Sumber gambar: https://rachdie.wordpress.com/2016/01/05/jadikan-anak-penghafal-al-quran/

Oleh: Dyan Putri Sagita Anggraini*

Aku adalah seorang gadis yang sejak lahir ditakdirkan Allah tidak bisa melihat indahnya dunia. Namun keyakinanku pada Allah semakin kuat. Saat aku bingung memaknai kehidupan sekelilingku, aku berserah diri kepadaNya. Aku tidak bisa melihat indahnya dunia, tidak bisa memandang wajah ayah dan ibuku bahkan wajahku sendiri pun aku tidak bisa melihatnya.

Biarpun ejekan dari teman-teman sebaya yang terus menerus menerkaku tapi tetap aku cuek meskipun aku sempat berpikir ketidakadilan Tuhan, kenapa aku diciptakan seperti ini tidak bisa seperti teman-teman ku yang lain, gumamku pada diri sendiri. Dunia ini terasa gelap. Namun nasihat-nasihat ibu yang selalu menenangkan hati membuatku yakin bahwa Allah tidak mengujiku dengan keadaan buta melainkan untuk memberiku sesuatu yang luhur lagi agung dan mengampuni dosa-dosaku.

Ketika aku menginjak usia 11 tahun aku memutuskan untuk melanjutkan ke dunia pesantren, pesantren itu mau menampungku dengan keadaan yang terbatas seperti ini. Pasti pengurus harus mempunyai kesabaran yang ekstra karena keadaanku tidak seperti teman-temanku. Sudah 7 pesantren menolakku dengan alasan yang berbeda. Akhirnya bapak mengantarkanku kesebuah pesantren di Probolinggo dan lagi-lagi tidak diterima. Mungkin ini semua sudah takdirku dan aku putuskan untuk tidak melanjutkan sekolah.

Setelah hampir sebulan aku hanya membantu ibu di rumah akhirnya bapak mendatangkan ustadzah setiap sore untuk mengajariku mempelajari Al Quran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Assalamualaikum,” sapa ustadzah

“Waalaikumsalam ustadzah,” balasku

“Gadis yang manis siapa namamu sayang?” tanyanya

“Nanda ustadzah. Ustadzah sendiri siapa namanya?”

“Nama yang cantik, nama ustadzah Zita.”

Perkenalan kami pun berkelanjutan dan membuatku semakin nyaman dengan Ustadzah Zita dengan kelembutan sifatnya.

Hampir 3 bulan, aku pun belum bisa lancar untuk membaca Al Quran dan aku pun dikagetkan dengan berita yang membuat aku terpuruk. Ustadzah Zita telah pergi dan tidak akan kembali untuk mengajarku lagi. Pertemuan yang sangat singkat dan menyayat hati, kenapa harus seperti ini ya Rabb, mataku basah dengan kabar itu. Semoga amal ibadahmu di terima di sisi-Nya ustadzah Zita, doaku dengan bibir gemetar.

Tidak lama setelah kepergian ustadzah Zita, bapak kembali menawarkanku untuk belajar Al Quran lagi, tetapi untuk saat ini gurunya tidak datang ke rumah, melainkan aku yang harus berjalan ke rumah guru tersebut.

“Nak, mulai nanti sore bapak antarkan kamu ke rumah guru kamu yang baru,” ucap bapak.

“Iya bapak,”

“Kamu jangan nakal di sana tidak usah pulang dulu sebelum bapak menjemputmu,” saran bapak.

“Iya bapak aku akan menunggu bapak untuk menjemput,”

Hari mulai sore aku pun diantarkan bapak untuk pergi belajar Al Quran. Tapi sayangnya aku hanya bisa belajar sekali dalam sepekan bahkan hanya diajarkan satu ayat saja. Aku mencoba memberanikan diri meminta agar ditambahkan harinya, dan alhamdulillah guru tersebut menambahinya menjadi tiga hari dalam sepekan. Senang banget hatiku.

Tidak seperti yang kuduga guru baruku sangat beda jauh dengan almh. Ustadzah Zita, guru baruku lebih berhati-hati dalam mengajarku dan selalu saja aku disuruh mengulang. Mengaji tanpa melihat tulisan hanya dengan meraba Al Quran versi cetak braile dan mendengarkan guru mengaji tentu sangat membuatku kesulitan. Ketika itu aku merasakan kesulitan entah mengapa saat itu aku meneteskan air mata.

“Mengapa kamu menangis nak? Apakah ada yang salah dengan perkataan ustad?” tanyanya.

“Tidak ustad. Aku ingin seperti ustad yang bisa lancar membacanya tanpa kesusahan tidak seperti aku,” jawabku masih dengan mata cukup basah.

