Ilustrasi: M. Najib

Oleh: Ananda Prayogi*

Umat Islam di seluruh dunia akan merayakan penyambutan Tahun Baru 1441 Hijriah termasuk negara kita. Di tahun ini, tahun baru Islam akan jatuh pada Minggu (1/9/2019).  Dalam menyambut tahun baru Islam, beberapa daerah menyambutnya dengan beragam acara dan kegiatan dengan maksud menanamkan makna Tahun Baru Islam kepada masyarakat serta menciptakan pedamaian antar umat muslim di dunia.

Ada beberapa tradisi unik yang dilakukan dalam menyambut perayaan pergantian tahun Hijriyah yang terjadi pada tanggal 1 Muharram. Di Jawa, tahun baru ini juga dikenal sebagai Malam 1 Suro.

Tradisi tersebut pun tidak hanya terbatas di Pulau Jawa, tapi juga di luar Jawa. Beberapa kegiatan juga dilakukan untuk menyambut tahun baru, seperti tirakatan, lek-lekan (begadang/tidak tidur semalam suntuk), menyepi, dan kungkum (berendam).

Mengingat keanekaragaman budaya di seluruh Nusantara, beberapa daerah di Indonesia juga punya tradisi untik tersendiri untuk merayakan Tahun Baru Hijriah. Berikut ini, kami sajikan beberapa tradisi unik yang dilakukan di beberapa daerah Indonesia dalam rangka menyambut momentum pergantian tahun tersebut.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tradisi Tabot di Bengkulu

Acara ini merupakan suatu upacara tradisional yang diselenggarakan di Bengkulu dalam menyambut perayaan tahun baru Hijriyah yang mana pelaksanaannya mulai tanggal 1 hingga 10 Muharram. Pada awalnya, upacara ini digelar untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali Abu Thalib dalam perang.

Upacara Tabot masih mendapat pengaruh dari upacara Karbala di Iran. Perayaan ini telah dilakukan sejak tahun 1685 oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal juga sebagai Imam Senggolo.

Masyarakat kota Bengkulu percaya apabila perayaan ini tidak mereka selenggarakan maka akan terjadi musibah atau bencana. Namun demikian, acara tersebut kini mulai bergeser dengan tujuan untuk menyambut pergantian tahun Islam.

Selain itu, penyelenggaraan tradisi ini juga diharapkan bisa mewujudkan partisipasi dari masyarakat untuk bisa senantiasa membina keharmonisan dan pelestarian budaya.

Tradisi Lampah Mubeng di Yogyakarta

Tradisi lain yang dilakukan dalam perayaan menyambut tahun baru Hijriyah adalah ritual Lampah Mubeng atau yang juga dikenal dengan Mubeng Benteng.Tradisi Mubeng Beteng merupakan simbol refleksi dan instropeksi diri orang Jawa pada malam 1 Suro.

Ritual mubeng benteng ini dilaksanakan dengan berkeliling kawasan kompleks keraton pada malam hari sebagai wujud dari bentuk perenungan untuk selalu melakukan instropeksi diri. Selama mengelilingi benteng dalam ritual ini, semua peserta harus melakukan tapa bisu (tidak berbicara ataupun bersuara) serta tidak makan, minum, atau merokok.

Ritual tradisi ini dibuka untuk umum dan siapa saja juga boleh turut mengelilingi kompleks keraton. Dalam mengelilingi benteng, jarak yang ditempuh mencapai lima kilometer.

Ritual larung pendam warga lereng Gunung Semeru

Pada malam 1 Muharram, warga lereng Gunung Semeru melakukan ritual larung pendam sesaji sebagai peringatan tahun baru Islam. Para warga akan mengumpulkan sesaji yang isinya tumpeng nasi kuning, hasil pertanian, kepala sapi, dan lainnya.

Nah, sesajian tersebut akan diarak-arak dari balai desa menuju lereng Gunung Semeru.

