Masuki Magang Tahap Kedua, Calon Pembina Santri Tebuireng Diminta Amalkan Lima Prinsip Dasar

69
Momentum pengabdian kader calon pembina santri Pesantren Tebuireng Angkatan 22 memasuki babak baru dengan dimulainya uji coba magang tahap kedua, Ahad (19/4/2026). Foto: Fatih

Tebuireng.online- Momentum pengabdian kader calon pembina santri Pesantren Tebuireng Angkatan 22 memasuki babak baru dengan dimulainya uji coba magang tahap kedua, Ahad (19/4/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Pengurus Pesantren Tebuireng ini menjadi ajang implementasi teori yang telah didapatkan selama masa pelatihan.

Sebanyak 28 kader calon pembina akan disebar ke berbagai unit pendidikan di lingkungan Pesantren Tebuireng, meliputi tingkat SMP, MTs, MA, SMA, SMK, hingga Madrasah Mu’allimin. Pembagian lokasi magang ini turut disaksikan oleh Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, Wakil Kepala Pondok, serta para asatid koordinator unit.

Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, Ustadz Slamet Habib, S.Ag, dalam arahannya berpesan agar para kader benar-benar mengamalkan ilmu yang telah diperoleh di Balai Diklat. Ia menekankan bahwa inti dari pengabdian di Tebuireng terletak pada penerapan Lima Prinsip Dasar, yaitu ikhlas, jujur, bertanggung jawab, kerja keras, dan toleransi.

“Ini adalah momentum untuk berkhidmat kepada para santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Taatilah peraturan dan implementasikan Lima Prinsip Dasar Tebuireng, insyaallah hidup kalian akan barokah,” ujar Ustadz Slamet.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, Ustadz Machmudz, memberikan peringatan keras agar Lima Prinsip Dasar tersebut tidak hanya menjadi hafalan lisan, melainkan benar-benar dipraktikkan sebagai pedoman hidup. Ia meminta para pembina memiliki dedikasi tinggi dan tidak bekerja hanya sebatas menggugurkan kewajiban formal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Mengucapkan Lima Prinsip Dasar itu sangat mudah, namun jika tidak dipraktikkan, maka akan menjadi petaka. Jangan menjadi pembina yang hanya menggugurkan kewajiban. Ketika diberi tugas, lakukan yang terbaik dan saling menguatkan satu sama lain,” tegas Ustadz Machmudz.

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pembinaan bersifat kolektif. Setiap santri di seluruh unit Tebuireng merupakan tanggung jawab bersama, sehingga antar-pembina diharapkan tidak bersikap sektoral atau hanya fokus pada unit tugas masing-masing.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Koordinator Unit MTs, Ustadz Sulaeman. Pihak pengasuh dan pengurus berharap kader Angkatan 22 mampu membawa perubahan positif bagi pola pembinaan santri ke depan.


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Sutan