“Nak, tidak menutup kemungkinan yang lebih diselamatkan Allah ketika diakhirat itu kamu, bukan ustad,” jawab ustad dengan nada terbata-bata.

“Kok bisa begitu ustad? bukankah ustad lebih pintar dari saya, dan bukankan ustad bisa selalu membaca Al Quran ketika setiap hari?”

“Ketika di akhirat Allah akan memepertanggung jawabkan semuanya nak, bahkan mata pun juga dimintai pertanggung jawaban. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Jangan malu dengan cacat yang kamu alami nak. Semoga Allah meringankan perhitunganNya untuk kamu pada hari kiamat kelak,” papar ustad.

Dari momen itu, aku mulai menghafal. Dan keinginananku itu sangat didukung oleh ustad untuk menghafal Al Quran. Aku memulai hafalanku sendiri dengan metode mendengarkan murotal ustad Yusuf Mansyur yang aku ulang-ulang sendiri. Kadang-kadang aku bersungguh-sungguh, namun kadang pula semangatku melemah karena keadaanku yang seperti ini. Namun ketika malas itu datang aku selalu teringat nasihat ustad yang beberapa saat lalu disampaikan kepadaku. Aku berusaha tetap menghafal dan tetap meminta bantuan Allah dengan shalat dan istigfar. Ketika aku membaca firmanNya yang artinya: “Berkata Musa, “Itulah mereka sedang menyusuliku dan aku bersegera kepada-Mu ya Tuhanku, agar supaya engkau ridla (kepadaku)” (thaha:84). Tangisku tiba-tiba mengucur deras, merasa dalam waktu dekat aku akan mati.

Aku sempurnakan perjalanan hafalan berpindah dari ayat ke ayat untuk disetorkan ke ustad. Pada saat yang bersamaan melawan rasa sakit, melawan bisikan setan dan nafsuku sendiri. Tapi dengan apa aku akan menghadap Allah? Aku mengharap penolong, aku inginkan penghibur dalam kuburku. Ketika aku kesusahan dalam menghafal sesering kali aku down dan dunia sudah benar-benar gelap, aku merasa tidak mungkin bisa menghafal Al Quran 30 juz dengan keadaanku yang tunanetra. Hampir saja aku meninggalkan amalan mulia ini. Tetapi lagi-lagi ustad selalu memotivasiku mengatakan bahwa aku bisa hafal 30 juz.

Hari-hari berlalu, bulan pun juga berlalu, bahkan tahun pun ikut berlalu. 3 tahun sudah aku berjuang menghafal Al Quran dengan keadaan yang tidak bisa melihat. Aku ingin bersungguh-sungguh dalam menghafal ketika aku belum menambah hafalan aku memutuskan untuk tidak tidur. Aku menghafal dengan puncak konsentrasi dan kebahagiaan. Sampai aku mencapai kemuliaan hafalan.

Dan akhirnya, aku mendengarkan surat An-Nas, Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku sampai di sini, bisik hatiku seraya mungucurkan air mata yang belum pernah terasa manis sebelumnya. Aku menangis dari relung hati yang terdalam. Aku telah hafal Al Quran sebagaimana orang yang diajukan untuk mendengar di depan malaikat dan pemimpin orang-orang syahid.

Dengan khatam ini, aku merasa seperti baru dilahirkan. Segala puji bagi Allah yang maha mampu atas segala sesuatu. Dan ketika menghendaki suatu perkara, dia katakan padanya, “Jadilah! Maka terjadilah”. Ketika itu aku merasa ajal mendekat. Tetapi perasaanku tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku merasa senang, karena akan bertemu denganNya, sedang aku telah menghafal kitabNya.

Teringat sebuah Hadist yang dibacakan oleh ustad untukku. Keutamaan seorang penghafal Al Quran yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya: “Dari Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab, ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al Quran berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal Al Quran tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya, ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal AlQuran.’ Kemudian, kepada penghafal Al Quran tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).”

Subhaanallah terimakasih Tuhan, ustad, bapak, ibu, ustadzah Zita yang selalu memberi nasihat kepadaku, memberikan motivasi sehingga aku menjadi orang seperti ini genap di umurku 16 tahun aku menyandang gelar hafidzah. Dan kalian, teman-temanku, bersyukurlah kalian yang diberi kesempatan untuk melihat dunia, jangan sia-siakan penglihatan itu perbanyaklah untuk mengagungkan ayat-ayatNya.


*Penulis adalah mahasiswi semester IV PAI, STIT-UW  Jombang.

SebelumnyaPeninggalan Kehancuran Kaum Tsamud
BerikutnyaKisah Seorang Pembegal Menjadi Ulama Ahli Ibadah