Gandeng Radar Jombang, MKKS SMP Swasta Jombang Gembleng 134 Siswa Jadi Jurnalis Muda

162
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kabupaten Jombang dengan Jawa Pos Radar Jombang menggelar pelatihan jurnalistik di Aula SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng, Senin (26/1/2026). Foto: Ilvi

Tebuireng.online – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kabupaten Jombang berkomitmen meningkatkan kompetensi literasi siswanya. Bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jombang, mereka menggelar pelatihan jurnalistik di Aula SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng, Senin (26/1/2026). Sebanyak 134 peserta dari berbagai SMP swasta se-Kabupaten Jombang tampak antusias mengikuti setiap sesi. Rojiful Mamduh, redaktur Jawa Pos Radar Jombang yang hadir sebagai pemateri, langsung mengajak peserta “terjun” membedah koran.

Sesi awal dimulai dengan analisis berita. Para siswa diminta membedah unsur 5W+1H atau ADIKSIMBA (Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana). Rojif menekankan bahwa struktur berita yang kuat sangat bergantung pada penempatan unsur-unsur tersebut.

“Idealnya sebuah berita menaruh 4W (what, when, where, dan who) pada paragraf pertama agar pembaca langsung mendapatkan inti informasi,” terang Rojif di depan ratusan siswa.

Tak hanya teori, siswa langsung ditantang praktik menulis dalam tiga tahap. Mulai dari menulis kegiatan sekolah, merangkum isi buku, hingga melaporkan jalannya pelatihan jurnalistik tersebut. Menariknya, Rojif menjanjikan apresiasi khusus bagi peserta yang paling tekun. Lima tulisan terbaik bakal dipilih untuk dimuat di koran Jawa Pos Radar Jombang edisi Rabu mendatang.

Rojif mengungkapkan, kemahiran menulis berbanding lurus dengan kebiasaan. Menurutnya, menulis bisa dimulai dari hal sederhana seperti buku harian atau refleksi mata pelajaran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Otak manusia akan mendeteksi apa yang kita tulis. Jika terbiasa menulis, otak akan terus terasah sehingga kemampuan menulis otomatis meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal pemberitaan, tapi juga strategi belajar. Dengan menulis, seseorang secara tidak langsung sedang “mengikat” ilmu agar tidak mudah terlupakan oleh memori otak.

Rojif juga memberikan tips teknis agar tulisan enak dibaca. Tulisan yang baik, menurutnya, adalah tulisan yang tidak membuat pembaca “kehabisan napas” karena kalimat yang terlalu panjang. Ia menuntut para jurnalis muda untuk berpikir kritis, cepat tanggap, dan konsisten.

“Sebelum membuat sesuatu, kita harus tahu apa yang akan dibuat. Maka tulislah apa yang kamu baca, kamu lihat, dan kamu dengar,” pungkas Rojif menutup pelatihan.


Pewarta: Helfi Livia Putri

Editor: Sutan