Keluarga muslim (sumber ilustrasi: kemenag-ri)

Oleh: KH. Fauzan Kamal*

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

فَيَاأَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَیۡـࣰٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Melalui mimbar ini kami berwasiat untuk para jamaah Jumat saat ini. Mari kita bersama-sama agar selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan berusaha menjalankan apa yang diperintah oleh Allah SWT. Baik perintah itu yang bersifat wajib, maupun yang bersifat sunah. Sekaligus kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi larangan Allah. Baik larangan-larangan itu bersifat benar-benar diharamkan oleh Allah, atau sebatas yang dimakruhkan oleh Allah.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita dilahirkan di dunia ini tidak pernah pesan kepada Allah terlahir dari siapa, di mana, dan kapan. Kita tidak pernah tahu. Kita pun tidak bisa minta terlahir menjadi putra seorang Kyai, presiden, menteri, atau petani. Kita tidak pernah pesan, semua itu adalah kehendak Allah SWT.

Namun kita bersyukur kepada Allah SWT terlahir dari rahim orang-orang Islam dan Iman. Sehingga ketika terlahir di dunia ini, kita tidak perlu repot-repot berusaha mencari kepahaman bagaimana beribadah kepada Allah. Semuanya mengalir saja dalam kehidupan kita. Dulu kita masih kecil, kita diajak ke masjid atau musala. Apa pun itu yang penting kita ikut salat, puasa, bahkan mungkin kita diminta untuk mengantar zakat kepada tetangga yang berhak menerima.

Coba bandingkan dengan saudara-saudara kita yang terlahir dari rahim non-muslim. Saat hidayah diterima oleh anak tersebut, pasti akan memberikan cobaan-cobaan berat yang dipikul oleh anak tersebut. Mulai dari hatinya sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Maka kita harus bersyukur karena terlahir dari keluarga Islam, dan lingkungan mayoritas beragama Islam. Selanjutnya khusus kepada anak-anak di pesantren harus berbakti kepada orang tua. Harus banyak terima kasih kepada orang tua. Apalagi para santri yang baru saja nyantri, jangan berpikiran orang tua kalian tidak sayang kepada kalian karena meninggalkan kalian di pesantren.

Orang tua kita memasukkan kita ke pesantren, berharap terhadap anaknya bisa lebih paham tentang agama dari pada orang tuanya. Karena tidak semua orang tua paham akan keagamaan. Cukuplah orang tua tidak terlalu paham agama, tapi anaknya paham agama. Itu adalah harapan orang tua kepada anak-anaknya yang sedang mondok di sini. Makanya, kita sebagai anak harus berterima kasih kepadanya, dengan selalu mengirimkan doa, semoga rezeki dan kesehatannya terus dijamin oleh Allah SWT. Sehingga kita yang di pesantren tidak ada kendala apa pun dalam menuntut ilmu. Yakinlah kita yang saat ini jauh dari orang tua, suatu ketika nanti di Akhirat kita harus menuntun orang tua menuju surganya Allah.

Begitu pula anak-anakku yang sudah dewasa setingkat Aliyah/SMA. Sebetulnya kita laki-laki dewasa yang sudah tidak menjadi tanggung jawab nafkah orang tua kita. Maka dengan kasih sayangnya, kita masih dibiayai dan diarahkan—padahal itu sudah di luar tanggung jawab mereka. Alhasil, uang yang dikirimkan kepada kalian adalah sebuah sedekah, bukan nafkah. Jadi gunakan sebaik mungkin agar pahala orang tua bisa bertambah. Bahkan ketika digunakan menyalahi perintah dari orang tua, akan mendapat dosa.

Mari sebagai orang tua, kita doakan anak-anak kita yang sedang belajar di mana saja. Ketika Nabi Ibrahim meletakkan anaknya Ismail di lembah yang tandus digambarkan dalam Alquran,

رَّبَّنَاۤ إِنِّیۤ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّیَّتِی بِوَادٍ غَیۡرِ ذِی زَرۡعٍ عِندَ بَیۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةࣰ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِیۤ إِلَیۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡكُرُونَ

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Tujuan Nabi Ibrahim meletakkan Ismail di lembah Makkah sana adalah agar mudah mendirikan salat. Saya kira ini sama dengan tujuan para orang tua memondokkan anaknya di pesantren, yakni agar anak-anaknya bisa mendirikan salat dengan baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisa: 43)

Wahai anak-anakku yang berada di pesantren. Jangan sampai tidak salat berjamaah, apalagi salat subuh tidak salat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

mengapa salat itu penting?. Karena dalam salah itu semua subtansi rukun Islam itu ada. Dalam salat ada syahadat, juga ada zakat, yakni zakat waktu. Salat termasuk juga bentuk puasa, karena ketika salat tidak boleh makan dan minum. Bentuk haji juga ada dalam salat, yakni menghadap kiblat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaMemaknai Kemerdekaan ala Sufi
BerikutnyaDeretan Juara 3 Besar International Bilingual Day ke-7 LB UNHASY