Bukan Mengulang, tetapi Menanamkan Nilai: Membaca Gaya Komunikasi Kiai Kikin

10
KH. Abdul Hakim Mahfudz

Selama bertahun-tahun berada di Pesantren Tebuireng, entah sebagai santri, jurnalis, akademisi, atau peneliti, mendengarkan pengasuh berbicara di depan forum sudah jadi semacam rutinitas harian. Saya bahkan punya kebiasaan mencatat poin-poin penting dari setiap sambutan pengasuh, semacam refleks intelektual yang terbawa sejak lama di lingkungan pesantren.

Di masa KH. Salahuddin Wahid, gaya bicara semacam itu selalu terasa “berisi” dalam arti yang sangat literal. Gus Sholah adalah sosok penulis dan pegiat literasi yang nyaris tak pernah tampil tanpa data. Statistik, isu terkini, kritik sosial, sampai pembacaan politik yang tajam, semua mengalir rapi dalam setiap sambutannya. Duduk mendengarkan Gus Sholah sama saja dengan bersiap diuji. Bicara asal tanpa dasar yang kuat bisa langsung terbaca dan, jujur saja, agak berisiko di hadapan beliau.

Setelah Gus Sholah wafat pada 2020 dan kepengasuhan Pesantren Tebuireng berpindah ke KH. Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Kiai Kikin, saya menangkap pola yang jauh berbeda. Dalam banyak forum, tema yang muncul cenderung berputar di sekitar hal yang sama, yaitu perkembangan Islam, sejarah Sarekat Islam, kelahiran NU, perjuangan para ulama, hingga pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Bagi telinga yang sudah terbiasa dengan gaya Gus Sholah, pola ini awalnya terasa monoton. Rasanya seperti mendengar cerita yang itu-itu saja, diputar ulang tanpa henti.

Membaca Repetisi Kiai Kikin Melalui Lensa Teori Sosial

Tapi semakin sering saya mendengarkan, semakin saya curiga bahwa ada sesuatu di balik pengulangan itu. Ini bukan sekadar gaya bicara yang kebetulan berulang, melainkan sesuatu yang tampaknya disengaja, punya arah, dan punya fungsi. Di titik inilah beberapa kerangka teori komunikasi dan sosial terasa relevan untuk dipakai membaca gaya Kiai Kikin secara lebih jernih.

George Gerbner, lewat Teori Kultivasi, pernah menjelaskan bagaimana pesan yang disampaikan berulang-ulang dalam jangka panjang lambat laun membentuk cara orang memandang realitas di sekitarnya. Teori ini awalnya dipakai untuk membedah pengaruh media massa, tapi logikanya cukup pas dipinjam untuk memahami komunikasi seorang kiai. Cerita tentang NU, perjuangan ulama, dan pemikiran Kiai Hasyim yang terus diulang, pelan-pelan membentuk kesadaran bersama para santri tentang siapa mereka dan ke arah mana perjuangan pesantren ini sebenarnya menuju.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan kata lain, Kiai Kikin sepertinya tidak sedang mengejar kesan “selalu punya info baru” setiap kali bicara. Yang sedang berlangsung justru proses menanam nilai secara bertahap. Pengulangan di sini bukan kemalasan berpikir, melainkan mekanisme untuk menanamkan ideologi dan tradisi sampai mengendap. Sesuatu yang tadinya terdengar membosankan ternyata sedang diam-diam diarahkan menjadi kesadaran kolektif.

Hegemoni Kultural dan Retorika Penjaga Identitas

Pembacaan ini jadi makin menarik kalau disandingkan dengan gagasan hegemoni kultural dari Antonio Gramsci. Menurut Gramsci, dominasi cara berpikir tidak selalu lahir dari kekuasaan formal, tapi bisa muncul lewat pengulangan nilai dan narasi sampai akhirnya diterima begitu saja sebagai hal yang wajar, semacam common sense. Dalam konteks Pesantren Tebuireng, pengulangan sejarah NU dan kisah para ulama bisa dibaca sebagai cara menjaga agar pesantren tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, di tengah berbagai arus pemikiran yang terus berdatangan dari luar.

Di era media sosial yang serba cepat dan sering kali lupa sejarah, pengulangan semacam ini justru bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan yang halus. Santri tidak sekadar diberi tahu tentang sejarah, tapi terus-menerus diajak mengingat, dari mana asal mereka dan nilai apa yang harus dijaga. Karena itu repetisi dalam ceramah Kiai Kikin, kalau ditelusuri lebih jauh, sebenarnya menyimpan fungsi ideologis yang cukup kuat, jauh dari kesan sekadar mengulang tanpa tujuan.

Cara bicara semacam ini juga sebetulnya punya akar panjang dalam tradisi retorika, khususnya retorika epideiktik yang diwariskan Aristoteles. Jenis retorika ini memang tidak dirancang untuk menyampaikan informasi baru, melainkan untuk menegaskan nilai, memuliakan tradisi, dan merekatkan identitas komunitas. Dalam banyak sambutan Kiai Kikin, yang terlihat bukan ambisi untuk tampil mengejutkan atau serba baru, melainkan upaya menjaga agar ingatan kolektif pesantren tetap tersambung dari waktu ke waktu.

