Al-Jahiz, Hidup dan Mati Untuk Ilmu (bagian – II habis)

Oleh: Aros

Pemikiran-pemikiran al-Jahiz

Sering kita mendengar dan mempelajari beberapa pemikiran Barat yang sangat spektakuler dan seakan menjadi revolusi baru bagi ilmu pengetahuan. Tetapi bagaimana jadinya jika ternyata mereka bukanlah penemu pertama teori-teori tersebut? Begitu juga al-Jahiz, dunia keilmuan melupakan jasa-jasanya dan mengklaim orang lain yang datang jauh setelahnya sebagai penemu teorinya. Berikut beberapa pemikirannya.

1 . Stuggle for existence (berjuang untuk bertahan hidup)

Ilmuwan dari abad ke-9 M itu mengungkapkan dampak lingkungan memberi kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup atau survive.Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup alias struggle for existence. Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, mahluk hidup harus berjuang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, semua pelajar di Indonesia telah diperkenalkan dengan rantai makanan saat belajar biologi. Namun, tahukah Anda bahwa ilmuwan pertama yang mengungkapkan teori tentang rantai makanan itu adalah Al-Jahiz – ahli biologi Muslim? Teramat banyak, pencapaian yang dihasilkan para sarjana Muslim yang disembunyikan oleh peradaban Barat.

Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Dia berpendapat bahwa lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Menurut dia, asal muasal beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tak cuma itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri.

Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Bashra, Irak, itu berhasil menuliskan kitab Al-Hayawan (Buku tentang Hewan). Dalam kitab itu dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang.

2 . Teori Evolusi

Kita pasti mengenal Charles Darwin? Siapa dia? Kita mengenalnya sebagai penemu teori fenomenal yang sekarang memang sudah terbantahkan, yakni teori Evolusi. Teori yang mengatakan makhluk hidup bisa eksis disebabkan karena habitatnya yang memperngaruhi kehidupan dan bentuknya. Bagaimana ternyata jika Darwin sendiri tidak memecahkan kebuntuhan teori ini. Bagaimana lagi jika penemu pertamanya ternyata bukan bang Darwin? Penemu yang sesungguhnya adalah seorang muslim negro ketururunan budak Afrika Timur dan lahir di Basrah, Irak. Dialah al-Jahiz si Mutiara Hitam.

Dalam Kitab Al Hayawan, al-Jahiz adalah orang pertama yang mengeluarkan ide bahwa habitat hewan mempengaruhi kehidupan dan bentuknya, yang mana dikemudian hari hal ini menjadi teori dasar dari pembentukan Teori Evolusi Darwin dan merupakan hal yang tidak dapat dijawab oleh Charles Darwin. Bahkan Darwin lahir10 abad setelah al-Jahiz yang lahir tahun 781 M.

Sedangkan Darwin lahir 1801 M yang kemudian pada tahun 1859 mengarang buku On the Origine of Species. Bahkan, Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.”

Sebagai muslim kita seharusnya tahu itu, di zaman law of Islamic sains intelectuality ini minimal kita mempelajari apa yang pernah dibangun oleh ilmuan-ilmuan kita.

3 . Rantai makanan

Al-Jahiz juga orang yang pertama kali membahas tentang rantai makanan, dan menulis contoh berikut dari rantai makanan “Nyamuk akan pergi mencari makanan mereka, yang mereka tahu secara naluri alamiah (insting) bahwa darah adalah hal yang membuat mereka tetap hidup. Begitu mereka melihat gajah, kuda nil atau hewan lain, mereka tahu bahwa kulit telah dibentuk untuk melayani mereka sebagai makanan, dan jatuh di atasnya, mereka menusukan giginya sampai dia yakin bahwa kedalamannya telah cukup untuk menghisap darah.

🤔  Mbah Subkhi, Sang Kiai Bambu Runcing

Begitu juga lalat, walaupun mereka hinggap pada berbagai jenis makanan, namun pada prinsipnya melakukan hal yang sama dengan nyamuk. Dan pada kesimpulannya, semua hewan tidak bisa bertahan tanpa makanan, ada yang dengan berburu hewan dan ada yang diburu.”

Itulah beberapa pemikiran spektakuler al-Jahiz yang sangat memberikan kontribusi besar dalam keilmuan dunia.

