Pererat Silaturahmi, PP Modern Al-Fahd Palembang Kembali Kunjungi Pesantren Tebuireng

53
Pondok Pesantren Modern Al-Fahd Palembang melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Rabu (28/01/2026). Foto: Khalkir

Tebuireng.online- Pondok Pesantren Modern Al-Fahd Palembang kembali melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren Tebuireng pada Rabu (28/08/2026). Rombongan yang tiba dengan empat armada bus ini disambut hangat di Aula Gedung Yusuf Hasyim pada pukul 13.30-14.20 WIB. Sebanyak 172 peserta hadir dalam ziarah ini, yang terdiri dari 35 ustadz/ustadzah, tiga wali santri, dan para santri.

​Fierly Hidayat, S.E., selaku Ketua Harian Yayasan Islam Al-Fahd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ini merupakan kunjungan kedua mereka ke Tebuireng setelah studi banding perdana pada tahun 2022 silam.

​“Dari ilmu yang diberikan kami merasa cocok dengan ilmu yang disampaikan, sehingga ingin kembali ke Tebuireng,” jelasnya.

​Ia juga menceritakan betapa eratnya hubungan kedua lembaga ini, terutama saat Gus Fahmi berkunjung ke Palembang dan menyempatkan diri singgah di PP Modern Al-Fahd. “Yang mana PP Modern Al-Fahd memiliki rumah singgah ulama, beliau, istri dan anaknya menginapnya di rumah singgah ulama,” kenangnya.

​Lebih lanjut ia mengungkapkan tujuan utama rombongan adalah ziarah Walisongo. Meski telah mengunjungi delapan makam Sunan, rencana ke Sunan Muria terpaksa batal karena kendala teknis dari pihak berwenang. Fierly mengatakan bahwa terdapat makam tokoh-tokoh besar Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

​”Ada KH. Hasyim Asy’ari dan presiden kita KH. Abdurrahman Wahid,” ucapnya.

​Selain ziarah, Fierly berharap para santrinya mendapat suntikan nasihat. Ia mengaku sangat terkesan dengan ketakziman santri Tebuireng yang ia lihat melalui sebuah video. “Ketika kami melihat video Gus Fahmi keluar dari ngajar semua santri menunduk, itu sangat membekas di kami,” katanya.

​Menanggapi kunjungan tersebut, Gus Mughni selaku Mudir IV Pesantren Tebuireng, mengawali dengan pemaparan singkat sejarah berdirinya Tebuireng yang berawal dari pesantren salaf murni.

​”Awalnya tidak ada ilmu umum, karena putra beliau KH. Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur, memberikan masukan bahwa santri harus bisa ilmu agama dan ilmu umum,” jelas Gus Mughni.

​Beliau juga membagikan tiga kunci sukses bagi para santri, yakni istiqomah dalam belajar, ikhtiar melalui doa, dan tidak mengkhawatirkan masa depan.

​”Kalau mondok jangan mikir nanti jadi apa, atau memaksakan harus jadi ini itu.”

​Gus Mughni juga mengingatkan pentingnya kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Menurutnya, orang pintar yang sesungguhnya tidak akan pernah mengakui dirinya pintar.

​”Jangan merasa jadi orang pintar, karena orang pintar itu adalah orang yang merasa jodoh, bukan bodoh ya, tapi merasa bodoh. Sedangkan orang yang mengaku pintar, sebenarnya adalah yang bodoh. Karena orang yang sebenarnya pintar adalah orang yang merasa kurang terus,” tuturnya.

Ia pun berpesan agar ilmu yang didapat tidak disimpan sendiri, melainkan diamalkan sebagai amal jariyah.

​Rasa syukur juga diungkapkan oleh U. Ahmad Riyadi, Kepala Diniyah SD Plus Islam Al-Fahd. Ia merasa bahagia bisa bertemu langsung dengan pimpinan dan para santri Tebuireng.

​”Bagaimana tidak bahagia, karena bertemu orang-orang sholeh, ketemu para santri, itu sudah membuat hati kami terobati dari segala macam penyakit hati,” katanya saat diwawancarai.

​Ia merasa mendapatkan sentuhan rohani, terutama mengenai adab dan semangat perjuangan nasionalisme santri. Ia pun berharap silaturahmi ini terus berlanjut dan pihak Tebuireng berkenan berkunjung balik ke Palembang.

​“Harapannya bisa saling sinergi, saling silaturahmi, dimanapun dapat menjalin ukhuwah islamiyah,” pungkasnya.


Pewarta: Ilvi Mariana

Editor: Sutan