Halal Bihalal, Kenang Visi Gus Sholah terkait Modernisasi Unhasy Melalui Penguasaan Teknologi dan Ekonomi

31
Suasana halal bi halal seluruh jajaran civitas akademik Unhasy (foto: albii)

Tebuireng.online— Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) menyelenggarakan kegiatan Halal bihalal yang dihadiri oleh jajaran Pimpinan Yayasan Hasyim Asy’ari, Rektor, Dekan, Kaprodi, para dosen, serta tenaga kependidikan. Momentum silaturahmi dalam rangka Idulfitri 1447 H ini digelar di lobi Gedung C Unhasy pada Sabtu (4/4/2026).

Dalam sambutannya, Rektor Unhasy, Prof. Haris Supratno, berharap seluruh civitas akademika dapat kembali fitri. Ia juga menekankan pentingnya mempertahankan kualitas institusi melalui penguatan akreditasi.

Perwakilan Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Dr. H. Muhsin, S.Hum., M.Pd., memaparkan sejarah panjang berdirinya perguruan tinggi ini. Ia mengenang kondisi Indonesia pada September 1965, di mana ketenangan masyarakat terusik oleh gerakan G30S/PKI yang berupaya menggeser paham keagamaan menjadi ateisme.

Peristiwa tersebut menjadi beban pikiran para ulama, khususnya di Jawa Timur. Pertemuan-pertemuan intensif dilakukan di Pesantren Tebuireng dan berbagai pesantren besar lainnya untuk membentengi umat. Salah satu langkah strategis yang muncul adalah mendirikan perguruan tinggi.

Rektor Unhasy saat memberi sambutan dalan acara halal bihalal di Unhasy (foto: albii)

“Jadi, perguruan tinggi ini didirikan oleh pesantren-pesantren untuk menjernihkan perjuangan Islam, agar mereka memiliki semangat mempertahankan agama. Jangan sampai agama itu hanya di lisan saja, tidak masuk di hati nurani saat itu,” terang Dr. H. Muhsin.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Unhasy akhirnya berdiri pada tahun 1967 dengan Fakultas Syariah sebagai fakultas pertama. Dr. Muhsin menjelaskan bahwa saat itu ada stigma bahwa agama hanya urusan ibadah ritual seperti salat dan zakat, sementara sektor ekonomi dan teknologi dianggap urusan luar. Akibatnya, posisi penting negara jarang diduduki oleh umat Islam yang memiliki akidah kuat.

“Yang saya maksud orang tidak punya akidah kuat adalah dia Islam, tapi Islamnya hanya rukun pertama syahadat la sholata wala zakata, ujuk-ujuk haji. Sekarang itu banyak. Itu yang menjadi pikiran para ulama, bagaimana perkembangan Indonesia nanti dapat dipegang umat Islam,” katanya.

Memasuki era 1980-an, mahasiswa Muslim mulai merambah ke berbagai bidang seperti kedokteran, militer, teknik, hingga ekonomi. Unhasy pun merespons perubahan zaman ini secara progresif, terutama di bawah kepemimpinan almarhum Dr. (H.C.) Ir. KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Dr. H. Muhsin, S.Hum., M.Ag., menerangkan bahwa Gus Sholah saat menjabat sebagai rektor memiliki peran penting dalam membawa Unhasy mengikuti perkembangan zaman. Melalui diskusi intensif bersama Prof. Haris Supratno (yang kala itu menjabat wakil Rektor 1), Gus Sholah merumuskan arah pengembangan fakultas umum di Unhasy.

“Begitu Gus Sholah menjadi Rektor dan Prof. Haris jadi wakil Rektor 1, mereka rapat. Bagaimana Unhasy mengikuti perkembangan zaman, agar teknologi di sekitar dapat ditangani oleh mahasiswa mereka sendiri,” terangnya.

Visi tersebut diwujudkan dengan berdirinya Fakultas Teknologi Informasi serta Fakultas Ekonomi. Langkah ini bertujuan agar umat Islam tidak tertinggal dalam penguasaan data serta memiliki kemandirian ekonomi.

“Punya Fakultas Informatika agar informatikanya lengkap tidak ketinggalan zaman, punya Fakultas Ekonomi supaya orang Islam kaya. Betul terlaksana,” Tambahnya.



Pewarta: Ilvi Mariana

Editor: Rara Zarary