Hal-hal yang Mengindikasikan Haji Mabrur

119
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah, KH. A. Junaidi Hidayat (Foto: Yt TO)

Khutbah oleh: KH. Djunaidi Hidayat

Keistimewaan ibadah Haji yang diberikan oleh Allah itu pada tempat di mana dilakukan ibadah tersebut. Oleh sebab itu, ibadah haji ini bersifat badaniyyah. Kita melakukan napak tilas proses sejarah kehidupan nabi terdahulu, terutama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Melalui khutbah ini mari kita mantapkan komitmen dan kesungguhan kita dalam menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Kita jalankan segala hal yang diperintah oleh Allah (المَأْمُوْرَاتُ ). Baik perintah-Nya berupa (الوَاجِبَاتُ) yakni hal-hal yang memang harus kita lakukan. Maupun perintah yang bersifat (المَنْدُوْبَات) yakni yang perkara-perkara dianjurkan untuk mengerjakannya.

Baca Juga: Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba

Serta kita tinggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah (المَنْهْيَات). Baik larangan yang memang harus ditinggalkan, maupun hal-hal yang sebaiknya ditinggalkan, yakni al-makruhat (dimakruhkan). Hal tersebut menjadi modal bagi kita untuk mendapatkan kehidupan yang hakiki di dunia dan akhirat.

Insya Allah, jika kita melakukannya, maka memperoleh kebahagiaan dalam dunia dan akhirat, seperti yang dijanjikan oleh Allah. Komitmen dan kesungguhan kita dalam menjaga keimanan adalah indikasi dan pertanda bahwa kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya, baik dalam kehidupan dunia ini termasuk nanti dalam kehidupan akhirat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Agama ini memberikan tuntunan kepada kita dengan syariat, agar manusia terus berada dalam kebaikan dan kemanusiaan yang sesungguhnya. Manusia ini dengan segala fitrahnya memiliki hal-hal berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Oleh karena itu, ada sekian syariat dalam agama untuk menjaga, memelihara, dan membangun kemanusiaan yang ada dalam diri setiap manusia ini.

Baca Juga: Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa

Allah mensyariatkan berbagai macam bentuk ibadah. Ibadah itu sesuatu yang bersifat masyru’iyyah. Artinya ibadah tersebut ada aturan dan ketentuan yang diberikan agama terhadap apa yang mestinya dilakukan oleh manusia, baik bersifat langsung (nash) maupun bersifat tidak langsung (ijtihadi). Setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah itu bisa berbeda fadilah serta keutamaannya. Ada yang menempel pada zat ibadah itu sendiri, ada yang menempel pada waktu, ada juga yang terikat dengan tempat, yang menempel pada tempat itu ibadah Haji.

Keistimewaan ibadah Haji yang diberikan oleh Allah itu pada tempat di mana dilakukan ibadah tersebut. Oleh sebab itu, ibadah haji ini bersifat badaniyyah. Kita melakukan napak tilas proses sejarah kehidupan nabi terdahulu, terutama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Sehingga Allah memerintahkan kita untuk datang ke sana. Berbeda dengan ibadah yang memiliki kemuliaannya menempel pada waktu, maka kita dapat melakukan ibadah tersebut di manapun kita berada. Seperti ibadah tahajud, shalat Duha, puasa bulan Ramadhan.

Pada haji Allah menunjukkan kawasan tertentu dalam tanah Arab, yakni Makkah dan Madinah sebagai tanah Haram. Tanah yang diberikan proteksi hukum secara khusus, sehingga memiliki perbedaan disbanding wilayah-wilayah di luar tanah Haram. Di antara yang paling bis akita adalah larangan memasuki tanah Haram kepada orang-orang non-muslim.

Begitupula aspek-aspek lain seperti memotong pepohonan, berburu binatang, entah dalam keadaan ihram atau tidak. Allah memproteksi wilayah tersebut. Allah memberikan kemuliaan pada Ka’bah karena tempat, pun bagian-bagian dari Ka’bah juga diberikan kemuliaan khusus oleh Allah. Seperti Multazam, sebuah tempat yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Baca Juga: Kejahatan Kuat Bukan Sebab Hebat, Melainkan Karena Kebaikan Bungkam

Di tempat itu Allah memberikan satu kondisi yang berbeda dengan tempat yang lain, karena di tempat itu doa bernilai mustajabah. Itu semua adalah kehendak Allah. Ketika Allah menghendaki sebuah batu yang disebut Hajar Aswad itu mulia, maka dia akan menjadi mulia.

Sehingga ketika Sayyidina Umar hendak mencium Hajar Aswad, ia melakukan sedikit protes, “Saya tahu bahwa kamu ini batu. Andaikata saya tidak pernah melihat Rasulullah mencium kamu, maka aku tidak akan pernah mencium kamu.” Artinya sesuatu akan menjadi mulia ketika Allah menunjuk dan memilih sesuatu tersebut. Manusia atau tempat yang dikehendaki oleh kemuliaan, maka hal tersebut akan menjadi mulia.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Setiap ibadah itu pasti memiliki punya dua ha; dimensi formal yang bersifat jasadiyyah. Ada sesuatu yang berbentuk syarat dan rukun sebagai standar keabsahan sebuah ibadah. Tetapi di luar dimensi yang bersifat jasadiyyah terdapat sesuatu yang bersifat ruhaniyyah (subtansial). Haji yang sah belum tentu secara subtansi dinilai baik oleh Allah. Sehingga ada istilah Haji Mabrur.

Mabrur berarti tidak hanya bentuk pemenuhan pada keabsahan ibadah itu sendiri, sekaligus pemenuhan terhadap subtansi haji itu sendiri. Ketika Nabi ditanya tentang haji mabrur, Rasulullah menjawab, “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibbu linafsih.” Mabrur diterangkan oleh Nabi itu bukan terkait dengan keabsahan saja. Akan tetapi sekaligus bagaimana cara agar seseorang yang beribadah haji itu menjaga dirinya dari segala hal yang menyebabkan kemabruran haji itu terluka.

Ketika seseorang yang berhaji itu sudah dapat membangun cinta dalam kehidupannya, mencintai kepada sesama seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri. Maka itulah sesungguhnya nilai kemabruran sebuah haji. Ibadah haji tidak perlu bercampur dengan pemaksaan kehendak kita yang menyebabkan bentuk menyakiti orang lain.

Baca Juga: 6 Nasihat untuk Orang yang Berwudhu

Justru ketika mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri kita, tentu ini yang paling baik. Misalkan sikap mengalah untuk membiarkan orang lain mencium Hajar Aswad. Sehingga standar haji mabrur adalah wa la rafasa, wa fusuqa, wa la jidal, semua ukuran yang menjadi standar kemabruran ibadah haji adalah terkait kehidupan sosial.

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk terus menyempurnakan ibadah kita, termasuk umat muslim yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji, termasuk pemerintah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang

Ditranskip: Yuniar Indra Yahya

Editor: Rara Zarary