
Tebuireng.online- Tim Turats Pesantren Tebuireng kembali bersilaturahmi (sowan) kepada Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), pada Sabtu, 8 November 2025. Kunjungan ini bertujuan melaporkan perkembangan penelitian dan hasil penelusuran naskah-naskah peninggalan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
KH. Ahmad Roziqi, selaku koordinator tim, melaporkan bahwa sebagian kitab hasil tahqiq (verifikasi/penelitian naskah) telah dicetak secara terbatas sambil menunggu arahan Kiai Kikin untuk cetakan berikutnya. Tim juga menyampaikan telah terbit bunga rampai oleh Hasyimian.
Selain itu, perwakilan Aswaja Center Tebuireng, Ust. Malik juga menyampaikan capaian program yang kini telah menjangkau tingkat nasional.
“Pelatihan berbasis Adabul ‘Alim wal Muta’allim sudah berjalan hingga 13 angkatan. Kami juga mendapati bahwa masyarakat luar pesantren memiliki ketertarikan tinggi terhadap buku-buku dan kajian Aswaja,” ujar Pak Malik.
Dalam laporan lapangan, peneliti Ust. Viki melaporkan hasil penelusuran di Gresik yang menyimpan banyak data penting. Tim juga menemukan sejumlah catatan amalan seperti Ayat Kursi yang secara eksplisit dinisbatkan kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, diamalkan setiap pagi dan sore, serta disertai ziyādāt ta‘liqāt yang tersebar di berbagai daerah.
“Banyak wilayah yang memiliki naskah ziyādāt ta‘liqāt, kemungkinan karena saat itu teks-teks tersebut menjadi bagian dari semangat membela Nahdlatul Ulama,” jelas Ilham, salah satu peneliti.
Tim turats juga menemukan beberapa perbedaan versi antara cetakan lama dan baru dalam kitab Tibyān.
“Ketika kami sowan kepada Yai Junaidi dan Gus Jamil, kami menemukan ada bagian yang hilang di cetakan baru. Kemungkinan perbedaan ini muncul karena tidak adanya manuskrip asli,” ungkap Ust. Viki.
Menanggapi laporan tersebut, Kiai Kikin menegaskan pentingnya menjaga prinsip salaf dan sanad keilmuan dalam setiap pengembangan ilmu di pesantren.
“Dalam hal Aswaja, jangan sampai kita terbawa arus modernisasi. Salaf itu pondasi. Seperti layangan, talinya tetap tersambung ke sanad keilmuan,” pesan beliau.
Ketua PWNU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya membangun pemikiran keagamaan, tetapi juga struktur sosial Islam, seperti melalui gagasan Ordonansi Pernikahan dan pendirian MIAI (Majelis Islam A’laa Indonesia).
Pertemuan ini turut membahas rencana tahqiq kitab lanjutan, peluncuran hasil penelitian, dan pengembangan website Turats Tebuireng. KH. Abdul Hakim Machfudz menutup pertemuan dengan penegasan, “Kita sangat beruntung memiliki banyak literatur peninggalan Hadratussyaikh yang sanad keilmuannya jelas dan terjaga. Dunia kini menaruh perhatian kepada Tebuireng.”
Pertemuan diakhiri dengan doa bersama dan komitmen untuk terus menggali, men-tahqiq, dan menyebarkan keilmuan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Pewarta: Moch. Minahul Asna
Editor: Muh. Sutan


















