Peserta workshop Pencegahan Propoganda Radikal Terorisme di Dunia Maya foto bersama setelah diskusi, Kamis (23/03/2017). Foto: AIS Nusantara

Tebuireng.online–Sebagai tindak lanjut workshop Pencegahan Propoganda Radikal Terorisme di Dunia Maya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengumpulkan 200 pimpinan redaksi dan admin media moderat se-Indonesia di Hotel Millennium Sirih Jakarta pada Kamis (23/3/17). Mereka berdiskusi interaktif tentang solusi maraknya penyebaran konten-konten radikal dan berita-berita palsu melalui media online maupun media sosial.

Diskusi yang dibagi menjadi tiga kelompok dan difasilitasi oleh Ulil Abshor, Abdul Malik, Hamzah Sahal dari NU Online, dan Budi Hartawan dari BNPT ini membahas tentang perlunya sinergi antara BNPT dan aktivis media moderat dalam penyebaran konten-konten damai sebagai kontra narasi terhadap situs-situs dan akun media sosial radikal dan penyebar berita palsu (hoax).

Beberapa peserta mengusulkan perlu adanya grup yang berisikan seluruh peserta dari media lain dengan BNPT dan NU Online sebagai provider dan fasilitatornya. Beberapa di antaranya menginginkan adanya wadah khusus untuk mempermudah komunikasi dalam menjalankan program pencegahan dan penangkalan radikal terorisme.

Salah satu peserta diskusi, Abdul Wahab dari santrionline.net mengatakan, “Permasalahan utama lambatnya proses kontra narasi terhadap konten-konten hoax dan provokatif disebabkan oleh kurangnya dana yang dimiliki oleh media-media moderat yang sebagian besar berdiri independen.” Untuk itu, ia berharap BNPT dapat membantu mengatasi problem tersebut agar proses penyebaran konten-konten damai dapat terlaksana lebih masif.

Sempat terjadi perdebatan di antara peserta mengenai perlu tidaknya membuat website bersama yang baru sebagai wadah utama kreasi para punggawa media moderat dalam membantu BNPT dan NU untuk menciptakan iklim damai dan bebas hoax di tengah-tengah masyarakat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, usulan tersebut menurut Dedik Priyanto dari islami.co, masih tak diperlukan untuk saat ini, karena dikhawatirkan website tersebut tidak akan ada yang mengurus. Ia mengusulkan dibentuknya grup WhatsApp yang berfungsi untuk menyebarkan informasi yang dapat menjadi data penting dalam pembuatan konten-konten damai di masing-masing media.

Usulan itu diamini oleh Budi Hartawan dan Ulil Abshor selaku fasilitator diskusi kelompok I. Budi memandang memang tak perlu adanya website bersama, tetapi perlu dibuat grup WhatsApp sebagai media sinergi informasi antar admin dan pimpinan media moderat. Budi dan Ulil sepakat BNPT berperan sebagai content provider dan NU Online sebagai pemimpin komando media-media moderat.

Di kelompok lain, juga disepakati bahwa BNPT dan tim media moderat harus turun ke bawah membantu masyarakat baik dalam sosialisasi edukasi, maupun pengembangan media-media damai, seperti pembuatan website, domain, hosting, desain gratis, dan fasilitas lain. Yang dimaksud masyarakat di atas bisa pondok pesantren, majelis taklim, dan masyarakat secara umum.


Pewarta : M. Abror Rosyidin

Editor : Munawara

Publisher : Farha Kamalia

SebelumnyaPutri Muslimah dalam Rangkaian Festival Ekonomi Unhasy
BerikutnyaJelang Kelulusan Kelas IX, SMP A. Wahid Hasyim Gelar Pensi