Judul Buku: “Spirituality of Happiness” Spritual Baru Abad 21 Narasi Ilmu Pengetahuan
Penulis: Denny JA
Penerbit: Cerah Budaya Indonesia, Jakarta Selatan
Halaman: XIII + 132
Perensensi: Dimas Setyawan*

Manusia sebagaimana fitrahnya selalu ingin merasa hidupnya nyaman, tentram, damai sentosa. Secara tidak langsung, manusia menginginkan kehidupan bahagia. Baik ketika di dunia maupun kelak telah berada di akhirat. Salah satu cara manusia menggapai kebahagiaan di dunia ialah dengan kemakmuran dan kesejahteraan sosial.

Dalam buku ini dijelaskan tentang Global Burden of Diase Study 2010 yang melaporkan bahwa manusia yang kelebihan kalori karena penyakit yang berhubungan dengan obesitas, kini lebih banyak ketimbang mereka yang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan kelaparan.

Lalu, bila saja dengan kemakmuran sosial yang ada di dunia, dan telah dapat dirasakan oleh manusia tidak  membawa sebuah kebahagiaan, maka kemakmuran bukan salah satu faktor yang dapat membawa manusia pada kebahagiaan. Justru sebaliknya, kemakmuraan membawa petaka sekaligus bencana kematian yang cukup besar.

Bila saja kemakmuran sebuah pangan tak dapat menuai sebuah kebahagiaan, mungkin saja sebuah religius dari sebuah beragama dapat membawa pengaruh besar pada kebahagiaan manusia. Bila itu terjadi maka sangatlah baik, bahwa agama menjadi fungsi utama pendoman hidup manusia untuk mencari kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Tetapi, menurut data yang terhimpun dari Pew Research Center dan Adherent.com. Peradabaan hari ini tidaklah kekurangan agama. Justru, hari ini agama hadir berjumlah 4.300. Masing-masing agama itu mempunyai konsep kepercayaan sendiri, konsep moralnya itu sendiri.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sudah dapat dipastikan dari 4.300 agama tersebut merasa paling benar, merasa paling baik dan merasa agama pilihan Tuhan. Tuhan pencipta alam semesta. Terdapat empat agama terbesar saat ini, yakni: Kristen, Islam, Budha, dan Hindu. Keempat agama tersebut memiliki pengikut terbanyak di dunia, yakni, Hindu dan Budha dipeluk oleh 75 persen populasi di dunia. Sedangkan Kristen dan Islam dianut oleh 50 persen penduduk bumi.

Nyatanya, perang mengatasnamakan agama sungguh sangatlah brutal. Sentimen atas nama Tuhan atas nama kesucian, atas nama wahyu, ikut mengobarkan perang salib. Ini termasuk perang terlama, dari dua perang dunia bila digabung dengan perang dunia pertama.

Agama pun gagal dalam membawa kebahgiaan manusia. Maka dengan cara apalagi manusia dapat menggapai kebahagiaan meski tanpa kemakmuran dan tanpa adanya peran agama.

Dalam buku “Spiritual of Hapiness” atau Spritual Baru Abad 21 Narasi Ilmu Pengetahuan, Denny JA, memberikan sebuah gambaran bagaimana manusia dapat meraih kebahagiaan walau tanpa kemakmuran sandang pangan dan tanpa peran agama.

Konsep tersebut, menggunkan konsep spritual baru, yang dapat memunculkan narasi baru dalam gelombang besar, yakni dengan sebuah spirit: Satu Bumi, Satu Homo Sapiens, dan Satu Spiritual (Halaman. 83)

Spirit itulah yang terkadung pada sebuah sajak indah di dengungkan oleh Rumi dengan cukup puitis. “Tenggelamlah dengan khusyuk pada apa yang kamu cintai,” atau: “Dimanapun, kapanpun, apapun yang kamu lakukan, tumbuhkanlah kehangatan cinta.”

Yah, dengan cintalah manusia dapat menemukan kebahagiaan. Sebagaiaman mencinta sebuah kemakmuran dan mencintai agama dengan sebaik-baiknya cinta. Cinta untuk sesama, tanpa memandang sebuah perbedaan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

 

SebelumnyaKunci Utama Kehidupan Mulia
BerikutnyaSarung Santri