
Tebuireng.online— Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam menjaga nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus modernisasi. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Seminar Nasional yang digelar bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Jumat pagi (17/10).
Dalam sambutannya, KH. Abdul Hakim menyampaikan bahwa kehidupan manusia saat ini dipengaruhi oleh berbagai aspek yang terus berkembang, sehingga pesantren harus tetap fokus dalam membina para santri.
“Kami memiliki lebih dari 6.100 santri di Tebuireng dan 20 cabang pesantren. Ini merupakan tanggung jawab besar dalam membentuk tokoh-tokoh masa depan,” ujarnya.
Baca Juga: PWNU dan BNN Gelar Seminar Nasional Tekankan Nilai Ekonomi Produktif dan Hidup Sehat
Ia menekankan bahwa kerja sama dengan berbagai pihak seperti BNN sangat penting dalam menjawab tantangan zaman. Program-program yang diinisiasi BNN dapat disinergikan dengan misi pesantren, khususnya dalam membentengi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba.
KH. Abdul Hakim menegaskan bahwa pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya pesantren salaf yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), memiliki prinsip kuat dalam menjaga warisan ajaran Rasulullah SAW. Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan zaman.
“Yang lama kita jaga karena itu baik, dan yang baru kita ambil jika membawa kebaikan. Kami di Tebuireng menjaga sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW, tapi juga terbuka terhadap kemajuan teknologi dan perubahan sosial,” jelasnya.
Baca Juga: PW LPNU Jatim Gandeng BNN: Santri Tebuireng Didorong Jadi Pelopor Anti Narkoba dan Ekonomi Produktif
Menurutnya, dalam menghadapi pusaran modernisasi, banyak persimpangan yang bisa menyesatkan. Oleh karena itu, penguasaan ilmu agama sangat ditekankan agar para santri tidak salah memilih jalan.
Cucu Hadratusyaikh itu juga menanggapi isu-isu yang muncul belakangan terkait metode pendidikan di pesantren, termasuk adanya anggapan bahwa santri “diperlakukan seperti di zaman kolonial.” Ia menilai hal tersebut merupakan bentuk ketidaktahuan terhadap tradisi pendidikan pesantren yang sarat nilai.
“Yang kami lakukan bukan merendahkan mental santri, tapi menanamkan nilai tawadhu. Ego yang diturunkan akan memudahkan aliran ilmu masuk ke hati. Ini bukan hal aneh, melainkan proses yang telah berjalan sejak dahulu,” terangnya.
Menurutnya, tradisi seperti menghormati guru atau kiai tidak boleh disalahartikan sebagai praktik merendahkan martabat. “Kami tidak mengajarkan mencium kaki atau tindakan ekstrem. Tapi kami ajarkan adab. Ini bagian dari proses pendidikan akhlak,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua LPNU Jatim Ungkap Alasan Gandeng BNN RI
Gus kikin juga mengapresiasi kolaborasi dengan BNN dalam penyelenggaraan seminar ini. Ia menyebut, sinergi ini penting untuk menyamakan pandangan antara pesantren dan lembaga negara dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk bahaya narkoba dan degradasi moral.
“Acara seperti ini sangat penting untuk memperkuat langkah bersama. Kita tidak boleh kehilangan arah dalam modernisasi. Pesantren dan BNN memiliki tugas yang sama: menjaga generasi muda dari penyimpangan,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary


















