperti melakukan bom bunuh diri agar dapat surga” ungkap pendeta Simon Filantropa. “Ketika kita berbuat baik  pada semua orang, kita tidak akan ditanya apa agama, suku, maupun ras kita”, ungkap Pendeta Simon mengutip perkataan Gus Dur.

Sedangkan menurut Aan Anshori, Koordinator Gusdurian Jawa Timur menyatakan bahwa tantangan bangsa ke depan diantaranya adalah memperkuat solidaritas anak bangsa dalam memperkuat NKRI, mengkampanyekan gerakan toleransi antar umat beragama, dan mendesak pemerintah berkomitmen melindungi kelompok minoritas. 

“Sebarkan kebenaran ini demi bagi kebahagiaan bagi semua makhluk, kebenaran itu disebarkan kepada semua orang tak memandang dari agama apa”, terang Banthe Vijjananda dari Mahavihara Trowulan Mojokerto dalam sambutannya,

Acara kerja sama silaturahmi lintas iman yang bekerja sama dengan Gusdurian ini juga mendengarkan jajak pendapat dari tiap-tiap pewakilan klasis di Jawa Timur tentang isu-isu kerukunan umat beragama di daerah masing-masing. Dari penjelasan tiap-tiap klasis tersebut ternyata masih banyak ditemukan masalah intoleransi antar umat beragama di berbagai daerah seperti sulitnya membangun rumah peribadatan di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di akhir acara diadakan sharing dalam rangka merumuskan kerja-kerja keadilan dan perdamaian di Jawa Timur yang melahirkan kesepakatan dalam menjaga toleransi di Jawa Timur.  Akhirnya diambil kesepakatan bersama yang terdiri dari beberapa poin mengenai menjaga toleransi dan perdamaian antar agama di Jawa Timur dengan melahirkan sebuah kesepakatan yag diberi nama “Deklarasi Trowulan”. (Dewi/Nuzul/Abror)

activate javascript

SebelumnyaPengasuh Pesantren Tebuireng Periode Ketujuh KH. Salahuddin Wahid (2006-sekarang)
BerikutnyaMenag: Masyarakat Belum Paham Tentang Thariqah