Tradisi Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Surakarta

Di Surakarta, pada malam 1 Muharam atau 1 Suro, pihak keraton dan warga menggelar tradisi kirab pusaka yang tidak hanya diiringi oleh para abdi dalem tetapi juga oleh enam ekor kerbau istimewa yang berwarna putih.

Dalam tradisi ini beberapa ekor kebo bule (kerbau berwarna putih) diarak keliling kota. Kerbau-kerbau ini dipercaya sebagai turunan Kebo Bule Kyai Slamet dan dianggap keramat.

Kerbau-kerbau tersebut berperan sebagai Cucuking Lampah (pemandu kirab) dan diikuti oleh para kerabat keraton yang membawa pusaka. Baru kemudian di barisan belakang ada masyarakat Solo dan sekitarnya. Kirab ini biasa digelar pada tengah malam, biasanya masyarakat sudah berkumpul di tepi jalan yang dilewati rombongan kirab.

Yang unik dari tradisi ini, para warga menanti momen di mana mereka dapat menyentuh badan kebo bule dan berebut untuk mendapatkan kotorannya yang katanya dapat membawa berkah tersendiri.

Tradisi Bubur Suro di Jawa Barat

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa Barat dalam rangka menyambut bulan Muharram. Tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad di medan peperangan.

Pada pagi hari pada tanggal sepuluh Muharram, seluruh rumah penduduk menyiapkan bubur merah dan bubur putih yang disajikan secara terpisah yang dikenal sebagai bubur suro. Bubur ini nantinya akan dibawa ke masjid terdekat dengan beberapa makanan lainnya.

Peringatan tahun baru Hijriyah yang dilakukan di sejumlah daerah tersebut memang tidak memiliki ketentuan yang tertulis dalam Al Quran ataupun Hadits. Namun, sah-sah saja bagi siapa daja yang ingin ikut meramaikannya asalkan tidak meyakininya. Sehingga tidak menjadikan untuk mengikuti ritual budaya tersebut.

Tradisi Ledug Suro di Magetan, Jawa Timur

Pada tahun baru hijriah, masyarakat Magetan menggelar tradisi Ledug Suro dengan ngalub berkah bolu rahayu. Tradisi ini dipercaya dapat membawa rizki. Sama seperti tradisi 1 Suro lainnya, Ledug Suro sangat dinanti-nati warga.

Upacara ini diawali dengan kirab Nayoko Projo dan Bolu Rahayu yang nantinya menjadi sasaran rebutan warga. Pasalnya, bolu rahayu tersebut dipercaya mendatangkan berkah.

Pesta Mappanretasi di Sulawesi Selatan

Para nelayan di daerah pesisir pantai Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel)  memiliki budaya sendiri untuk memeriahkan tahun baru Islam yang disebut Mappanretasi. Ritual ini merupakan bentuk syukur nelayan yang pergi ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara untuk mencari ikan dan dapat kembali ke kampung dalam keadaan selamat.

Selain itu, tidak hanya nelayan di Kabupaten Pinrang saja yang datang mengikuti pesta tersebut melainkan ada nelayan dari luar Pinrang. Pada rangkaian kegiatan tersebut perahu nelayan yang sudah dihiasi akan mengikuti konvoi bersama ratusan masyarakat dengan melantunkan lagu-lagu dan memainkan musik daerah.


*Disarikan dari berbagai sumber:

http://bangka.tribunnews.com/2017/09/20/1-muharram-2017-inilah-5-tradisi-unik-sambut-tahun-baru-islam-beberapa-daerah-di-indonesia?page=4

http://www.centroone.com/News/detail/2017/9/21/19567/tradisi-unik-di-berbagai-daerah-menyambut-tahun-baru-islam?page=2

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/09/21/dari-yang-seru-hingga-yang-seram-inilah-7-tradisi-unik-di-indonesia-menyambut-tahun-baru-islam

SebelumnyaKe Tebuireng, Gus Miftah Bahas Model Dakwah Ulama NU
BerikutnyaRefleksi Sejarah Bulan Muharram