tebuireng.online– Asap bau sedap dan lezat mengepul dari salah sudut ruang terbuka. Beberapa orang berpeci dan bersarung sedang asyik membakar ayam. Itulah salah satu acara rutin yang diadakan oleh para mahasantri Ma’had Aly Bina Ummah Tebuireng 2 Cianjur, Jawa Barat setelah melaksanakan tahlilan dan melantunkan Maulid Simtud Duror, setiap malam Jum’at ba’da maghrib hingga waktu Isya’.

Jumlah mahasantri Ma’had Aly Bina Ummah memang tidak banyak, hanya 18 orang saja. Tak heran, karena lembaga ini memang terbilang baru. Dibuka pada Oktober 2014 kemudian diresmikan oleh Prof. Dr. Nazarruddin Umar pada Januari 2015 lalu. Namun, walau terbilang baru, Ma’had Aly ini menawarkan konsep pembelajaran yang unik dan menarik. Dimana pendidikan agama ala pesantren dipadukan dengan pendidikan agrobisnis, yang tak banyak diterapkan oleh pesantren lain.

Waktu belajar para mahasantri terbilang sangat padat. Bagaimana tidak, pada hari Senin-Kamis, mereka melaksanakan perkuliahan materi keagamaan di Ma’had Aly, pada hari Jum’at mereka belajar mata kuliah formal di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-Azhary Cianjur, dan hari Sabtu-Minggu mereka mendapatkan materi pendidikan agrobisnis.

Tiga tokoh nasional, Ketua Yayasan Supersemar Prof. Dr. Nazaruddin Umar, Imam Masjid Istiqlal dan Khadim Ma’had Darus Sunnah, Prof. Dr. KH. Mustofa Ali Ya’qub dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid menjadi penasehat yayasan yang memberikan pengarahan dan motivasi. Bahkan para mahasantri dapat bertatap muka dengan ketiga tokoh tersebut sebulan sekali yang secara khusus diundang untuk memberikan pengarahan, motivasi, dan kuliah umum.

Konsentrasi mata kuliah keagamaan adalah Fikih dan Ushul Fikih, diantaranya, fiqih dasar, ushul fikih, Qowaidh fikihiyah, tafsir ahkam, tarikh tasyri’, hikmah tasyri’ dan masih banyak lagi yang dibimbing oleh dosen yang didatangkan dari Tebuireng dan beberapa dosen lokal. Sedangkan dalam pendidikan formal di STAI al-Azhary, mereka mengambil jurusan al-Akhwal al-Syakhshiyah (AS). Tidak hanya disitu, selain pendidikan agama ala pesantren dan formal, para mahasantri juga dibimbing langsung para pakar agrobisnis dari Jurusan Enterpreneurship Institut Pertanian Bogor (IPB).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain pendidikan agama dan agrobisnis, para mahasantri juga memeliki kegiatan-kegaitan esktra perkualian, ada shalawat rebana, khitobah, Bahasa Arab, futsal, tenis meja, dan kegiatan-kegiatan keislaman dan ke-NU-an seperti tahlilan, shalawat Simtud Duror, Dib’iyah, dan pengajian kitab kuning ala pesantren, baik bandongan maupun sorogan. Menurut Waka Kemahasantrian, Ustadz Kholilur Rohman, hal tersebut diberikan agar selain pembelajara wajib, mereka juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat. “Masih belum banyak sih, khutbah saja, kami masih belum bisa di kampung-kampung, masih di masjid Pesantren,” tandasnya.

Ma’had Aly yang dipimpin oleh bapak  Ade Rudi Gumelar ini adalah hasil kerjasama tiga lembaga besar, Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng, Yayasan Bina Ummah Cianjur, dan Institut Pertanian Bogor. Untuk tenaga pengajar dan pembina mahasantri, beberapa diantaranya didatangkan langsung dari Pesantren Tebuireng, diantaranya Waka Bidang Akademik Ustadz Khoirul Falah, Bidang Kemahasantrian Ustadz Kholilurrohman, dan Bidang Pembinaan Mahasantri, Ustadz Saiful Hadi. Bertindak sebagai ketua Yayasan Bina Ummah adalah Bapak Aryo Tedjo Baskoro.

Ma’had ‘Aly Binaumma Tebuireng dibuka pada Oktober 2014, mahasiswa masih berjumlah 18 orang. Berdiri di atas tanah seluas lima hektar di Desa Mekargalih, Cikalongkulon, Cianjur, Jawa Barat. Di sekitar tanah wakaf ini masih terdapat lahan seluas 15 hektar lagi, milik keluarga Alm. Bapak Soekardjo Hardjosoewirjo, SH.,  yang dapat dikelola secara komersial dan sebagian hasilnya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pesantren. (abror)

SebelumnyaEkstremis Membajak Islam
BerikutnyaNapak Tilas Resolusi Jihad, Sederhana Namun Khidmat