6 Nasihat untuk Orang yang Berwudhu

454
Ustadz Ainur Rofiq, menjadi khotib Jumat di Pesantren Tebuireng

Khutbah Jumat oleh: Ustadz Ainur Rofiq

Taubat tidak harus menunggu kita bersalah. Karena kesalahan itu bisa jadi timbul sedangkan kita tidak menyadarinya.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه وخَلِيْلُه وصَفِيُّه بَلغُ الرِسِالَة وأدى الأمَانَة ونصح الأُمَّة وكَشَف الله به الغُمّة

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Marilah kita isi kehidupan kita ini dengan kualitas takwa yang sebenar-benarnya, serta memperbaiki amal dan mencegah diri dari segala sesuatu yang dilarang. Kita diwajibkan oleh syariat untuk melakukan shalat lima waktu setiap hari. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan shalat agar diterima oleh Allah, sekaligus berfaidah bagi kehidupan ini. Sebab shalat jika dilakukan dengan benar, maka seseorang akan mendapat faidah luar biasa di dunia hingga akhirat. Namun tidak jarang di antara kita bahwa shalat yang kita laksanakan ini hanya sebatas pengguguran kewajiban saja.

Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Makna Shalat sebagai Pembersih Hati

Dalam hal ini ada sebuah cerita yang bisa kita ambil untuk suri tauladan. Yakni ulama’ sufi yang bernama Hatim Al-‘Asham. Ketika usai menyelesaikan pengajian di majlis taklimnya, ia ditanya oleh muridnya yang ahli fikih bernama ‘Ashim ibn Yusuf, “Bagaimana engkau melaksanakan shalat?”. Lalu Hatim Al-‘Asham menjawab, “Ketika masuk waktu shalat, saya melakukan dua kali wudhu, yang pertama wudhu zahir, kedua adalah wudhu batin.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Seketika itu ‘Ashim bingung, bagaimana mungkin seorang melakukan dua wudhu. “Wudhu zahir itu membersihkan hadas dengan air. Sementara wudhu batin tidaklah menggunakan air. Wudhu batin dalam bentuk pencucian hati dengan, pertama, penyesalan karena telah melakukan kesalahan atau penyesalahan lantaran tidak segera melakukan kebaikan.”

Sikap menyesal karena tidak melakukan kebaikan ini pernah dilakukan oleh Sayydina Umar RA. Sayyidina Umar RA pernah mempunyai tanah luas di daerah Madinah. Kemudian beliau menanaminya dengan kurma. Kurma tersebut tumbuh subur, berbuah lebat dan manis. Bahkan dalam kebunnnya ada sumur yang memiliki banyak air. Sehingga bisa dibayangkan betapa bangga Sayyidina Umar RA terhadap kebunnya. Pada suatu hari ketika beliau keluar dari kebun melihat para sahabat yang berjalan bersama, seraya bertanya, “Wahai para sahabat, dari mana gerangan?”

Baca Juga: Awas Terlena! Inilah Alasan Mengapa Banyak Orang Lalai di Bulan Sya’ban

Lalu para sahabat menjawab, “Kami lepas berjamaah shalat Asar wahai Umar.” Mendengar jawaban tersebut seketika Sayyidina Umar RA mengucap, “Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.” Beliau menapaki rasa penyesalan yang luar biasa sebab telah meninggalkan shalat jamaah, sementara ia lebih memilih mengelilingi kebun yang dibanggakan. “Wahai para sahabat, saksikanlah. Karena kebun ini, saya telah meninggalkan jamaah shalat Asar. Oleh karena itu, saya akan menginfakkan kebun ini kepada fakir miskin.” Lanjut Sayyidina Umar dengan rasa penyesalan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Yang kedua, hati ini dicuci dengan taubat nasuhah. Taubat tidak harus menunggu kita bersalah. Karena kesalahan itu bisa jadi timbul sedangkan kita tidak menyadarinya. Lalu yang ketiga, hati ini harus disucikan dari rasa hasad. Hasad ibarat sebuah penyakit yang sangat parah hingga menggerogoti amal manusia.

Selanjutnya yang keempat, menjauhi kedengkian. Terkadang kita tidak sadar lantaran rasa dengki terhadap sesama. Kedengkian ini bisa menyeret seseorang terhadap permusuhan. Kelima, jauhkan dirimu daripada senang dipuji orang lain. Sebab hal tersebut bisa membawa seseorang terhadap kekufuran yang dimulai dari rasa takabur. Keenam, jauhkan diri dari hubbu dunya. Sebab suka dunia merupakan pokok dari segala aktivitas dosa.

Baca Juga: Hidup Selalu Berubah, Tetapi Bekalnya Tetaplah Takwa

Demikianlah Hatim Al-‘Asham menjelaskan wudhu batin ini. Itu merupakan permulaan dari sebuah aktivitas shalat. Lalu Hatim menjelaskan, “Ketika shalat, saya seakan berdiri di hadapan Ka’bah. Sementara surga berada di kanan saya, dan neraka berada di sisi kiri saya, dan siratal mustaqim berada di telapak kaki saya, lalu malaikat Izrail di belakang saya.” Itulah sikap seorang mukmin.

Inilah yang disebut dengan qasrul amal (pendek angan). Seorang manusia yang memiliki angan-angan terbatas pada hakikatnya, terkadang memiliki angan-angan yang melebihi batas. Oleh karena itu, sebagai mukmin kita dapat mencontoh sikap Hatim Al-‘Ashim dalam mempersiapkan ibadah dan melaksanakannya.

Baca Juga: 5 Petunjuk yang Harus Dilalui oleh Setiap Manusia

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Ditranskrip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary