
Memasuki puncak musim haji, antusiasme umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk menunaikan rukun Islam kelima semakin membubung tinggi. Di tengah momentum sakral ini, kerinduan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Tanah Suci juga kian mendalam. Terkait hal tersebut, pandangan dan bimbingan dari para ulama besar, termasuk Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menjadi cahaya penuntun yang sangat penting bagi para jamaah dalam memahami esensi ibadah dan penghormatan kepada baginda Nabi Muhammad SAW sebagai kunjungan kita.
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sendiri merupakan sosok ulama karismatik Nusantara yang keilmuannya telah diakui secara internasional, sehingga fatwa-fatwanya selalu dinantikan oleh umat. Dalam konteks ibadah haji dan umrah, beliau memberikan perhatian yang sangat besar terhadap dimensi spiritual jemaah, khususnya mengenai bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap dan menata hati ketika berada di dua tanah suci, Makkah dan Madinah. Kehadiran bimbingan keagamaan dari beliau menjadi sebuah tuntunan moral dan akhlak yang mengarahkan jemaah untuk meraih kesempurnaan ibadah, baik dari segi lahiriah maupun batiniah, demi menggapai rida Allah SWT.
Dalam kitabnya Mbah Hasyim yang berjudul Al-Manasik as-Sughra li Qashidi Ummi al-Qura. hlm. 20–21 atau di bab penutup terdapat teks berikut:
(خاتمة) نسأل الله تعالى حسنها، إذا أراد الحاج أو المعتمر الانصراف من مكة .. طلب منه أن يتوجه إلى المدينة المنورة للفوز بزيارته عليه الصلاة والسلام؛ فإنها من أعظم القربات وأفضل الطاعات وأنجح المساعي المشكورة، ولا يختص طلب زيارته بالحاج إلا أنها في حقه آكد، والأولى تقديم الزيارة على الحج إذا اتسع الوقت؛ فإنه ربما يعوق عنها عائق، وقد ورد في فضل زيارته صلى الله عليه وسلم أحاديث كثيرة، منها قوله صلى الله عليه وسلم : «من زار قبري .. وجبت له شفاعتي»، وينبغي الحرص التخلف عنها عند القدرة على أدائها خصوصا بعد حجة وعدم الإسلام لأن حقه على أمته عظيم ، انتهى
Artinya: “Kami memohon kepada Allah SWT mendapat Khusnul Khatimah. Ketika jamah haji atau umrah hendak meninggalkan kota Makkah, maka dianjurkan pergi menuju kota Madinah Al-Munawarah untuk melakukan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW. Karena hal ini termasuk amal paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah, amal ketaatan paling utama dan upaya paling sukses yang ada pahalanya. Anjuran berziarah ini tidak secara khusus bagi orang yang beribadah haji, akan tetapi baginya lebih dianjurkan.”
Bagi jamaah haji, apabila mempunyai waktu yang longgar maka lebih utama mendahulukan berziarah daripada ibadah haji. Karena dikhawatirkan berhalangan ziarah, jika mendahulukan haji. Adapun tentang keutamaan berziarah ke makam Rasulullah SAW, maka telah terdapat banyak hadits yang menjelaskannya. Di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad SAW:
من زار قبري .. وجبت له شفاعتي
Artinya: “Barangsiapa yang berziarah ke makamku, maka wajib baginya (mendapat) syafaatku.”
Oleh karena itu, hendaknya seseorang mempunyai semangat berziarah ke makam Rasulullah SAW, dan ketika sedang berkesempatan menunaikan ziarah, maka tidak menyia-nyiakannya, terlebih setelah menunaikan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW pada umatnya sangat besar. Melalui penjelasan yang sangat gamblang ini, kita dapat memahami betapa pentingnya kedudukan ziarah Madinah dalam tradisi keilmuan yang diusung oleh beliau, di mana ziarah tersebut dipandang sebagai puncak pembuktian cinta seorang hamba kepada pembawa risalah Islam.
Melalui fatwa dan bimbingan di atas, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ziarah ke makam Rasulullah SAW bukan sekadar ritual pelengkap, melainkan sebuah manifestasi cinta dan penghormatan yang mendalam dari seorang umat kepada nabinya. Penjelasan beliau yang menempatkan ziarah ini sebagai salah satu amal paling mulia dan pembuka jalan datangnya syafaat, menjadi pengingat yang sangat berharga bagi setiap jemaah haji maupun umrah. Nasihat mulia ini sekaligus memurnikan motivasi para jemaah agar kunjungan ke Madinah tidak bergeser menjadi sekadar wisata religi atau pelesiran biasa tanpa makna spiritual.
Oleh karena itu, di tengah momentum sakral tanah suci, nasihat ini seyogianya menjadi pemandu spiritual agar kita tidak melewatkan kesempatan emas tersebut, demi menunaikan hak agung baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa cahaya iman bagi seluruh alam. Dengan meresapi wejangan spiritual dari Hadhratussyaikh ini, diharapkan setiap jemaah dapat pulang ke tanah air membawa perubahan perilaku yang lebih baik, hati yang dipenuhi ketenangan, serta keyakinan yang kokoh akan janji syafaat Rasulullah SAW kelak di hari akhir.
Daftar Pustaka:
– Asy’ari, KH. Hasyim. Al-Manasik as-Sughra li Qashidi Ummi al-Qura. hlm. 20–21.
- Fauz, Kiai Nanal Ainal. Hujjah Ahli Sunnah Wal Jamaah Bi Lisani Ulama Indonesia ‘Abror ‘Ushur. Hal. 216-217
Penulis: Mauliddinho Aditya Waluyo
Editor: Sutan


















