Ribuan Jamaah Ikuti Shalat Idul Adha 1447 H di Pesantren Tebuireng

49
Masarakat sekitar saat ikut jamaah shalat Idul Adha di Pesantren Tebuireng (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Suasana khidmat menyelimuti halaman Pesantren Tebuireng pada Rabu pagi (27/5/2026). Ribuan jamaah yang terdiri dari santri Tebuireng hingga masyarakat sekitar memadati lokasi untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 H.

Bawa Juga: Gema Takbir dan Festival Bedug Tebuireng Disambut Antusias Ribuan Warga

Bertindak sebagai khatib, KH. Junaidi Hidayat menyampaikan pesan tentang ketakwaan, pengorbanan, dan pentingnya mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam khutbahnya, ia menjelaskan bahwa Idul Adha merupakan momentum bagi umat Islam untuk semakin patuh terhadap perintah Allah Swt. Ia juga menyinggung larangan berpuasa pada hari raya karena hari tersebut merupakan bentuk jamuan Allah kepada hamba-Nya.

“Allah mengharamkan hambanya untuk berpuasa di hari Raya Idul Adha karena Allah sedang memberi jamuan. Hari di mana Allah memberikan jamuan kepada hamba-Nya,” tuturnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Ribuan jama’ah memadati halaman pesantren (foto: irsyad)

Baca Juga: Festival Bedug Pesantren Tebuireng 2026, Ini Daftar Juaranya

Ia turut mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim a.s., yang rela berkorban demi menjalankan perintah Allah hingga mendapat gelar Kholilullah atau kekasih Allah. Menurutnya, Nabi Ibrahim mendapat kemuliaan tersebut karena lebih suka memberi daripada meminta.

“Allah berkata, ‘Ibrahim, kamu kujadikan kekasih-Ku karena kamu lebih suka memberi daripada meminta’,” jelasnya.

Melalui kisah tersebut, KH. Junaidi Hidayat mengajak jamaah untuk memahami bahwa iman tidak selalu dapat dijangkau oleh logika manusia.

“Iman tidak selamanya bisa kita akalkan, iman itu di atas logika. Ibrahim adalah bapak keyakinan dan tauhid. Betapa pengorbanan itu menjadi sesuatu yang harus dilakukan oleh hamba,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan jamaah agar tidak diperbudak oleh harta, kekuasaan, maupun hawa nafsu. Momentum Idul Adha, menurutnya, menjadi waktu yang tepat untuk “menyembelih” sifat-sifat buruk dalam diri.

“Jangan sampai kita diperbudak oleh harta, menjadi hamba politik, dan hawa nafsu. Hari ini kita deklarasikan sembelih nafsu kita,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa puasa Arafah menjadi salah satu amalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.

Pelaksanaan Shalat Idul Adha tahun ini mendapat kesan mendalam dari para jamaah yang hadir. Nur Alifah, mahasiswa asal Jambi yang tengah menempuh studi di Universitas Hasyim Asy’ari mengaku baru pertama kali mengikuti Shalat Id di Tebuireng.

“Baru pertama kali ikut di sini. Suasananya khusyu’, tenang, adem, dan jamaahnya kompak,” ujarnya.

Baca Juga: Doa Bersama dari Tanah Suci, Pesantren Tebuireng Gelar Zoom Bersama Pengasuh Saat Wukuf di Arafah

Hal serupa disampaikan Lailatul Fitriyah, warga Tebuireng Gang 5. Ia menilai khutbah yang disampaikan mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Khutbahnya mudah dipahami dan relate dengan kejadian yang mempengaruhi Idul Adha. Jamaahnya juga khusyu’,” katanya.

Para jama’ah tampak padat hingga ke jalan raya (foto: irsyad)

Sementara itu, Muhammad Alfin Bahrul Amiq, santri Muallimin asal Jombang yang telah mondok selama dua tahun di Tebuireng, merasa pelaksanaan Idul Adha tahun ini lebih meriah dibanding sebelumnya.

“Tahun sekarang lebih meriah, senang bisa ikut bersama jamaah yang banyak,” ungkapnya.

Shalat Idul Adha di Tebuireng tahun ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan, menjadi momentum kebersamaan antara santri dan masyarakat dalam merayakan hari besar umat Islam.