
Khutbah oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag.
Harus diakui secara jujur bahwa syariat Islam itu sudah pasti benar. Akan tetapi budaya Arab dan perilaku orang Arab itu belum tentu benar.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (الاحقاف:15)
أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَیِّـَٔاتِهِمۡ فِیۤ أَصۡحَـٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِی كَانُوا۟ یُوعَدُونَ
Melanjutkan konsep Al-Quran tentang panduannya bagi orang yang sudah berusia 40 tahun. Ada enam panduan untuk bagi mereka yang telah berusia 40 tahun. Dalam hal ini kita akan membahas panduan yang ketiga, yakni وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (semoga amal saya diridai Allah). Seorang mukmin itu dituntut harus beramal saleh yang disukai oleh Allah. Karena tidak semua amal saleh itu disukai oleh Allah.
Baca Juga: Kejahatan Kuat Bukan Sebab Hebat, Melainkan Karena Kebaikan Bungkam
Kemungkaran di atas bumi ini bukan karena kebatilan tersebut yang kuat. Pejabat korup yang begitu banyak, atau kerusakan-kerusakan lain, bukan karena kebatilan itu kuat, melainkan karena orang-orang saleh itu diam. Ada kerusuhan di sebuah daerah bukan karena kejahatan kuat, tetapi kebenaran itu yang diam tidak ada pergerakan. Sehingga kita perlu mematuhi ajaran Al-Qur’an. Jangan sampai ada kerusakan di bumi yang sudah begitu sempurna untuk kemaslahatan manusia, jangan sampai kehidupan bumi ini kacau hanya karena keegoisan sebuah etnis saja.
Oleh karena itu, ada kewajiban menjaga bumi ini. Ini merupakan pesan yang sudah ada sejak kitab Taurat dulu. Mereka yang berbuat kerusakan di bumi ini ibarat qatala al-nasa jami’an (membunuh semuah umat manusia). Kemudian dipertegas oleh ayat berikutnya,
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, [Maidah: 33]
Baca Juga: Awas Terlena! Inilah Alasan Mengapa Banyak Orang Lalai di Bulan Sya’ban
Bahsul Masa’il sudah banyak dilakukan, sementara fikih-fikih sosial yang bersifat kemaslahatan umum kurang mendapat perhatian. Mohon maaf, orang kafir yang tidak punya pesantren dan tidak punya agama saja berani menghukum mati para koruptor. Pemerintahan RRC ini bisa dikatakan pemeritahan Islami, meskipun bukan negara Islam. Bagaimana Bahsul Masa’il tentang orang-orang yang merusak lingkungan?
Coba lihat ayat tentang mereka yang merusak bumi. Masukkan saja mereka ke ayat tersebut, sehingga mereka boleh saja dihukum potong tangan, atau dibunuh. Mungkin mereka merasa memberi kemanfaatan, akan tetapi hanya kepada segelintir orang. Sementara misal; banjir yang terjadi memberi keburukan kepada banyak orang. Daripada membunuh banyak orang, lebih baik kita bunuh segelintir orang-orang perusak bumi itu.
Di samping itu banyak orang yang menilai bahwa dengan membawa Al-Qur’an sebagai pedoman kenegaraan merupakan arabisasi dan lain sebagainya. Ini bagi saya merupakan diskriminasi etnis. Coba kita melihat fakta bahwa kebanyakan warga negara Indonesia saat ini bernama Arab. Apakah hal tersebut bentuk penjajahan bangsa Arab kepada Jawa?
Baca Juga: 6 Nasihat untuk Orang yang Berwudhu
Harus diakui secara jujur bahwa syariat Islam itu sudah pasti benar. Akan tetapi budaya Arab dan perilaku orang Arab itu belum tentu benar. Perhatikan baik-baik bagaimana kemampuan orang Arab yang mempunyai falsafah pasir yang punya pendirian kuat. Ketika mereka sudah tercerahkan, maka tidak mau kembali lagi. Begitu mereka sudah Islam, orang Arab itu tidak mau mengenang Kembali budaya-budaya orang terdahulu. Siapa yang tidak tahu betapa besar jasa Abu Lahab. Tapi coba cari apakah ada Universitas Abu Labah? Tidak ada. Kita lihat di Indonesia, Universitas Gajah Mada. Bagi saya nama Gajah Mada ini tidak begitu baik untuk dikenang.
Jadi, hal-hal begitu tidak perlu diperbesar. Tidak ada keunggulan Arab di atas non-Arab, atau non-Arab di atas Arab. Semua menjadi satu, siapa yang bertakwa, siapa yang beramal salih itu lah yang mulia di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ditranskrip oleh: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary


















