Adab Berwudu Menurut Imam al Ghazali

389

Oleh: KH. Fawaid Abdullah*

Wudu adalah mensucikan diri dari segala hadast kecil sesuai dengan aturan syariat Islam. Setiap muslim yang hendak melakukan ibadah shalat harus melakukan wudu terlebih dahulu. Namun, wudu juga mempunyai adab yang seyogyanya dipenuhi oleh setiap orang yang wudu.

Wudu yan baik itu adalah berwudu yang sempurna. Wudu yang sempurna itu bukan seberapa banyak menghabiskan air, tapi Wudu yang sempurna itu seberapa bisa seseorang itu bisa tepat sasaran dalam membersihkan serta meratakan air kepada semua anggota Wudu nya.

Maka dari itu, untuk bisa berwudu yang sempurna itu, sebaiknya seseorang itu bisa menepati dan memakai cara berwudu dan melaksanakan adab-adab berwudu sebagaimana yang disampaikan oleh Imam al Ghazali.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pertama, melakukan siwak. Sebagaimana pertakataan Imam al Ghazali, “Apabila kamu itu selesai ber-istinja’, maka janganlah meninggalkan bersiwak, karena dengannya dapat mensucikan mulut serta mendapatkan rido Allah SWT serta dibenci setan. Shalat dengan bersiwak itu lebih utama dibandingkan dengan 70 kali shalat tanpa siwak”.

Lebih lanjut, Imam al Ghazali menyampaikan adab berikutnya dalam berwudu hendaknya menghadap kiblat, tempatnya ditinggikan sekiranya cipratan Air tidak mengenai anggota badan dari orang yang berwudu, membaca basmalah, dan membasuh kedua tangan tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat berwudunya. Selanjutnya berkumur-kumur, lalu menghisap air ke dalam hidung masing-masing sebanyak tiga kali.

Penting untuk diketahui, sebagaimana menurut Imam Al Ghazali, bahwa kesempurnaan berwudu itu bukan dan tidak di ukur seberapa banyak menghabiskan air, namun secukupnya saja. Malah Imam Al Ghazali menegaskan:

“Jangan sekali-kali berbicara di tengah-tengah seseorang itu berwudu. Jangan menambah membasuh anggota wudu lebih dari tiga kali. Jangan memperbanyak menuangkan air di luar kebutuhan, sehingga terjerumus kedalam was-was, karena sifat was-was (mengulang-ulang gerakan yang sama dalam berwudu dengan cara berlebih-lebihan, lebih dari tiga kali gerakan). Itu merupakan bagian dari permainan setan, yang bernama Wilhan”. (Selengkapnya, silahkan dibuka dan dibaca Kitab Bidayah al Hidayah karya Imam al Ghazali dalam bab wudu).

Apabila melihat dan membaca karya Imam al Ghazali ini, tidak benar dan tidak tepat, apa yang disampaikan oleh segelintir orang atau salah satu ustadz atau “kiai”, dengan gaya metheng-theng dan berbusa-busa di youtube, bahwa berwudu dengan cara-cara seperti yang disampaikan memenuhi adab menurut Imam al Ghazali di atas ini bagian dari bid’ah.

Sekali lagi, ini lebih pada pendekatan adab, tatakrama, dan sopan santun dalam bewudu. Maka kurang bagus, jika ada yang berpikir sedikit-sedikit bid’ah dan menuding-nuding tidak benar apalagi sesat terhadap urusan-urusan adab dalam berubudiyah, termasuk dalam berwudu ini. Naif sekali kalau cara seperti itu dipakai, apalagi oleh orang yang “konon” mengaku ahli agama.


*Santri Tebuireng 1989-1999, Ketua Umum IKAPETE Jawa Timur 2006-2009, saat ini sebagai Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura.


MENJADI MANUSIA SESUNGGUHNYA, “Kajian Tasawwuf & Adab”, menurut Imam Al Ghazali.