Dari sini terlihat perbedaan mendasar antara dua sosok pengasuh ini. Gus Sholah berbicara dengan cara informatif dan kritis, sementara Kiai Kikin berbicara dengan cara yang lebih ideologis dan kultural. Gus Sholah membekali audiens dengan data dan analisis aktual, sementara Kiai Kikin memperkuat akar tradisi dan identitas pesantren lewat pengulangan cerita sejarah. Walaupun tentu saja, tujuan dari beliau berdua sama, yaitu memajukan Tebuireng dan menjaga apinya tetap menyala.

Keduanya sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Masing-masing lahir dari kebutuhan zaman dan karakter kepemimpinan yang berbeda. Gus Sholah hadir saat pesantren perlu membuka dialog lebih luas dengan dunia modern, demokrasi, dan berbagai isu kebangsaan kontemporer. Kiai Kikin hadir di masa ketika identitas keagamaan dan tradisi pesantren berhadapan dengan disrupsi digital, otoritas keilmuan yang makin terfragmentasi, dan derasnya ideologi transnasional yang masuk lewat ruang publik.

Karena itu, apa yang tadinya saya anggap membosankan pelan-pelan berubah jadi semacam kesadaran baru, yaitu pengulangan di dunia pesantren tidak selalu berarti kemandekan berpikir. Justru dalam banyak hal, repetisi adalah cara pesantren mewariskan nilai. Sejak dulu pesantren memang hidup dari pengulangan, mengulang matan, mengulang ijazah kitab, mengulang mengaji kitab, mengulang sanad, mengulang sejarah, bahkan mengulang doa yang sama setiap hari. Dari pengulangan itu pula karakter, tradisi, dan kesinambungan sebuah peradaban kecil bernama pesantren bisa terus terjaga.

Boleh jadi tidak semua orang cocok dengan gaya bicara seperti ini. Tapi di tengah dunia yang makin mudah kehilangan akar sejarah dan gampang terseret arus sesaat, mengulang nilai barangkali justru menjadi cara pesantren mempertahankan ingatannya sendiri.

Relevansi Kepemimpinan Kiai Kikin untuk Masa Depan NU

Membaca pola komunikasi semacam ini, saya jadi teringat pada wacana yang belakangan mengemuka di sejumlah kalangan NU, yaitu dorongan agar Kiai Kikin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Sejauh yang saya amati, dorongan itu tidak datang dari ambisi pribadi beliau. Justru sebaliknya, ia lebih banyak muncul dari bawah, dari sejumlah tokoh dan penggerak NU di akar rumput yang melihat ada sesuatu yang khas pada cara Kiai Kikin memimpin, sesuatu yang barangkali dibutuhkan organisasi sebesar NU hari ini.

Kalau ditarik dari pembacaan di atas, ada benang merah yang menarik untuk direnungkan. Semangat yang selama ini diusung Kiai Kikin di Tebuireng, yaitu menjaga akar sejarah, merawat ingatan kolektif, dan mengonsolidasikan identitas komunitas lewat pengulangan nilai, sebenarnya adalah modal kepemimpinan yang sangat relevan untuk organisasi seluas NU. Di tengah organisasi yang anggotanya tersebar dari ujung ke ujung negeri, dengan latar belakang sosial dan tingkat pemahaman keagamaan yang beragam, kepemimpinan yang kuat akarnya pada tradisi dan sabar dalam merawat kesadaran kolektif bisa jadi justru lebih dibutuhkan ketimbang kepemimpinan yang hanya sibuk mengejar wacana baru setiap saat.

Hal ini tentu saja relevan dengan carut-marut yang terjadi pada NU belakang ini. Saya menganalisis sebenarnya, para elit NU sedang melupakan garis besar muassis mendirikan NU. Qanun Asasi (AD/ART awal) tidak menjadi way of life (jalan hidup), tetapi sebagai artefak museum yang sesekali dilihat hanya untuk kepentingan sejarah. Keriuhan konflik di kalangan elitnya, menjadi pengingat adanya upaya menggeser NU dari jati dirinya, dari Khittah-nya, dari relnya, dari cita-cita pendirinya. Di sinilah NU membutuhkan sosok Kiai Kikin. Berkemajuan, tetapi tetap bergandolan pada akar sejarah dan nilai-nilai dasar yang kuat.

Tentu ini baru sebatas andaian, sebuah “bagaimana jika” yang lahir dari pengamatan sederhana seorang santri yang kebetulan cukup sering duduk mendengarkan Kiai Kikin bicara. Tapi andaian ini rasanya cukup masuk akal untuk dipertimbangkan: jika kemampuan menjaga akar dan merawat ingatan bersama itu dibawa dari mimbar Tebuireng ke panggung PBNU, mungkin NU akan mendapati sosok pemimpin yang tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi juga menjaga jiwa dan ingatan kolektifnya tetap utuh.

Baca Juga: Gus Kikin Tegaskan Pentingnya Harmoni Ulama-Umara dalam Merawat Negeri


Penulis: Muhammad Abror Rosyidin, Akademisi dan Aktivis NU Kultural