Amal yang Diterima Menurut Ibn Atha’illah

353
Sumber gambar: http://www.kontakbanten.co.id

Oleh: Silmi Adawiyah*

Tidak semua amal yang dilakukan di dunia itu diterima di sisi Allah. Pernahkah sejenak merenungkan kisah dalam Al Quran yang menceritakan penghuni neraka yang ternyata mereka adalah bukan ahli maksiat. Mereka rajin beribadah hingga kelelahan, namun tetap saja berada di kawasan neraka yang dimurkai Allah. Rupanya amal yang dikerjakan tidak serta merta diterima oleh Allah.

Hak veto untuk menjatuhkan putusan atas diterima atau tidaknya sutau amal hanya milik Allah, namun kita bisa melihat tanda-tanda penerimaan amal tersebut dari sekarang. Seperti yang dijelaskan oleh Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam:

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول اجلا

“Siapa yang merasakan buah amalnya di dunia maka itu bukti bahwa amalnya diterima di akhirat.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Adapun yang diamksud dengan “buah amalnya di dunia” adalah kenikmatan dalam beramal. Jika seseorang sudah beramal dengan baik kemudian ia merasakan kenikmatan (bukan merasakan lelah atau tertekan) maka bisa jadi itu pertanda bahwa amalnya di teriman di sisi Alllah.

Syaikh Zarruq menjelaskan lebih detail lagi dalam Syarah Hikam, bahwa buah dari amal yang nyata itu adalah bisa merasakan kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan tanpa dicampuri sebuah rasa sedih dan khawatir. Mengutip dari QS Yunus ayat 62-64:


أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ 

“Ketahuilah, para wali Allah tidak dihinggapi kekhawatiran dan kesedihan. Mereka yang beriman dan mereka itu bertakwa akan menerima kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat.”

Buah amal selanjutnya adalah ketenangan hidup yang ditandai dengan keridhaan batin dan sifat qana‘ah atas segala pemberian Allah. Semisal sesorang yang sudah beramal dengan baik, namun tetap saja belum beruntung dalam hidupnya. Jika seseorang tersebut bisa menerimanya dengan ridha atas takdirnya, bisa jadi ini contoh konkret dari buah amal di dunia.

🤔  Obituari Bersama KH. Ishaq Latif (30)

*Ditulis oleh Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta, alumni Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir Jombang.