ilustrasi

Pujian umat kepada Rasulullah merupakan bukti rasa cinta mereka kepadanya. Kecintaan ini termasuk dasar-dasar keimanan sebagimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Artinya: Demi zat yang jiwa Muhammad dalam kekuasaanya, tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai dari ayah dan anaknya.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga disebutkan:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai dari anak dan ayah dan seluruh manusia.

Kecintaan seseorang kepada Rasulullah menunjukkan kecintaannya kepada Allah. Siapa saja yang mencintai seorang raja pastinya dia mencintai untusan raja tersebut, sedangkan Rasulullah merupakan utusan serta kekasih Allah, Tuhan sekalian alam.

Sebagian orang berpendapat memuji Rasulullah itu merupakan hal terlarang berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari:

لاَ تَطْرُونِي كَمَا اَطْرَتِ النَّصَارَي عِيْسَي ابْنَ مَرْيَمَ فَاِنَّمَا اَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

Artinya: “Janganlah kalian memujiku seperti kaum Nasrani memuji ‘Isa anak Maryam karena aku adalah hamba Allah maka katakanlah kepadaku hamba Allah dan utusanNya.”

Perlu kita kaji kembali apa maksud kalimat “memuji” di hadits tersebut. Menurut Syeikh Ali Jum’ah dalam kitab Al Bayan (Al-Maqtaf, 2015), Kalimat memuji di hadits tersebut bermakna memuji dengan kebathilan, yaitu pujian yang sampai ke taraf mengagung-agungkan seseorang seperti mengangungkan Tuhan dengan menyifati Rasulullah dengan sifat-sifat yang hanya layak pada Allah.”

Hal ini dibuktikan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa “suatu hari seorang wanita memuji Rasulullah di hadapannya dengan mengatakan “Di antara kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok.” Kemudian Rasulullah menjawab: “Jangan engkau mengatakan seperti itu.”

Adapun pujian yang tidak sampai ke tingkatan seperti itu, maka hukumnya boleh dengan dalil hadits riwayat Imam Thabrani:

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَحِمَهُ اللَّهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَمْدَحَكَ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَاتِ لاَ يَفْضُضِ اللَّهُ فَاكَ , فَأَنْشَدَ الْعَبَّاسُ ، يَقُولُ :وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الأَرْضُ وَضَاءَتْ بنورِكَ الأُفُقُ فَنَحْنُ فِي الضِّيَاءِ وَفِي النُّورِ وَسُبْلُ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Artinya: “Suatu Ketika kami berada di dekat Rasulullah, kemudian Sayyidina ‘Abbas bin Muthallib berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah saya ingin memujimu. Lantas Rasulullah bersabda “Silahkan, Allah tidak akan menyepuh mulutmu.” kemudian Sayyidina ‘Abbas melantunkan sya’ir: Dan engkau di saat dilahirkan, bumi ini bersinar  dan langit-langit menjadi terang. Maka kami dalam sinar dan cahaya sehingga  jalan-jalan kebenaran pun bisa kami lewati”.

Pada hadits tesebut dengan jelas Rasulullah mengakui perbuatan sang paman yang memujinya tanpa ada ingkar. Ini menjadi dalil dianjurkannya memuji Rasulullah. Sahabat yang memuji Rasulullah semasa hidupnya bukan hanya pamannya, namun juga masih banyak yang lain seperti Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawwaahah dan lain-lain.

Bahkan, di antara para sahabat ada yang memuji Rasulullah di dalam masjid dan dipakaikan ridak oleh Rasulullah saw sebagai ganjaran terhadap apa yang telah dilakukan, yaitu Sayyidina Ka’ab bin Zuhair. Hal tersebut tentunya bukti yang kuat kalau memuji nabi itu merupakan salah satu amalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan siapa saja yang melantunkan pujian kepada Rasulullah di masjid akan mendapat pahala yang besar.

Banyak faedah yang diperoleh bagi orang yang memperbanyak pujian kepada Rasulullah. Diantaranya yang paling besar adalah meningkatkan rasa cinta kepada  Rasulullah dan melekatnya sifat-sifat mulia Rasulullah dalam jiwa si pembaca. Sehingga jika panjatan pujian selalu diulang-ulangi maka gambaran rupa Rasulullah akan selalu terbayang  dalam hatinya di setiap kegiatan yang sedang dia lakukan hingga ia mampu melihat Rasulullah dalam mimpinya. Hal tersebut merupakan perkara yang besar yang tidak sanggup dicapai oleh siapapun yang menginginkannya.

Syeikh Yusuf An-Nabhani dalam kitab Al-Majmu’ah An-Nabhaaniyyah (Darul Fikr, 2004) mengatakan: “Jika telah banyak rasa cinta seseorang kepada Rasulullah dengan memperbanyak shalawat kepadanya, membaca gubahan kalimat yang mengandung pujian, mukjizat dan segala kelebihannya  diiringi dengan rasa cinta yang sangat dalam dan amalan shalih, maka dia akan naik derajatnya dari mampu melihat Rasulullah di alam mimpi hingga melihatnya di alam sadar.” Tentunya itu merupakan karunia Allah yang hanya diberikan kepada siapapun yang dikehendaki.

Oleh karena itu, selama napas masih terhembus dan Allah masih memberikan kepada kita kebugaran jasmani hendaklah kita membuktikan rasa cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak bershalawat, menghadiri majelis maulid dan memperbanyak membaca sejarah kehidupannya. Sungguh seberapa banyak pun waktu yang kita luangkan untuk itu tidak akan setara dengan pengorbanan yang diperjuangkan oleh baginda Rasulullah. Semoga Allah selalu melimpahkan taufiqnya kepada kita dan seluruh umat islam. Amin.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW Ala KH. M. Hasyim Asyari (Bagian-1)


 
Penulis: Syauqas Rahmatillah