sumber gambar: bangsaonline.com

Oleh: Ahmad Fajri Maulana*

Al Qur’an merupakan sumber inspirasi tiada henti bagi siapa saja yang mampu mendalami dan melakukan penelitian secara komprehensif. Salah satu dari bukti kemukjizatan Al Qur’an adalah kisahnya yang selalu memberikan inspirasi dan tetap saja menarik serta relevan untuk dikaji.

Secara umum kandungan Al Qur’an meliputi akidah, ibadah, mu’amalah, janji, dan ancaman serta kisah-kisah ummat terdahulu. Berikut ini hanya akan membahas satu dari lima kandungan Al Qur’an di atas yaitu kisah ummat terdahulu yang akan lebih fokus kepada kisah Nabi Adam. Paling tidak ada sekitar dua puluh lima ayat yang mengisahkan tentang Nabi Adam dalam berbagai peristiwa.

Sebagai bapak manusia yang diciptakan menjadi khalifah (wakil Allah), sudah tentu banyak sekali hikmah yang bisa dipetik. Berbicara mengenai riwayat tentang Adam sesungguhnya merupakan cerita tentang manusia pada umumnya. Di antara ayat yang paling populer yang mengisahkan Nabi adam adalah Surah Al-Baqarah/2:30-39.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣ وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤ وَقُلۡنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٣٥ فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ عَنۡهَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ ٣٦ فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٖ فَتَابَ عَلَيۡهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ٣٧ قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعٗاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدٗى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٣٨ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بَِٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٣٩

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: “(30). Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

(31). Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”.

(32). Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

(33). Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka namanama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”.

(34). Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

(35). Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

(36). Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

(37). Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

(38). Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

(39). Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Sejumlah ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan khalifah dalam konteks ayat ini yaitu tugas yang mewakili Allah dalam melaksanakan perintah-perintahNya dikalangan manusia. Ketika Malaikat mendengar bahwa Allah hendak mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi, mereka mengajukan pertanyaan kepada Allah dengan nada sedikit protes dan menduga bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah. Dugaan semula Malaikat ini ternyata benar terjadi. Bahwa perilaku manusia kelak akan melakukan pertumpahan darah diantara sesama mereka. Tetapi Allah maha mengetahui atas segala sesuatu.

Untuk membuktikan kepada Malaikat bahwa Allah tidak salah memilih manusia sebagai khalifah, maka Allah membekali Adam dengan ilmu pengetahuan. Manusia dibekali Allah potensi untuk megetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda misalnya fungsi api, angin dan lain sebagainya. Manusia juga diberikan potensi berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia bukan dimulai dari pengajaran kata kerja, tetapi pengajarannya lebih dulu mengenalkan nama-nama.

Melalui ayat ini dapat dipahami bahwa syarat mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin (khalifah) adalah ilmu pengetahuan. Setelah Allah megajari manusia tentang nama-nama (ilmu pengetahuan), Allah mengujinya dan menunjukkan kepada malaikat mengenai kelebihan Adam. Para malaikat pun mengakui akan kelemahan dan ketidak tahuannya dalam menjawab pertanyaan serta mengakui kesucian Allah Swt dalam segala macam kekurangan dan ketidak adilan. Ia menjawab, “apa yang Engkau tanyakan itu tidak pernah engkau tanyakan kepada kami, bukan karena engkau tidak tahu”. Tetapi ada hikmah dibalik itu.

Salah satu ucapan malaikat ketika ditanya Allah mengenai nama-nama benda yang telah diajarkan kepada Adam adalah “Maha suci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Ini merupakan indikasi jawaban dari sifat rendah hati para malaikat. Istilah rendah hati dalam Islam dikenal degan tawaduk antonim dari takabbur.

Sebagai seorang muslim, dituntut hendaknya bersikap rendah hati dan tunduk terhadap perintah Allah. Salah satu sifat terpenting bagi seorang muslim adalah tawaduk dan rendah hati.20 Rasulullah Saw telah berhasil menanamkan akhlak Islam kepada diri para sahabatnya untuk bersikap rendah hati yang dibangun atas dasar toleransi, lembut tutur kata dan perangai.

Setelah Nabi Adam unjuk kebolehan dihadapan Allah dan para Malaikat, maka Allah memerintahkan agar semua para Mailaikat bersujud sebagai tanda penghormatan kepada Adam. Para malaikatpun sujud untuk menghormati Adam. Tetapi pada saat giliran Iblis yang diminta untuk melakukan sujud, mereka enggan dengan alasan unsur dan asal kejadian Iblis (api) lebih mulia dibandingkan dengan Adam (tanah).

