
Oleh: Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc. M.HI.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا لَانَبِيَّ بَعْدَ لَه الله اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان، وسلم تسليمًا اَمَّا بَعْدُ اُوْصِي نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengingatkan kita semua, betapa pentingnya membaca kitab Bidayatul Hidayah sebelum kita menyibukkan dengan aktivitas belajar yang lain. Yaitu salah satu kitab Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Sebab di antara ajaran Al-Ghazali adalah memberi tuntunan terhadap ilmu apa yang harus kita pelajari. Jawaban beliau adalah ilmu yang bermanfaat. Lalu apa itu ilmu yang bermanfaat? Banyak indikator-indikator ilmu yang bermanfaat, di antaranya yakni ma yazidu fi khoufika minallahi ta’ala. Sebuah ilmu yang bisa menambah rasa khauf (takut) dan khasyah (segan) kita kepada Allah SWT.
Baca Juga: Saat Mati Kita Ditanya Tentang Nabi Muhammad, Seberapa Kenal Kita Padanya?
Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Karena ilmu yang mewariskan rasa khaouf dan khasyah inilah yang akan membimbing kita dari hari ke hari untuk selalu taat dan patuh kepada Allah. Dalam Ihya’ Ulumuddin Hujjatul Islam Al-Ghazali menyebutkan satu riwayat:
من ازداد عِلمًا ولم يزدَدْ هدًى لم يزدَدْ من اللهِ إلَّا بُعدًا
Barang siapa yang bertambah ilmu, akan tetapi tidak bertambah hidayah, maka tiada lain hanya semakin jauh dari Allah.
Oleh karena itu, maka tidaklah heran bahwa sosok-sosok alim ulama’ dan para kiai yang kemudian memiliki rasa khasyah kepada Allah merupakan panutan sebenarnya. Kalau kita melihat Allah berfirman:
إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ
“Hanya para ulama dari pada hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya.”
Baca Juga: Mukmin Harus Berhati-hati, Fitnah Ada di Mana-mana
Hadirin Jamaah Shalat Jum’at Rahimakumullah
Kalau kita melihat kitab Adabul Alim wal Muta’allim, maka tampak nyata betapa jenius Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari menggandengkan ayat di atas dengan ayat:
إِنَّ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ خَیۡرُ ٱلۡبَرِیَّةِ (7) جَزَاۤؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّـٰتُ عَدۡنࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ رَّضِیَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُۚ ذَ ٰلِكَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّهُۥ (8)
Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Menggandengkan dua ayat ini. Dua ayat di atas adalah gambaran orang-orang yang terbaik yaitu mereka yang memiliki rasa takut (khasyah) kepada Allah. Sehingga kata Hadratussyaikh: Fayuntiju annal Ulama’ Khoirul Bariyyah (maka ulama’ adalah umat terbaik). Sehingga pantaslah kalau kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
Para ulama’ adalah pewaris para nabi
Lalu pertanyaannya kemudian siapa kita di antara para ulama’?
Sayyidina Ali RA dalam satu riwayat mengatakan:
أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِى حَرْفًا وَاحِدًا: إِنْ شَآءَ بَاعَ وَإِنْ شَآءَ أَعْتَقَ وَإِنْ شَآءَ اِسْتَرَقَّ
Kalau hari ini pesantren dikritik dengan perbudakan. Maka saya sangat bangga menjadi budak para masyayikh, kiai, dan ulama’. Terutama para guru yang mengajarkan ilmu yang membimbing jalan akhirat kita. Karena kita sudah diajari oleh mereka banyak ilmu melalui Al-Qur’an dan Hadis, maka kita diajari oleh Adabul Alim wal Muta’allim agar memandang guru dengan al-ijlal wa al-ta’dhim. Bahkan Kiai Hasyim mengecam orang-orang yang tidak meyakini akan kemuliaan gurunya.
Baca Juga: Satu Cara Agar Mudah Dikenal Allah
مَن لا يَعتَقِد جَلَالَةَ شَيخِهِ لَا يُفلِحُ
Barang siapa yang tidak meyakini kemuliaan gurunya, maka tidak akan bahagia
Kita bangga atas hormat dan takzim kepada guru-guru kita. Karena itulah bagian dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Pantaskah kita tidak memiliki sopan santun kepada mereka? Kita patut bangga dididik di lembaga pondok pesantren yang mengajarkan rasa khasyah kepada anak didiknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ditranskip oleh: Yuniar Indra Yahya


