Karya al-Jahiz

Kitab al-Jahiz yang paling fenomenal adalah Kitabu al-Hayawan. Kitab al-Hayawan adalah sebuah ensiklopedia dari tujuh volume dari tulisan bebas, penjelasan puitis dan peribahasa menggambarkan lebih dari 350 jenis binatang. Hal ini dianggap sebagai karya paling penting Al Jahiz.

Dalam Kitab Al Hayawan, al-Jahiz adalah orang pertama yang mengeluarkan ide bahwa habitat hewan mempengaruhi kehidupan dan bentuknya, yang mana dikemudian hari hal ini menjadi teori dasar dari pembentukan Teori Evolusi Darwin dan merupakan hal yang tidak dapat dijawab oleh Charles Darwin. Al-Jahiz menganggap bahwa dampak lingkungan berpengaruh terhadap kemungkinan seekor binatang untuk bertahan hidup, dan  hal pertama yang dilakukan ialah menggambarkan perjuangan untuk keeksistensiannya dari keberlangsungan seleksi alam semenjak nenek moyang hewan tersebut. Kesimpulan dari teori Al Jahiz tentang perjuangan untuk eksistensi dalam Kitab Al Hayawan telah diringkas sebagai berikut:

Hewan harus berjuang untuk eksistensinya (jenisnya), untuk sumber daya yang tersisa, untuk menghindari dimakan dan untuk berkembang biak. Faktor lingkungan turut mempengaruhi suatu organisme untuk mengembangkan karakteristik baru untuk memastikan kelangsungan hidup jenisnya akan berubah menjadi spesiaes yang baru. Hewan yang bertahan akan berkembang biak dan mewariskan karakteristik (hasil perjuangan) mereka kepada keturunan.”

Selain karya itu beliau juga mengarang beberapa kitab lain seperti Kitab al-Bukhala (Kitab Misers atau keserakahan & ketamakan) yaitu buku kumpulan cerita tentang serakah. Humoris dan menyindir, itu adalah contoh terbaik dari gaya prosa Al-Jahiz . Kitab ini mencerminkan penelitian mendalam dari seorang manusia psikolog. Jahiz menertawakan guru-guru sekolah, pengemis, penyanyi dan ahli-ahli Taurat untuk perilaku serakah mereka. Banyak cerita dari buku ini yang terus dicetak ulang dalam majalah di seluruh dunia yang berbahasa Arab. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya terbaik Al Jahiz. Bahkan dalam buku ini ia mengkritik kebakhilan Muawiyah bin Abi Sufyan dan filsuf al-Kindi.

Ada banyak karya lain yang jumlahnya sekitar 360 buah buku. Seperti kitab Kitab al-Bayan wa al-Tabyin  (Buku kefasihan dan Penjelasan) buku terakhirnya, Kitab al Jawari wal Moufakharat Ghilman (Kitab puji-pujian dari selir dan kasim) tentang sensualitas pada zamanya, Mufakharat Risalat al-sudan ‘ala al-bidan (Keunggulan Si Hitam dari Si Putih) yang berisi penolakan terhadap politik apartheid yang memojokkan kaum hitam.

Wafatnya al-Jahiz yang kontroversial

Al-Jahiz kembali ke Basra setelah menghabiskan lebih dari lima puluh tahun di Baghdad. Dia meninggal di Basra pada 869 M. Penyebab pasti kematiannya tidak jelas. Ada yang mengatakan dia mati karena sakit. Tetapi kisah populer adalah bahwa sebuah kecelakaan, di mana tumpukan buku-buku di  perpustakaan pribadinya, terguling dan menghimpitnya dan menyebabkan kematiannya.

Ia meninggal pada usia 93. Beginilah seorang  ilmuan, pecinta buku, dan penyuka eksperimen yang tidak pernah puas dengan capain ilmu yang ia dapatkan. Sedangkan kita sekarang begitu mendapatkan sebuah prestasi kecil sudah membesarkan kepala kita sebesar-besarnya sampai dunia kita kecil-kecilkan.

al-Jahiz memang sudah tiada, tapi karyanya, perjuangannya, semangatnya dalam berkarya, dan kehidupanya tak akan pernah dilupakan. Kita sebagai muslim sebaiknya membuka mata melek, bukan bersembunyi dalam ketiak sejarah. Kebebasan berpikir dan berekspresi sekarang terkungkung oleh kamanjaan situasi dan kondisi. Waktunya kita bertadabbur ikhwan. Semoga kisah kutu buku al-Jahiz, sang Mutiara Hitam ini bisa menginspirasi kita. Selamat berjuang.