Keangkuhan inilah yang menyebabkan Iblis harus terusir dengan paksa dari surga. Jika demikian maka alasan utama Iblis terusir dari surga adalah karena kesombongan. Tidak bisa dibayangkan, jika mahluk yang sudah berada di surga saja pun harus diusir dengan alasan kesombongan, apalagi manusia yang masih berada di kerak-kerak bumi ini lalu berlaku sombong. Rasanya, tidak ada satu ruang pun yang pantas untuk tempat mahluk yang sombong kecuali neraka.

Seorang muslim yang benar-benar beriman tidak akan berlaku sombong, karena Ia mengetahui bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri, berjalan dengan angkuh, dan memalingkan muka dihadapan orang lain karena sombong. Seseorang yang sombong merasa dirinya lebih tinggi, lebih mampu dan lebih sempurna dari orang lain maka akan menjadi penyakit dalam dirinya. Angkuh adalah penyakit hati yang bisa merusak iman seseorang.

Nabi Adam dan isterinya pun diperintahkan untuk tinggal di Surga dan bebas melakukan serta memakan apa saja kecuali mendekati sebuah pohon. Namun pada akhirnya oleh karena kelihaian godaan dan rayuan Iblis, Adam terlanjur melanggar perintah Allah sehingga menyebabkan mereka juga terusir dari Surga. Iblis terusir dari Surga karena keangkuhannya, sementara Adam terusir dari surga karena kekhilafannya. Adam dan Hawa secara bersamaan telah menyalahi perintah Allah karena memakan buah terlarang yang diharamkan kepadanya. Mereka diturunkan ke bumi sebagai akibat dari perbuatan melanggar perintah Allah. Setelah itu Iblis yang telah berhasil menggoda Adam dan Hawa tertawa riang, hingga Iblis pun diturunkan Allah ke bumi.

Sejak saat itu pertarungan antara kebaikan dan keburukan telah ada di bumi. Sebenarnya Adam dan Hawa merasa menyesal telah melanggar perintah Allah. Sementara Iblis justru merasa senang karena berhasil telah mempengaruhi Adam dan Hawa. Menurut beberapa literatur bahwa Adam diturunkan di India, sementara Hawa diturunkan di sebuah gunung di tanah Hijaz.

Pada saat Adam dan istrinya di keluarkan dari surga dan menyadari sepenuhnya atas kekhilafan yang telah mereka lakukan, Nabi Adam selalu berdoa dan memohon ampunan kepada Allah “Ya Allah sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri, sekiranya tidak engkau ampuni kami, nisca jadilah kami orang yang merugi”. Melalui doa tersebut dan berkat Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah, Adam pun diampuni.

Demikianlah kita sebagai manusia hendaknya mempunyai sifat pemaaf. Sikap pemaaf adalah memberi ampun terhadap kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci, sakit hati, atau membalas meskipun sebenarnya dia mampu melakukannya.

Pada saat itu Adam sadar bahwa Iblis merupakan musuh manusia dan seluruh keturunannya kelak. Dalam catatan sejarah, peristiwa pembunuhan pertama kali terjadi dilatar belakangi oleh sifat dengki yang terjadi antara dua putera Adam as yaitu Qabil dan Habil yang saling berebut perempuan cantik.

Hal ini menunjukkan kepada kita betapa sifat dengki merupakan sifat yang sanggat berbahaya dan harus diwaspadai. Dengki adalah sikap yang tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha agar nikmat tersebut hilang atau pindah ke tangannya dan pangkal dari segala macam kemungkinan kerusakan yang terjadi.

Dengan demikian kita harus mampu menanamkan nilai-nlai hidup dan mengambil pelajaran dari kisah Nabi Adam as yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang diterangkan diatas yaitu rendah hati, tidak sombong, tidak dengki dan menjadi pribadi pemaaf.

*Penerima Beasiswa Cendekia Baznas Mahad Aly Hasyim Asyari.

 

Sebelumnya4 Hikmah Ini Bisa Jadikan Hatimu Tergerak Menunaikan Zakat
BerikutnyaBagaimana Ikhtiar dan Tawakal Seharusnya?